Suara.com - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum ke-76 PBB mengatakan bahwa dunia perlu mengubah pengelolaan sistem pangan untuk menghapus masalah kelaparan dan kesehatan global.
Guterres mengatakan dunia perlu mengubah cara membuat, memakan, dan membuang makanan. "Perang di planet kita harus berakhir dan sistem pangan dapat membantu kita membangun perdamaian itu," kata Guterres.
Dengan mencatat bahwa sistem pangan menciptakan sepertiga dari emisi gas rumah kaca, Guterres mengatakan bahwa mengikuti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDG) yang ditetapkan pada tahun 2015 dapat mengakhiri kelaparan dan kemiskinan sambil menciptakan kesehatan dan kemakmuran global.
Guterres pun menyerukan reformasi subsidi pertanian dan mengatakan bahwa pangan tidak boleh dilihat "hanya sebagai komoditas untuk diperdagangkan, tetapi sebagai hak yang dimiliki setiap orang."
Bank Dunia, Lembaga Penelitian Kebijakan Pangan Internasional, serta Koalisi Pangan dan Penggunaan Lahan menyusun rencana di sidang umum PBB untuk membuka peluang bisnis senilai US$4,5 triliun (Rp63 kuadriliun) dengan sistem pangan yang lebih adil.
Setelah Presiden AS Joe Biden mengumumkan dia akan menginvestasikan US$10 miliar (Rp140 triliun) untuk mengakhiri kelaparan awal pekan ini, Yayasan Bill Gates pada hari Kamis (23/09) juga berkomitmen akan menginvestasikan US$900 (Rp12,6 triliun) untuk mengakhiri masalah kekurangan gizi di seluruh dunia.
Pulau-pulau terancam tenggelam
Dalam sidang umum PBB kali ini, pemimpin dari negara-negara kepulauan kecil seperti Kepulauan Marshall dan Maladewa juga menyuarakan kekhawatiran mereka akan pemanasan global.
Menurut mereka, negara-negara kepulauan yang mereka pimpin dapat tenggelam karena naiknya permukaan air laut oleh kenaikan suhu 2 derajat Celcius.
Baca Juga: Sekjen PBB Beri Pesan Menyentuh: Ini Hari Suram
"Kami bahkan tidak memiliki tempat yang lebih tinggi untuk tinggal," kata Presiden Kepulauan Marshall David Kabua kepada para pemimpin dunia dalam pidato yang direkam sebelumnya pada hari Rabu (22/09).
Sementara Presiden Maladewa Ibrahim Solih pada Selasa (22/09) menyebut bahwa "perbedaan antara 1,5 derajat dan 2 derajat adalah hukuman mati bagi Maladewa."
Konferensi iklim PBB COP26 bulan November mendatang di Glasgow sejatainya akan mencoba untuk mengejar tujuan Perjanjian Paris 2015 untuk mengurangi emisi global hingga setengahnya pada tahun 2030 dan mencapai netralitas karbon pada tahun 2050.
Namun, Presiden Guyana Irfaan Ali mengatakan pada hari Kamis (23/09) mengatakan bahwa negara pencemar besar tidak memenuhi janji mereka untuk mengurangi emisi.
Ali mengatakan "penipuan" dan "kegagalan" mereka akan "sedikit menguntungkan mereka untuk menjadi penguasa di dunia debu."
Seperti diketahui, emisi bahan bakar karbon menciptakan gas rumah kaca yang mengikis lapisan ozon, berkontribusi terhadap pemanasan global dan naiknya permukaan air laut saat es di kutub mencair.
Meski begitu, Amerika Serikat (AS) dan Cina telah menjanjikan lebih banyak uang untuk membantu negara lain mengurangi jejak karbon mereka.
Dalam Sidang Majellis Umum PBB yang akan berlangsung hingga 27 September mendatang ini, para pemimpin dunia juga menyatakan keprihatinan mereka bahwa memburuknya masalah lingkungan akan memicu konflik lebih lanjut di daerah-daerah dengan gesekan sosial politik mereka sendiri. rap/gtp (Reuters, AFP, AFP)
Tag
Berita Terkait
-
Menlu Sugiono Bertemu Sekjen PBB di New York, Bahas Krisis Palestina dan Board of Peace
-
Nepal Mencekam: 20 Tewas dan PM Mundur, Sekjen PBB Antonio Guterres Turun Tangan
-
Cek Fakta: Prabowo Usulkan Referendum di Aceh dan Papua Barat ke PBB, Benarkah ?
-
PBB Prihatin Serangan AS ke Reaktor Nuklir Iran: Ancaman Perdamaian Dunia
-
Murka Aksi Genosida Israel, PBB Serukan Gencatan Senjata Permanen: Seret Pelaku ke Pengadilan!
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- HP yang Awet Merek Apa? Ini 6 Rekomendasi Terbaik dengan Performa Kencang
Pilihan
-
Iran Bantah Klaim AS dan Israel: Ali Khamenei Masih Hidup!
-
Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
-
Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
-
Israel Klaim Ali Khamenei Tewas, Menlu Iran: Ayatollah Masih Hidup
-
Jenderal Iran: Trump Harus Tahu, Hari Ini Kami Baru Tembakkan Rudal Stok Lama
Terkini
-
Harga Emas Stabil di Pegadaian, Bertahan Kisaran 3 Jutaan pada 1 Maret 2026
-
Analis Prediksi Harga Minyak Awal Maret: Tidak Lagi Menyala, Namun Terbakar!
-
Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Diprediksi Naik Dua Kali Lipat!
-
Garda Revolusi Iran Disebut Tutup Selat Hormuz, Mengapa Dunia Harus Panik?
-
Target Pasar Global, Pertamina Bangun Ekosistem SAF Terverifikasi Internasional
-
Industri Kripto di Dalam Negeri Tumbuh Lebih Sehat Usai Bursa CFX Pangkas Biaya Transaksi
-
HPE Maret 2026: Harga Konsentrat Tembaga Turun, Emas Justru Menanjak
-
Alasan Dibalik Dibalik Rencana Stop Ekspor Timah
-
Harga Genteng Rp4.300 Per Unit, Transaksi Awal Program Gentengisasi di Jabar Capai Rp12,6 Miliar
-
BRI Bantu Biayai Program Gentengisasi lewat KUR Perumahan