Suara.com - Harga minyak dunia turun pada perdagangan akhir pekan lalu. Tekanan harga ini setelah International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa pertumbuhan demand terancam dan produksinya melambat signifikan seiring lonjakan kasus virus corona di dunia memaksa penerapan lockdown kembali.
Mengutip CNBC, Senin (16/8/2021) minyak mentah Brent turun 21 sen atau 0,3 persen menjadi 71,10 dolar AS per barel, setelah turun 13 sen di sesi sebelumnya.
Sedangkan minyak mentah WTI turun 12 sen atau 0,2 persen menjadi 68,97 dolar AS per barel, setelah turun 0,2 persen pada hari Kamis.
"Perubahan tiba-tiba oleh IEA telah mengguncang saraf dan membatasi reli minyak, membawa pulang realitas dampak varian Delta," kata Jeffrey Halley, analis senior dari OANDA untuk Asia Pasifik.
Kenaikan permintaan minyak mentah terhenti pada bulan Juli dan akan meningkat pada kecepatan yang lebih lambat selama sisa tahun 2021 karena lonjakan infeksi varian Delta virus corona, kata IEA pada hari Kamis.
"Kami sekarang melihat pemulihan permintaan global terhenti bulan ini dengan permintaan minyak hanya mencapai 98,3 juta barel per hari (bph) pada Agustus dan rata-rata 97,9 juta barel per hari pada September, setara dengan rata-rata hampir 98 juta barel per hari pada Juli," papar tim riset JPM Commodities Research.
Demikian pula, Goldman Sachs telah mengurangi perkiraan defisit minyak global menjadi 1 juta barel per hari dari 2,3 juta barel per hari dalam jangka pendek karena permintaan akan menurun pada Agustus dan September.
Melihat di luar risiko jangka pendek varian virus Delta, kalangan investment banking masih memperkirakan pemulihan permintaan berlanjut seiring dengan meningkatnya tingkat vaksinasi.
Sebaliknya, OPEC pada hari Kamis mempertahankan perkiraan rebound permintaan minyak secara global tahun ini dan pertumbuhan lebih lanjut pada tahun 2022, terlepas dari meningkatnya kekhawatiran tentang lonjakan infeksi COVID-19.
Baca Juga: Kasus Covid-19 Masih Tinggi di Asia, Harga Minyak Turun
Dalam laporan bulanannya, Organisasi Negara Pengekspor Minyak ( OPEC ) juga menaikkan ekspektasi pasokan tahun depan, yang berpotensi mengganggu upaya OPEC dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC +, untuk mencapai keseimbangan di pasar.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
Terkini
-
Produksi Meroket, Mentan Amran Bidik Serapan Gabah 2026 Tembus 4 Juta Ton
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Rp1,2 Triliun Mengalir ke Aceh, Hasil Dasco Telepon Langsung Presiden Prabowo
-
Jumlah Investor Ritel BUMI Melejit saat Chengdong Lepas Miliaran Lembar Saham
-
Bisnis Darma Mangkuluhur, Cucu Soeharto Punya Saham Melimpah dan Gurita Usaha
-
24 Pinjol Terjerat Kredit Macet
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Menteri Bahlil Mau Swasembada BBM Lewat RDMP Kilang Balikpapan
-
Cek Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA Hari Ini