- Penurunan Signifikan: IHSG ditutup anjlok 1,06% ke level 8.040,66 pada perdagangan 25 September 2025, setelah sempat mencapai rekor tertinggi di 8.146,09.
- Penyebab Utama: Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual bersih investor asing senilai Rp 1 triliun dan depresiasi nilai tukar Rupiah yang menembus Rp 16.735 per dolar AS.
- Data Perdagangan: Nilai transaksi pasar sangat tinggi mencapai Rp 23,92 triliun, dengan 469 saham mengalami penurunan, menunjukkan tekanan jual yang luas di pasar.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis, 25 September 2025, dengan koreksi yang sangat signifikan.
Indeks ditutup anjlok 85,89 poin atau setara 1,06%, mendarat di level 8.040,66. Pelemahan tajam ini menjadi sorotan, terutama setelah IHSG sempat mencatat rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High) di level 8.146,09 pada sesi pagi.
Sayangnya, tekanan jual yang masif pada sesi sore berhasil membalikkan arah indeks ke zona merah secara drastis, mengakhiri euforia rekor yang sempat terjadi.
Faktor Pendorong Pelemahan: Net Sell Asing & Rupiah
Anjloknya IHSG didorong oleh kombinasi sentimen negatif dari domestik dan global, dengan dua pemicu utama:
Aksi Jual Bersih Asing: Investor asing tercatat melakukan jual bersih (net sell) senilai fantastis, mencapai Rp1 triliun di seluruh pasar. Aksi jual ini menandakan realisasi keuntungan besar (profit taking) setelah indeks mencapai level psikologis dan rekor baru.
Pelemahan Nilai Tukar Rupiah: Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS ditutup melemah di level Rp16.735/US$, melanjutkan tren depresiasi selama enam hari beruntun. Tekanan terhadap Rupiah ini diperkuat oleh penguatan Indeks Dolar AS (DXY) di pasar global.
Penguatan Dolar AS sendiri dipicu oleh pernyataan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, yang mengisyaratkan kehati-hatian terkait prospek penurunan suku bunga acuan.
Sinyal ini membuat investor global cenderung mengalihkan dana mereka ke aset yang lebih aman (safe haven), memperparah aliran dana keluar dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Baca Juga: IHSG Menggeliat, Intip Saham Top Gainers dan Loosers Pagi Ini
Secara teknis, IHSG bergerak dalam rentang yang lebar, dengan level terendah hari itu tercatat di posisi 8.022,97. Nilai transaksi harian tercatat sangat aktif, mencapai Rp23,92 triliun.
Namun, dominasi saham yang melemah sangat kentara, dengan 469 saham turun, berbanding 251 saham yang berhasil naik. Akibatnya, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) susut menjadi Rp14.762 triliun.
Menurut analis pasar modal, koreksi tajam ini merupakan hal yang wajar setelah mencapai titik tertinggi baru. "Pasar bergerak volatil setelah menyentuh level psikologis baru.
Tekanan dari eksternal, terutama dari penguatan dolar AS dan pelemahan rupiah, memberikan justifikasi bagi investor untuk merealisasikan keuntungan," ujar seorang analis.
Praktisi dan Inspirator Investasi Indonesia, Ryan Filbert, mengingatkan investor untuk tetap disiplin. "Kunci utama bagi investor saat ini adalah disiplin. Jangan panik dengan penurunan tajam, tetapi sadari bahwa volatilitas adalah bagian dari dinamika pasar. Fokus pada fundamental emiten tetap menjadi strategi terbaik."
Pelemahan ini diprediksi berpotensi berlanjut dalam jangka pendek jika sentimen pelemahan Rupiah dan aliran dana asing tidak mereda. Investor disarankan untuk terus mencermati perkembangan data ekonomi global dan stabilitas nilai tukar Rupiah pada perdagangan hari ini, Jumat, 26 September 2025.
Berita Terkait
-
Rupiah Terus Ambruk, Kebijakan Menkeu Purbaya Jadi Biang Kerok?
-
Rupiah Diramal Meloyo ke Level Rp 17.000, Ini Pemicunya
-
IHSG Rebound Pasca Pelemahan Imbas Aksi Jual Saham Asing?
-
Investor Asing Asal Swiss Buang 100 Juta Lembar Saham BUMI Milik Grup Bakrie
-
Penyebab Rupiah Loyo Hingga ke Level Rp 16.700 per USD
Terpopuler
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
- 7 Sepatu Running Adidas dengan Sol Paling Empuk dan Stabil untuk Pelari
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
Pilihan
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
-
Liburan Keluarga Berakhir Pilu, Bocah Indonesia Ditabrak Mati di Singapura
-
Viral Oknum Paspampres Diduga Aniaya Driver Ojol di Jakbar, Dipicu Salah Titik dan Kata 'Monyet'
-
Hasil Rapat DPR: Pasien PBI BPJS Tetap Dilayani, Pemerintah Tanggung Biaya Selama 3 Bulan
-
OJK Bongkar Skandal Manipulasi Saham, PIPA dan REAL Dijatuhi Sanksi Berat
Terkini
-
Waspada! Modus Phishing hingga Social Engineering Masih Intai Nasabah Bank
-
Pemerintah Klaim Harga Pangan Masih Stabil Jelang Imlek dan Ramadan
-
BUMN Kerahkan Produk Unggulan untuk Pemulihan Pascabencana Banjir Sumatera
-
Ubah Indentitas, Mayoritas Bisnis PIPA akan Lebih Condong ke Migas
-
Pastikan Harga Rumah Subsidi Tak Melejit, Menteri PKP: Program Gentengisasi Masih Dikaji!
-
Tok! Pemerintah Gratiskan PPN 100 Persen untuk Tiket Pesawat Lebaran 2026, Cek Syaratnya
-
DJP Endus Pengemplang Pajak di Sektor Baja dan Hebel
-
Alasan Pemerintah Gunakan Beras Bulog untuk Jemaah Haji
-
Layanan Perbankan Kini Bisa Diakses Lewat Smartwatch
-
11 Juta PBI BPJS Kesehatan Mendadak Nonaktif, Bagaimana Dana Jaminan Sosial Dikelola?