Suara.com - Kekhawatiran pasar terhadap potensi resesi kian mengemuka setelah sejumlah bank sentral dunia mengkerek naik suku bunga acuannya secara berjamaah mengikuti The Federal Reserve yang menaikkan suku bunga acuan di kisaran 3,00-3,25 persen beberapa waktu lalu.
Kondisi ini pun membuat khawatir Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dia bilang ancaman resesi pada tahun depan semakin nyata usai beberapa negara dunia secara bersamaan menaikkan suku bunga acuan mereka.
"Bank Dunia sudah menyampaikan kalau bank sentral di seluruh dunia melakukan peningkatan suku bunga secara cukup ekstrem dan bersama-sama, maka dunia pasti mengalami resesi di 2023," kata Sri Mulyani saat konferensi pers APBN Kita secara virtual, Senin (26/9/2022).
Menurut dia, kenaikan suku bunga ini bisa membuat pertumbuhan ekonomi masing-masing negara cukup terpukul.
"Inilah yang sekarang sedang terjadi, yaitu kenaikan suku bunga oleh bank sentral terutama di negara-negara maju secara cukup cepat dan ekstrem dan itu pasti akan memukul pada pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut," kata Sri Mulyani.
Pengetatan suku bunga yang dilakukan negara maju untuk menjinakkan inflasi yang saat ini menggerogoti hampir seluruh negara di dunia.
Tanda-tanda pelemahan ekonomi pun, kata dia, sudah mulai terlihat dari aktivitas Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur global yang turun dari 51,1 ke 50,3 pada Agustus 2022.
Dari negara-negara G20 dan ASEAN-6, hanya 24 persen saja yang aktivitas manufakturnya masih di level ekspansi dan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Mereka adalah Indonesia, Thailand, Filipina, Rusia, Vietnam dan Arab Saudi.
"Hanya 24 persen dari negara G20 dan ASEAN-6, artinya mayoritas melambat dan kontraksi," katanya.
Baca Juga: Menkeu Sri Mulyani: Kami Terpukul Keras oleh Pandemi Covid-19
Indonesia, dikatakan Sri Mulyani, masih cukup bergerak positif karena masih dijalur akselerasi. Meski demikian, dia mengatakan Indonesia mesti harus bersikap hati-hati karena saat ini lingkungan ekonomi dunia sedang mengalami pelemahan.
"Indonesia dengan kelima negara yang lain masih pada level yang akseleratif. Ini hal yang cukup positif tapi kita juga sangat menyadari lingkungan global kita mengalami pelemahan," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 5 HP Murah 5G di Bawah Rp2 Juta, Koneksi Kencang untuk Multitasking
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
Purbaya Turun Tangan Atasi Proyek KEK Galang Batang, Investasi Rp 120 T Terancam Batal
-
Pengusaha Konstruksi Ngeluh Beban Operasional Naik 8% Gegara Harga BBM dan Material
-
Gelar RUPST, BRI Setujui Dividen Tunai Rp52,1 Triliun dan Perkuat Fundamental Kinerja
-
Menteri Dody Santai Anggaran PU Dipotong, Infrastruktur Tetap Jalan
-
Telah Kucurkan Rp 530 Triliun, Ini Strategi BTN Genjot Penyaluran KPR
-
Kejati Geledah Kantor Kementerian PU, Menteri Dody: 16 Item Disita, Termasuk PC dan Dokumen Audit
-
Pemerintah Sebut Nasib 2 Kapal Tanker Pertamina di Selat Hormuz Belum Jelas
-
Pasar Saham RI Bergairah, IHSG Naik 2% Lebih ke Level 7.458
-
Pemerintah Indonesia dan Rusia Perkuat Kerja Sama Ekonomi dan Investasi
-
Ekspansi Strategis BRI Group: Pegadaian Resmikan Kantor Cabang Luar Negeri Pertama di Timor Leste