Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan uji coba pekerjaan pelapisan ulang perkerasan Jalan dengan aspal karet alam, di jalan Lido Sukabumi, Kamis (1/12/2016). Ujicoba dilakukan pada jalan sepanjang 4,2 km, lebar 10,5 m dengan kurang lebih pengerjaan 60 hari kerja.
Ujicoba penggunaan aspal karet alam dihadiri oleh Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, Arie Setiadi Moerwanto, yang menyatakan akan berkomitmen memanfaatkan aspal karet alam dalam pekerjaan pembangunan jalan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR.
“Semoga dengan dihadirkannya teknologi aspal karet alam oleh Puslitbang Jalan dan Jembatan, Badan Litbang, Kementerian PUPR ini kesejahteraan petani karet dapat meningkat kembali,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (2/12/2016).
Sementara itu Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Balitbang Kementerian PUPR, Herry Vaza mengatakan bahwa penelitian dan pengembangan karet alam di bidang jalan tersebut dilakukan oleh Pusjatan Balitbang Kementerian PUPR bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian dan Pusat Penelitian (Puslit) Karet Bogor. “Dari hasil pengembangan sementara ini sudah dapat dimanfaatkan aspal dengan kandungan karet alam sebesar 7 persen,” ujarnya.
Menurutnya, aspal karet alam dapat meningkatkan kualitas perkerasan aspal dalam hal usia layanan dan ketahanan terjadap alur.
Peneliti Puslitbang Jalan dan Jembatan, Anwar Yamin menjelaskan bahwa dengan teknologi ini dalam setiap ton campuran beraspal panas dapat dimanfaatkan kurang lebih 4,2 kilogram karet alam.
Dari sisi suplai, dukungan dari Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan diperlukan untuk memastikan suplai aspal karet alam untuk pembangunan dan pemeliharaan jalan dapat dipenuhi dan berkualitas.
Seperti diketahui bahwa Indonesia merupakan salah satu produsen karet alam terbesar di dunia. Setiap tahun produksi karet alam Indonesia mencapai 3,2 juta ton, dan 0,6 juta ton diantaranya dimanfaatkan industri dalam negeri, sementara 2,4 juta ton lainnya di ekspor ke mancanegara. Akibat menurunnya kondisi ekonomi dunia, permintaan ekspor karet alam dalam negeri menurun cukup signifikan sehingga harga karet alam jatuh dan yang membuat para petani karet merugi.
Untuk menghadapi permasalahan tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan nasional pemanfaatan karet alam oleh berbagai sektor, termasuk salah satunya pemanfaatan karet alam dalam pembangunan infrastruktur PUPR agar harga karet kembali membaik.
Baca Juga: Jokowi Ingin Renovasi GBK Perkuat Ruang Terbuka Hijau
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
- 4 Zodiak Paling Beruntung pada 27 Juni 2026, Siap-siap Jadi Magnet Uang
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
Pilihan
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
Terkini
-
Susah Cari Beras? Ini Penyebab Rak Retail Modern Mulai Kosong
-
Dirut Bulog Hadiri Pengukuhan Profesor Kehormatan Anggota VII BPK RI
-
Buruh Kena Pajak Dobel, Said Iqbal Usul 'Potongan' Pencairan JHT Dihapus
-
Heboh Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris, Ini Daftar Pemegang Saham Krakatau Posco
-
Daftar 24 Wamen Rangkap Jabatan di BUMN, Viral Sorotan 'Orang Dekat' Jadi Komisaris
-
Kabar 60.000 Calon Mahasiswa Mundur, Imbas Biaya Kuliah Mahal?
-
Harga Beras Makin Mahal, Program SPHP Pemerintah Tidak Efektif?
-
Krakatau Posco Milik Siapa, Apakah BUMN? Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris
-
Harga Emas Antam Terus Melemah dalam Sepekan, Buyback Anjlok Lebih Dalam
-
Harga Beras Naik saat Cadangan Pemerintah Cetak Rekor Terbesar, Kok Bisa?