Suara.com - Penganggguran di China nampaknya akan terus bertambah seiring tekanan ekonomi global yang belum mereda. Apalagi, tarif 30 persen ini membuat beberapa sektor mengalami tekanan.
Kepala ekonom di Soochow Securities Lu Zhe memperkirakan jumlah pekerjaan yang bakal kehilangan pekerja sebanyak 1,5-6,9 juta. Sedangkan, Alicia Garcia-Herrero, kepala ekonom Asia Pasifik di Natixis, memperkirakan tarif tiga digit dapat menyebabkan 6-9 juta kehilangan pekerjaan.
"Tingkat tarif saat ini dapat memicu 4-6 juta PHK, sementara jika tarif turun 20% lagi, sekitar 1,5-2,5 juta pekerjaan dapat hilang,"katanya dilansir BBC, Sabtu (17/5/2025).
Sedangkan, pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2025 dapat melambat sebesar 0,7 poin persentase dalam skenario paling optimis, 1,6 poin di bawah tarif saat ini, atau 2,5 poin.
"Ketika Anda meningkatkan tarif ke tingkat yang begitu tinggi, banyak perusahaan memutuskan untuk berhenti merekrut dan pada dasarnya mulai mengirim pekerja kembali ke rumah," kata Garcia-Herrero.
"Pada angka 30%, saya ragu mereka akan berkata, oke, kembali lagi. Karena angkanya masih tinggi," tambahnya.
" Mungkin pemerintah Tiongkok berkata, wow, ini luar biasa. Namun, saya rasa banyak perusahaan tidak yakin ini akan berhasil," imbuhnya.
Sedangkan, penasihat pemerintah mengatakan Tiongkok sedang mencoba mengurangi hilangnya pekerjaan di sektor manufaktur dengan investasi negara yang lebih besar dalam proyek-proyek publik. Hal ini menyerap tenaga kerja dan dengan menggunakan bank sentral untuk menyalurkan sumber daya keuangan yang dapat menciptakan lapangan kerja baru.
Sebelumnya, pekerja Tiongkok Liu Shengzun kehilangan dua pekerjaan hanya dalam waktu satu bulan karena tarif impor AS melonjak hingga tiga digit pada bulan April, yang memaksa pabrik produk lampu Guangdong. Kemudian pabrik alas kaki, untuk mengurangi produksi.
Baca Juga: Hanya karena Bersenggolan saat Jalan Kaki, Wanita Ini Harus Bayar Denda Rp 161 Juta
Tarif turun drastis minggu ini, tetapi Liu telah berhenti dari pekerjaannya di pabrik dan sekarang kembali bertani di kampung halamannya di Tiongkok selatan.
"Sangat sulit tahun ini untuk mendapatkan pekerjaan tetap," kata pria berusia 42 tahun itu.
Dia yang memperoleh sekktar 832 dollar AS sekitar Rp 13 juta sebulan sebagai pekerja pabrik dan sekarang tidak memiliki sumber pendapatan tetap. "Saya hampir tidak mampu membeli makanan," katanya.
Sedangkan, peredaan cepat dalam perang dagang AS-Tiongkok setelah perundingan Jenewa akhir pekan lalu telah membantu Beijing menghindari skenario mimpi buruk. PHK massal yang dapat membahayakan stabilitas sosial - yang dianggap Partai Komunis yang berkuasa sebagai prioritas utamanya, kunci untuk mempertahankan legitimasinya dan pada akhirnya kekuasaannya.
Namun kenaikan tarif AS tahun ini sebesar 145% meninggalkan kerusakan ekonomi yang bertahan lama dan bahkan setelah perundingan Jenewa. Kenaikan tersebut masih cukup tinggi untuk terus merugikan pasar kerja dan memperlambat pertumbuhan Tiongkok, kata para ekonom dan penasihat kebijakan.
"Itu adalah kemenangan bagi Tiongkok," kata seorang penasihat kebijakan tentang perundingan tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas topik tersebut," katanya.
Tag
Berita Terkait
-
Bank Investasi China Berikan Pinjaman Rp71,5 Triliun untuk Indonesia, Mau Buat Apa?
-
Indonesia Ingin Belajar Strategi China soal Pengentasan Kemiskinan
-
Tanda-tanda Damai Perang AS - Iran Sudah Terlihat, China Minta DK PBB Tagih Kepastian
-
5 Drama China Trope si Cewek Bucin Duluan, Ada Drama dari Zhao Lusi!
-
Investasi Digital China di RI Makin Marak, Apa Untung dan Ruginya?
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Investor Bitcoin Mulai Tinggalkan FOMO, Fokus ke Riset dan Strategi
-
Insentif Kendaraan Listrik Mundur ke Juli, Kemenperin Klaim Investor Masih Optimistis
-
Penutupan Alfamart Dikaitkan dengan KDMP, Perang Ritel Mulai Terjadi?
-
Bank Investasi China Berikan Pinjaman Rp71,5 Triliun untuk Indonesia, Mau Buat Apa?
-
BUMN Dana Pensiun Perluas Bantuan Hunian ke Pensiunan
-
Pertamina Salurkan Lebih dari 4.400 Hewan Kurban untuk Masyarakat pada hari raya Iduladha 2026
-
Investor Asing Bawa Kabur Dana Rp 3,96 Triliun dalam Dua Hari, BBCA Jadi Bulan-bulanan
-
Rupiah Anjlok ke Rp17.870 Hari Ini, Cek Kurs Dolar AS di BCA, Mandiri, BRI, dan BNI
-
Cukai Tak Naik Jadi Angin Segar, Kinerja Industri Rokok Disebut Masih Tinggi
-
Iduladha 2026, Pertamina Trans Kontinental Jaga Operasional & Berbagi Berkah Kurban pada Masyarakat