Suara.com - Nilai dolar AS naik ke level tertinggi baru dalam dua dekade terhadap sejumlah mata uang dunia. Sementara, saham anjlok pada Kamis (22/9/2022) pagi usai The Fed menaikkan suku bunga acuan dan memperkirakan lebih banyak kenaikan ke depan daripada yang diperkirakan investor.
Euro merosot ke level terendah 20 tahun di 0,9810 dolar AS setelah Rusia memerintahkan mobilisasi pasukan cadangan dalam eskalasi perang di Ukraina.
S&P 500 berjangka turun 0,6 persen dan dolar terbang di awal perdagangan Asia. Indeks dolar mencapai tertinggi 20-tahun di 111,65 dan kekuatan greenback mengirim dolar Aussie, kiwi dan Kanada turun ke posisi terendah baru multi-tahun.
Sterling mencapai 1,1233 dolar, terendah dalam 37 tahun. Won Korea Selatan tergelincir melewati angka simbolis 1,400 per dolar untuk pertama kalinya sejak 2009. Baht Thailand, ringgit Malaysia, dolar Singapura dan krona Swedia semuanya membuat posisi terendah baru yang besar.
Mengutip Antara, Nikkei Jepang tergelincir 1,0 persen. Hang Seng berjangka datar, meskipun indeks Golden Dragon dari saham China yang terdaftar di AS terpukul dan turun 5,9 persen semalam.
The Fed menaikkan suku bunga tajam, sebesar 75 basis poin, pada Rabu (21/9/2022) - kenaikan ketiga berturut-turut. Itu membawa kisaran target suku bunga overnight acuan bank menjadi 3-3,25 persen.
Proyeksi menunjukkan pejabat berpikir suku bunga akan lebih tinggi dan pertumbuhan akan lebih rendah dan perkiraan rata-rata suku bunga dana Fed mencapai 4,4 persen tahun ini - lebih tinggi dari perkiraan pasar dan 100 basis poin lebih dari yang diproyeksikan Fed tiga bulan lalu.
"The Fed tidak akan berhenti dalam waktu dekat dan akan ada perpanjangan periode kebijakan moneter ketat setidaknya untuk tahun depan atau lebih," kata kepala investasi di manajer kekayaan JB Were, Sally Auld.
"Apa lagi yang Anda beli selain dolar AS saat ini?" tambah dia, dengan awan tumbuh di atas di Eropa, Inggris dan China dan yen melemah karena Jepang mempertahankan suku bunga rendah.
Baca Juga: Mitratel (MTEL) Resmi Masuk indeks IDX ESG, Berikut Prospek Sahamnya
Kurva imbal hasil AS memperdalam inversinya dalam sesi yang bergejolak semalam ketika obligasi pemerintah jangka pendek dijual dan yang bertenor lebih lama menguat karena investor menilai peluang soft landing ekonomi dan bersiap untuk kerusakan pada pertumbuhan jangka panjang.
Imbal hasil obligasi dua tahun naik setinggi 4,1230 persen dan terakhir di 4,0848 persen, sedangkan imbal hasil 10 tahun turun 6 basis poin menjadi 3,5120 persen.
"Peluang soft landing kemungkinan akan berkurang sejauh kebijakan perlu lebih ketat, atau restriktif lebih lama," kata Ketua Fed Jerome Powell.
Pertemuan bank sentral di Taiwan, Jepang, Filipina, Indonesia, Inggris dan Norwegia dijadwalkan di kemudian hari dengan kenaikan diperkirakan terjadi di mana-mana kecuali Jepang.
Jepang minggu ini telah mendorong pulang komitmennya terhadap kebijakan ultra-dovish dengan menghabiskan lebih dari 2 triliun yen (13,8 miliar dolar AS) dalam dua hari terakhir untuk mempertahankan plafon 0,25 persen pada imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10-tahun.
Namun, sekalipun tidak ada perubahan kebijakan yang terjadi, akan ada fokus yang kuat pada pandangan Gubernur Haruhiko Kuroda tentang penurunan tajam yen, karena meningkatnya ketidaknyamanan dapat mengisyaratkan perubahan kebijakan dan sikap dovish dapat memicu penjualan yen lebih lanjut.
Berita Terkait
-
The Fed Kerek Suku Bunga, Harga Emas Kembali Berkilau
-
The Fed Kerek Suku Bunga 75 Basis Poin, Harga Minyak Dunia Makin Murah
-
Betah di Zona Merah, IHSG Rabu Sore Melorot ke Level 7.188
-
Rupiah Tembus 15 Ribu Rupiah Per Dollar Amerika
-
Mitratel (MTEL) Resmi Masuk indeks IDX ESG, Berikut Prospek Sahamnya
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
4 Sepatu Lari Anak Terbaik Berdasarkan Review Pengguna, Ringan dan Super Nyaman
-
Anti Kusam! 5 Trik Sederhana agar Pakaian Selalu Tampak Seperti Baru
-
Kisah Jalian Setiarsa Kembangkan UMKM Tembus Pasar Internasional Didukung Ekosistem BRI
-
Daftar Mobil Terlaris Segmen LSUV Semester Satu 2026, Seberapa Dominan Rush dan Terios?
-
Pasar Eropa Jadi Senjata Utama BYD Geser Toyota Setelah Amerika Serikat Tutup Pintu
-
Diduga Korban Bullying, Pelajar di MAN 3 Padang Belajar Merakit Bom dari Media Sosial
-
Setelah 28 Tahun Mangkrak, Bahlil: Baru Zaman Prabowo Proyek Masela Jalan
-
Kopdes Merah Putih Boleh Kelola Tambang? Jubir Gerindra: yang Penting Sesuai Aturan
-
BPDP Ungkap Temuan Riset Sawit, Bisa untuk Suplemen Ibu Hamil hingga Bensin
-
4 Pelembap Anti-Aging Lokal untuk Usia 25-an, Wajah Awet Muda Bebas Penuaan