Suara.com - Direktur Eksekutif Center of Reform on oconomics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan pemerintah harus memiliki solusi terhadap tingginya harga tiket pesawat.
Ia mengatakan, mahalnya tiket pesawat secara signifikan berpengaruh terhadap pertumbuhan sektor pariwisata yang menjadi program unggulan untuk mendongkrak naik perekonomian nasional.
"Kalau pemerintah Ingin menjadikan pariwisata prioritas, maka harus ada solusi terhadap harga tiket pesawat yang tinggi. Menggunakan kebijakan fiskal dan non fiskal ke travel agen untuk menstimulasi permintaannya," ujar Faisal, Selasa (30/7/2019).
Faisal menerangkan, volume penerbangan di wilayah Indonesia cukup besar, sehingga maskapai dinilai sudah untung tanpa menerapkan harga hingga tarif batas atas (TBA).
Kemudian, Faisal menegaskan pemerintah lebih memperhatikan pelayanan bandara, seperti komponen suku cadang yang diimpor supaya lebih bisa ditekan. Kemudian ia meminta kepada pemerintah untuk rute penerbangan yang sepi peminat untuk diperhatikan.
Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung pada Mei 2019 sebanyak 1,26 juta kunjungan. Angka itu turun 3,74 persen jika dibandingkan April 2018 sebanyak 1,30 juta kunjungan.
Kepala BPS Suhariyanto menerangkan, kunjungan wisman masih didominasi dari pintu masuk udara sebesar 713,88 ribu kunjungan.
Sedangkan pintu masuk wisman lainnya melewati laut sebesar 337,41 ribu kunjungan, dan darat sebanyak 205,04 ribu kunjungan.
"Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia yang datang melalui pintu masuk udara pada Mei 2019 alami penurunan sebesar 11,37 persen dibanding jumlah kunjungan periode yang sama tahun lalu," kata Suhariyanto di Kantor BPS Pusat, Jakarta, Senin (10/6/2019).
Baca Juga: Tiket Pesawat Jadi Murah Keselamatan Penumpang Terancam?
Berita Terkait
-
Target Pertumbuhan Ekonomi Tercapai Jika Jokowi Tak Salah Pilih Menteri
-
3 Ponsel Murah Samsung, Cuma Rp 1 Jutaan
-
Sriwijaya Air Belum Mau Turunkan Harga Tiket Pesawatnya
-
Pengamat Penerbangan: Penurunan Tarif LCC Tak Mengikat Secara Hukum
-
Tarif Pesawat, Pemerintah Diminta Cari Alternatif Selain Diskon 50 Persen
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Purbaya Klaim Program MBG hingga Kopdes Merah Putih Mulai Dorong Pertumbuhan Ekonomi
-
Bukan Cuma di Indonesia, MSCI Juga Bersih-bersih Indeks yang Berdampak ke Bursa Negara Lain
-
LPDB Koperasi Hadir di Pontianak, Dorong UMKM dan Koperasi Naik Kelas
-
BI Jamin Uang Palsu Kini Lebih Mudah Dideteksi, Ini Ciri-cirinya
-
Solar yang Tersedia di SPBU Shell Berasal dari Pertamina
-
Pelemahan Rupiah Belum Beri Dampak pada Harga Pangan
-
Perhatian! CNG Bukan Pengganti LPG 3 KG
-
Ancaman Phishing Makin Brutal, Investor Mulai Pilih Sekuritas dengan Proteksi
-
OJK Optimistis Banyak Emiten Indonesia Akan Masuk Index MSCI
-
Pemerintah Gaspol Naikkan Kelas UMKM, Sertifikasi hingga HAKI Dipermudah