Suara.com - Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan lonjakan harga beras bisa menimbulkan inflasi, setelah Badan Pangan Nasional menetapkan kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras.
"Challenge-nya akan ada kuartal tiga ke atas, sebesar 2,6 persen. Kalau dampak lanjutan berlangsung, baru kemudian akan menormalisasi di kuartal keempat," kata Andry dalam paparan economic outlook dalam video virtual, Kamis (28/8/2025).
Dia berharap rencana penyaluran beras dan stabilisasi harga yang dilakukan bisa berjalan lancar, sehingga tekanan inflasi bisa berkurang. Pemerintah sendiri berencana mendistribusikan 1,73 juta ton besar ke pasar.
"Jadi diharapkan menormalisasi suplai beras di semester kedua atau triwulan ketiga, kalau forecast kita kuartal 4 masih 2,4 persen artinya masih masuk dalam range Bank Indonesia," tandasnya.
Sebelumnya lewat Surat Keputusan Kepala Bapanas Nomor 299 Tahun 2025 tertanggal 22 Agustus 2025, pemerintah menaikkan HET beras medium di Zona I, II dan III.
Zona I meliputi wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi. Sementara Zona II mencakup Sumatera selain Lampung dan Sumatera Selatan, serta Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan. Sementara Zona III adalah Maluku dan Papua.
HET beras di Zona I kini mencapai Rp 13.500 per kilogram untuk beras medium. Sementara di Zona II mencapai Rp 14.000 dan naik menjadi Rp 15.500 di Zona III.
Alasan kenaikan HET beras medium ini menurut Bapanas agar penggilingan padi tetap bisa memproduksi beras. Karena saat ini harga gabah kering giling (GKP) juga telah mengalami kenaikan di petani.
Sementara itu, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengeklaim harga beras di 15 provinsi di Indonesia sudah mengalami penurunan. Penurunan harga tersebut, setelah Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Daerah melakukan operasi pasar besar-besaran di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Seni Perang Lawan Sampah Makanan: Selamatkan Sisa Nasi, Lawan Inflasi
"Ini mungkin operasi pasar terbesar untuk menekan harga. Alhamdulillah kami pantau dari Bapanas (Badan Pangan Nasional) ada 10, ada mengatakan sudah 13, ada yang mengatakan 15 provinsi harganya (beras) sudah turun," klaim Andi.
Berita Terkait
-
Ekonom Bank Mandiri: Perekonomian Indonesia Diprediksi Tumbuh 4,96 Persen di 2025
-
Bank Indonesia Ungkap Biang Kerok Kenaikan Harga Beras di Daerah
-
Tekankan Intervensi Stok Beras untuk Kendalikan Inflasi, Mendagri Buka Gerakan Pangan Murah
-
Biang Kerok Harga Beras Mahal, Bukan Hanya Petani yang Untung
-
Hanya 'Jalan Pendek', Alasan Pemerintah Naikkan Harga Beras Medium
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
Pilihan
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Jadi Bos BI, Purbaya: Bagus, Saya Mendukung!
-
Rupiah Tembus Rp16.955, Menkeu Purbaya: Bukan Karena Isu Wamenkeu ke BI
-
Rupiah Makin Jatuh Nilainya, Hampir ke Level Rp 17.000/USD
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Untuk Jadi Bos BI
-
Suram! Indonesia Masuk Daftar 27 Negara Terancam Krisis Struktural dan Pengangguran
Terkini
-
OJK Minta Perbankan Antisipasi Imbas Rupiah Anjlok
-
Rekomendasi Saham dan Ide Trading IHSG Hari Ini Menurut Para Analis
-
Keponakan Prabowo Isi Posisi Calon Deputi Gubernur BI, Juda Agung Udah Resign Sejak 13 Januari
-
Harga Emas Melonjak Drastis di Pegadaian, Kenaikan Cukup Besar!
-
Kode SWIFT BCA Terbaru 2026 untuk Transaksi Internasional
-
BUMN Energi Bidik Zero Fatality, Standar Jam Kerja Jadi Sorotan Utama
-
Tekan Biaya Logistik Nasional, IPC TPK Perkuat Digitalisasi dan Konsep Hub & Spoke
-
LHKPN Bupati Pati, Sudewo yang Kena OTT KPK: Asetnya Tersebar dari Jabar Sampai Jatim
-
CFX Optimistis Industri Kripto Tumbuh Positif di 2026
-
Apa Itu Web3 dan Bagaimana Fungsinya dalam Tatanan Ekonomi