Suara.com - Nilai tukar dolar AS turun drastis pada Kamis (21/10/2021) pagi lantaran sentimen risiko membaik dan investor fokus pada kenaikan harga-harga komoditas saat bank sentral global kemungkinan akan mulai menaikkan suku bunga.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,24 persen menjadi 93,57, menyusul penurunan 0,24 persen pada Selasa (19/10/2021).
Sementara, Bitcoin mencapai rekor tertinggi 67.017 dolar AS, sehari setelah ETF (exchange traded fund) Bitcoin berjangka pertama AS mulai diperdagangkan.
Greenback mencapai tertinggi satu tahun terhadap sekeranjang mata uang lainnya pekan lalu karena pelaku pasar meningkatkan taruhan bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan untuk memadamkan tekanan harga yang terus meningkat.
Namun demikian, taruhan itu telah memudar sementara investor memperkirakan kenaikan suku bunga yang lebih agresif di negara lain dan karena mata uang terkait komoditas termasuk dolar Kanada dan Australia berkinerja lebih baik.
"Ketika berbicara tentang bank sentral, ada banyak perkiraan agresif di luar sana," kata Bipan Rai, kepala strategi valas Amerika Utara di CIBC Capital Markets di Toronto.
“Ketika dukungan datang untuk mendorong, mengingat fundamental yang mendasari di Amerika Serikat, yang masih sangat konstruktif untuk pertumbuhan, kami pikir The Fed mungkin akan menjadi bank sentral yang menaikkan suku bunga selama tahun-tahun mendatang dengan sedikit kenaikan lebih agresif daripada yang diperkirakan pasar saat ini,” sambung Rai.
Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali pada akhir 2022.
Sebelumnya, Gubernur Fed Randal Quarles mengatakan bahwa sementara sudah waktunya bagi The Fed untuk mulai menghentikan program pembelian obligasi, akan terlalu dini untuk mulai menaikkan suku bunga dalam menghadapi inflasi tinggi yang kemungkinan akan surut tahun depan.
Baca Juga: Bitcoin Naik 35 Persen Dalam Sepekan, Pengusaha: Level Tertinggi Tiba Pada Oktober
Ahli strategi valas ING mengatakan dalam catatan klien bahwa penurunan dolar baru-baru ini dapat disebabkan oleh kombinasi pasar yang menutup posisi beli-dolar dan meningkatnya kewaspadaan inflasi.
"Pada tahap ini, sepertinya dolar kekurangan beberapa katalis untuk menahan koreksi yang sedang berlangsung, dan dukungan apa pun terhadap greenback mungkin perlu datang dari ketenangan dalam suasana risk-on baru-baru ini di pasar," kata ING.
Berita Terkait
-
Senator AS Minta Facebook Hentikan Proyek Mata Uang Kripto
-
Dolar AS Melemah, Harga Emas di Asia Menguat Doktrin Nilai Lindung
-
Hacker Gunakan Tinder Bobol iPhone, Mencuri Bitcoin Senilai Rp 19 Miliar
-
Sempat Ditolak, Warga El Savador Kini Rebutan Tukar Dolar AS Dengan Bitcoin
-
Viral Ayah Beri Kado Bitcoin Saat Anaknya Lahir 4 Tahun Lalu, Kini Untung 6500 Persen!
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- 6 Sepatu Puma Wanita yang Lagi Diskon 55 Persen di Toko Resmi, Ada Model Lari hingga Sneaker
Pilihan
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
Terkini
-
Perkuat GCG dan Efisiensi, Pengamat Apresiasi Tata Kelola BUMN
-
Danantara Sumberdaya Indonesia Beroperasi, Pemerintah Masih "Buta" Soal Target Kinerja
-
DSI Resmi Kelola Ekspor Mulai 1 Juni, Ada Bocoran Peran Dirjen Bea Cukai
-
Belajar dari 'TikTok', Rugi di Pasar Modal: Bahaya Investasi Berbasis Tren Media Sosial
-
Bisnis Gerai Minuman di Tengah Tekanan Ekonomi, Ada yang Tutup dan Berkembang
-
IHSG Ambles Tapi Aset Emiten Melesat Rp94 Triliun, Ini Penyebabnya
-
Harga CPO Anjlok Pertengahan Tahun 2026, Kemendag Ungkap Penyebabnya
-
Rincian Aturan Baru Pajak UMKM: CV, Firma, dan PT Baru Kehilangan Fasilitas PPh
-
Harga Pangan Kian Meroket: Cabai Merah Besar Tembus Rp107 Ribu, Beras Ikut Naik
-
Saham Sejuta Umat Ini Lagi Diskon Harga Termurah, Momentum Emas untuk 'Serok Bawah'?