- CSIS menilai kondisi Indonesia saat ini mirip dengan 1998.
- Ada risiko krisis ekonomi, delegitimasi negara hingga degradasi ekonomi.
- Banyak program pemerintah berbiaya mahal dan menuntut efisiensi, sementara di sisi lain ada pemborosan oleh pejabat.
Suara.com - Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies atau CSIS Indonesia, Deni Friawan mengingatkan situasi dalam negeri saat ini mirip dengan kondisi pada krisis 1998.
CSIS mewanti-wanti pemerintah untuk mengatasi permasalahan-permasalahan ini. Jika tidak, maka risiko krisis ekonomi, delegitimasi negara hingga degradasi demokrasi akan meningkat.
"Kalau ini terus dibiarkan, akar permasalahan ini tidak diatasi, risiko krisis ekonomi, delegitimasi negara, dan degradasi demokrasi itu akan meningkat," kata Deni dalam media briefing CSIS, "Wake Up Call dari Jalanan: Ujian Demokrasi dan Ekonomi Kita" di Jakarta, Selasa (2/9/2025).
Dia menegaskan bahwa krisis 1997-1998 harus menjadi pelajaran penting. Pada waktu itu krisis terjadi secara multidimensional, kesulitan ekonomi, korupsi hingga lemahnya penegakan hukum. Situasi itu pun memiliki kemiripan dengan kondisi saat ini, yakni ketidakadilan dan tekanan ekonomi.
Hal itu tergambar dari tingginya angka pemutusan hubungan kerja dan dibarengi dengan sulitnya mendapat pekerjaan. Kemudian pemberlakukan efisiensi, sementara di sisi lain pemerintah menunjukkan sikap sebaliknya yaitu pemborosan seperti kenaikan tunjangan DPR hingga pejabat rangkap jabatan di BUMN.
Di sisi lain juga pemerintah saat ini memiliki program yang membutuhkan biaya yang mahal, namun dampaknya kepada masyarakat dipertanyakan. Program makan bergizi gratis atau MBG misalnya, yang menelan 44 persen anggaran pendidikan.
Lalu belanja alat pertahanan negara yang menelan hampir 19 persen belanja negara.
"Permasalahannya adalah bagaimana anggaran itu dibelanjakan dan pertanggung jawaban setelah transparansinya itu masih tidak jelas hingga hari ini," tegas Deni.
Deni pun menegaskan bahwa berbagai persoalan itu yang menjadi pemicu gelombang unjuk rasa yang berlangsung dari 28-30 Agustus 2025. Bagi CSIS persoalan itu tidak akan terselesaikan hanya dengan pidato atau omong kosong.
Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah Meski Demonstrasi Protes ke DPR dan Pemerintah Mulai Mereda
"Karena itu, pemerintah harus bisa membangun kembali kepercayaan fiskal melalui empati dan keteladanan. Hentikan pemborosan anggaran, akhiri privilege elit, dan hentikan penyangkalan atas kondisi ekonomi yang saat ini memburuk," tegasnya.
Selain itu pemerintah juga harus meningkatkan akuntabilitas, dan transparansi.
"Pemerintah juga harus terbuka terhadap dialog tidak hanya bersama buruh, tapi juga pelaku usaha dan pengusaha, karena pada dasarnya kita tidak ada pertentangan antara buruh dan pengusaha," ujarnya.
Berita Terkait
-
Rupiah Nyaris Tembus Krisis 1998, Tapi Pemerintah Masih Santai?
-
Rupiah Jeblok Tembus Rp16.300, Bayang-bayang Krisis 1998?
-
Indonesia Pernah Menjadi Pasien IMF Saat Krisis 1998, Jokowi: Kita Gak Mau Masuk Lagi
-
28 Negara Jadi Pasien IMF, Menko Airlangga: Lebih Besar dari Krisis 1998
-
Indonesia Waspada Ancaman Ekonomi di Asia Tenggara, Pakar: Ingat Awal Mula Krisis 1998!
Terpopuler
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
Terkini
-
Dadan Hindayana Berencana MBG Dibagikan di Arab Saudi Sebelum Dicopot
-
Neraca Perdagangan RI Surplus 72 Bulan Beruntun di April 2026, Tapi Terendah dalam 5 Tahun
-
Impor RI Melonjak 25,21 Miliar USD April 2026, Sektor Migas Naik Tajam 82%
-
Premi Bisnis Baru Asuransi Jiwa Tumbuh 5 Persen
-
Demi Stok Tak Langka, ESDM Bisa Setiap Saat Stop Ekspor Perusahaan Migas
-
Asurasi Inhealth Ubah Identitas, Jamin Tak Kurangi Layanan ke Nasabah
-
Perusahaan Logistik Gali Cuan Bisnis Jastip di Ajang PRJ
-
Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Web3 Bakal Mengubah Karier dan Bisnis Masa Depan
-
Dana Asing Hengkang Rp 1,37 T Meski IHSG Menguat, Saham Prajogo Pangestu Jadi Sasaran
-
Digendong GoTo dan Grab, Sayurbox dan HappyFresh Mau Merger?