Suara.com - Jika banyak yang bilang biaya pendidikan menjadi komponen dengan inflasi tertinggi, maka jawabannya adalah benar. Buktinya beda biaya kuliah tahun 2024 dan 2014 sudah sangat jauh hanya dalam rentang waktu 10 tahun. Kenaikan ini bahkan disebut – sebut tak sebanding dengan kenaikan gaji para karyawan tau setidaknya orang tua yang ingin membiayai anaknya ke perguruan tinggi.
Sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) top negeri ini belakangan menjadi sorotan karena kenaikan uang kuliah tunggal (UKT) yang mesti dibayarkan calon mahasiswa baru terlalu mahal. Mahalnya uang kuliah tunggal (UKT) di sejumlah kampus negeri di Indonesia menjadi kritik pedas masyarakat terhadap sistem pendidikan Tanah Air.
Dua kampus yang menjadi representasi pendidikan tinggi terbaik negara ini, yakni Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) pun mengalami kenaikan UKT yang tinggi.
UGM, kampus top di Yogyakarta yang sebelumnya dikenal dengan biaya merakyat ini ternyata juga mematok biaya cukup tinggi untuk mahasiswa baru 2024 nanti, kecuali untuk golongan terbawah yakni UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen yang berarti mahasiswa tidak perlu membayar sepeser pun.
Sementara itu, UGM membagi UKT ke dalam lima golongan berdasarkan subsidi. Selain subsidi 100 persen, subsidi UKT yang dikenakan adalah 75 persen, 50 persen, 25 persen, dan non-subsidi. Besaran UKT yang sudah dipotong subsidi ini pun bervariasi tergantung jurusan yang diambil.
Mengutip website resmi UGM, UKT bersubsidi 75 persen ada pada rentang Rp2.200.000 - Rp6.175.000. UKT bersubsidi 50 persen berada pada kisaran Rp4.150.000 - Rp12.350.000. UKT bersubsidi 25 persen nilainya sekitar Rp6.225.000 - Rp18.525.000. Terakhir, UKT non-subsidi ada pada rentang Rp8.300.000 - Rp24.700.000.
UKT tinggi dikenakan untuk jurusan kedokteran, kedokteran gigi, dan kedokteran hewan. Sementara itu, UKT lebih rendah dicapai oleh jurusan – jurusan sosial seperti Antropologi, Sastra Korea, dan Hubungan Internasional.
Bagi calon mahasiswa yang diterima melalui jalur UM-CBT UGM pada tahun akademik 2023/2024 dan ditetapkan UKT Pendidikan Unggul (memiliki kemampuan ekonomi baik) dikenakan Sumbangan Solidaritas Pendidikan Unggul (SSPU) di UGM sebesar Rp30.0000.000 (tiga puluh juta Rupiah) untuk bidang Ilmu Sains, Teknologi, dan Kesehatan dan sebesar Rp20.000.000 (dua puluh juta Rupiah) untuk bidang Ilmu Sosial dan Humaniora.
Menarik mundur sepuluh tahun lalu, pada 2014 UKT UGM tak semahal ini. Di tahun itu, UGM membagi UKT ke dalam enam golongan. Golongan I hanya perlu membayar Rp500.000 kemudian Golongan II Rp1 juta. UKT Golongan III bervariasi, namun terendah adalah Rp2,4 juta – Rp7,2 juta. Selanjutnya UKT Golongan IV dimulai dari rentang Rp3,2 juta – Rp10 juta, Golongan V Rp4,2 juta – Rp14,5 juta, dan Golongan VI Rp5,5 juta – Rp20 jutaan.
Baca Juga: Harta Rektor Unri Ikut Disorot Usai Polisikan Mahasiswa, Tak Punya Tanah dan Kendaraan
Sementara itu, di Universitas Indonesia, UKT golongan I memang berada di angka Rp500.000 per semester dan UKT golongan II adalah Rp1 juta. Namun, gap cukup jauh terjadi antara golongan II dan III. Mahasiswa yang harus membayar UKT golongan III harus menyiapkan uang Rp7,5 juta – Rp12 juta, kemudian golongan IV Rp8,6 – Rp17,5 juta, dan terakhir golongan V Rp13 – Rp20 juta.
Di samping itu, sesuai dengan data sosio-ekonomi yang disampaikan oleh mahasiswa baru pada saat proses pra-registrasi, UI akan menetapkan Kelompok Iuran Pengembangan Institusi (IPI) yang dikenakan kepada masing-masing mahasiswa. IPI Kelompok 1 berlaku bagi mahasiswa yang dikenai UKT Kelompok 1, dan IPI Kelompok 2 berlaku bagi mahasiswa yang dikenai UKT Kelompok 2. Sedangkan IPI Kelompok 3 dan IPI Kelompok 4 berlaku bagi mahasiswa yang dikenai UKT Kelompok 3, UKT Kelompok 4, dan UKT Kelompok 5.
UKT golongan I dan II tidak perlu membayar IPI. Sementara rata – rata IPI Kelompok 3 adalah Rp30 juta dan IPI Kelompok 4 Rp40 juta. Khusus jurusan Kedokteran besaran IPI mencapai Rp122 juta dan Rp161 juta.
Di tahun 2014 Universitas Indonesia menetapkan empat komponen biaya untuk mahasiswa baru pada jenjang S-1 yakni Biaya Operasional Pendidikan (BOP), Dana Kesejahteraan dan Fasilitas Mahasiswa (DKFM), Dana Pengembangan (DP), dan Dana Penunjang Pendidikan (DPP). BOP dan DKFM dibayarkan setiap semester hingga mahasiswa dinyatakan lulus. Sementara DP dan DPP hanya dibayarkan satu kali pada semester pertama saja.
Besaran BOP dan DKFM pun bervariasi tergantung pada jurusan dan fakultas. Jurusan sosial umumnya dibebankan biaya lebih murah dibandingkan dengan ilmu alam. Masing – masing komponen biaya itu berkisar antara Rp5 juta hingga Rp20 jutaan.
Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni
Berita Terkait
-
Ditemukan Ganja, Polisi Selidiki Dugaan Peredaran Narkoba di Kampus Unri
-
Apa Itu UKT, Biaya Kuliah yang Jadi Sorotan usai Dikritik Mahasiswa Unri
-
Community Development: Misi HMJ Psikologi UNJA Membangun Desa Danau Kedap
-
Rektor Unri Akhirnya Setop Polisikan Mahasiswa, Hotman Paris: Karena Tekanan Netizen?
-
Harta Rektor Unri Ikut Disorot Usai Polisikan Mahasiswa, Tak Punya Tanah dan Kendaraan
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Sita Si Buruh Belia: Upah Minim dan Harapan yang Dijahit Perlahan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
Terkini
-
Miris! 30 Persen Gaji Masyarakat untuk Bayar Ongkos Transportasi
-
Soal Kenaikan DMO, Bahlil: Kebutuhan Dalam Negeri Harus Dipenuhi Dulu
-
Pengusaha IHT Minta Pemerintah Membina, Bukan Binasakan Industri Tembakau
-
Bahlil: Realisasi Investasi Sektor ESDM Investasi Turun, PNBP Gagal Capai Target
-
Timothy Ronald dan Akademi Crypto Mendadak Viral, Apa Penyebabnya
-
Indonesia Raih Posisi Runner-up di Thailand, BRI Salurkan Bonus Atlet SEA Games 2025
-
Fenomena Demam Saham Asuransi Awal 2026, Kesempatan atau Jebakan Bandar?
-
IATA Awali Operasional Tambang di Musi Banyuasin, Gandeng Unit UNTR
-
Realisasi PNBP Migas Jauh dari Target, Ini Alasan Bahlil
-
APBN Tekor Hampir 3 Persen, Dalih Purbaya: Saya Buat Nol Defisit Bisa, Tapi Ekonomi Morat-marit