Suara.com - Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Matthew Miller menyampaikan protes Amerika Serikat kepada pemerintah Israel, karena pemblokiran bantuan untuk penduduk sipil di Gaza dan berbagai wilayah di Palestina.
Hal ini, kata Miller, membuat AS mempertimbangkan untuk menghentikan bantuan kepada Israel. "Kita telah menyaksikan hambatan dari segi politik Israel, di mana para menteri di dalam pemerintahan Israel menghentikan pelepasan bantuan [tepung] dari pelabuhan di Ashdod," ujarnya dikutip via Anadolu Agency pada Rabu (6/3/2024) kemarin.
Menurut dia, para pejabat Israel justru mendukung aksi massa yang memblokade bantuan ke wilayah Palestina melalui KArem Shalom.
AS mengirimkan bantuan berupa tepung dalam jumlah besar melalui Pelabuhan Ashdod. Namun, pengiriman tersebut terhenti selama lebih dari satu bulan atas perintah Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich.
Miller menyoroti tindakan para pejabat Israel yang menghalangi dan mengganggu penyaluran bantuan ke Gaza, dan ia menegaskan bahwa hal ini harus segera dihentikan.
"Semua ini merupakan hambatan yang berasal dari para menteri di dalam pemerintahan Israel yang kami telah tegaskan sebagai tidak dapat diterima dan harus segera diakhiri," ungkapnya.
Ia menegaskan, Amerika Serikat memiliki sikap terbuka terkait situasi di lapangan serta penolakan Israel untuk membuka perbatasan Erez di utara Gaza.
Menurutnya, sikap Amerika Serikat tersebut disampaikan saat Menteri Luar Negeri Antony Blinken bertemu dengan kabinet perang Israel.
Amerika Serikat adalah sekutu dekat Israel dan sering memberikan bantuan kepada mereka.
Baca Juga: Jelang Ramadan Masjid Al Aqsa masih Dilarang untuk Ibadah Umat Muslim, Erdogan: Enggak Masuk Akal!
Menurut peraturan hukum di Amerika Serikat, yaitu undang-undang tahun 1961, Presiden dilarang mengirimkan bantuan ke negara lain jika negara tersebut membatasi bantuan kemanusiaan dari Amerika.
Namun, merujuk pada 620I Undang-Undang Bantuan Luar Negeri AS, terdapat pengecualian yang memungkinkan presiden untuk melanjutkan bantuan jika dianggap dalam kepentingan keamanan nasional AS secara resmi.
Israel meningkatkan serangan ke Palestina pada tanggal 7 Oktober. Sebagai akibat dari genosida tersebut, lebih dari 30.700 orang di Palestina meninggal dan ratusan ribu rumah hancur.
Berita Terkait
-
Boikot Starbucks di Timur Tengah Berakibat Fatal, 2.000 Karyawan Diberhentikan
-
ByteDance Dipaksa Jual TikTok dari China ke Amerika
-
Bela Palestina, 600 Karyawan Google Tekan Petisi Tolak Sponsori Acara Israel
-
Amerika Serikat Mendadak Beri Pesan Khusus Prabowo Terkait Presiden Terpilih
-
Jelang Ramadan Masjid Al Aqsa masih Dilarang untuk Ibadah Umat Muslim, Erdogan: Enggak Masuk Akal!
Terpopuler
- Ganjil Genap Jakarta Resmi Ditiadakan Mulai Hari Ini, Simak Aturannya
- LIVE STREAMING: Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2026
- Menkeu Purbaya Pastikan THR ASN Rp55 Triliun Cair Awal Ramadan
- Pemerintah Puasa Tanggal Berapa? Cek Link Live Streaming Hasil Sidang Isbat 1 Ramadan 2026
- Ini 4 Tablet Paling Murah 2026, Memori Tembus 256 GB
Pilihan
-
Hasil Investigasi: KPF Temukan Massa Suruhan di Aksi Penjarahan Rumah Sahroni Hingga Uya Kuya
-
Munculnya Grup WhatsApp KPR-Depok hingga Pasukan Revolusi Jolly Roger Sebelum Aksi Demo Agustus 2025
-
KPF: Eskalasi Demo Agustus Dipicu Kematian Affan Kurniawan yang Tak Segera Ditangani Polisi
-
Cerita Warga Solo Hadapi Pajak Opsen hingga Kaget Uang Tak Cukup, FX Rudy: Mohon Dipertimbangkan!
-
Resmi! Kemenag Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh Pada Kamis 19 Februari 2026
Terkini
-
Meski Berstatus Persero, Danantara: ANTM-PTBA Masih Bagian MIND ID
-
Ekspansi ke Infrastruktur EV, Emiten TRON Siap Garap SPKLU
-
Anak Usaha Emiten ELSA Mulai Bisnis Energi Rendah Karbon Lewat Green Terminal
-
Ingat! Maskapai Wajib Beri Diskon Tiket Pesawat saat Mudik
-
Mengapa Antam dan PTBA Ditempeli Status Persero Lagi?
-
Harga Cabai Naik Jelang Ramadhan, Mendag Salahkan Hujan
-
Siap-siap! Purbaya Pastikan THR ASN Rp 55 Triliun Cair Minggu Pertama Puasa
-
Harga Daging Ayam Naik Jelang Ramadan, Ini Alasan Mendag
-
LENSA Invoice Material Jadi Langkah Strategis Telkom Akses Perkuat Tata Kelola Digital
-
Sepanjang 2025, TJSL PLN Peduli Jangkau Lebih dari 700 Ribu Penerima Manfaat di Seluruh Indonesia