- UMKM RI berkontribusi mencapai sekitar 61 persen terhadap PDB Indonesia pada tahun 2024.
- Kondisi ini membuat UMKM dalam negeri menjadi pilar utama ekonomi nasional.
- Untuk membawa UMKM naik kelas harus ada platform strategis yang membantu memperluas akses pasar.
Suara.com - Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terus membuktikan diri sebagai tulang punggung utama perekonomian nasional, dengan kontribusi mencapai sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2024.
Menyadari peran krusial ini, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), sebagai Subholding Gas Pertamina, memperkuat komitmennya dengan membawa sembilan pelaku usaha binaan mereka untuk unjuk gigi di panggung besar Surabaya Fashion Parade (SFP) 2025 bertajuk “Rebellion”.
Kehadiran UMKM di ajang bergengsi ini ditekankan sebagai strategi nyata untuk membantu mereka "naik kelas" melalui peningkatan kapasitas dan perluasan akses pasar.
Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, mengatakan bahwa SFP adalah platform strategis yang memungkinkan UMKM bertemu langsung dengan buyer, pelaku industri, dan konsumen potensial, membuka gerbang kolaborasi yang lebih luas.
“Melalui ajang ini, para pelaku UMKM dapat memperkenalkan produk mereka kepada audiens yang lebih beragam. Kami berharap pengalaman ini memberikan wawasan baru, jejaring yang lebih luas, serta peluang komersial yang dapat mendorong usaha mereka naik ke level berikutnya,” ujar Fajriyah, Senin (17/11).
UMKM binaan PGN yang tampil di SFP 2025 menampilkan kekayaan budaya Indonesia. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga narasi dan identitas daerah mulai dari tenun ikat Garut, tenun Palembang, batik Solo, hingga tenun Suku Badui, selain itu kerajinan tangan dan sulam khas Sumatera Utara, tas rajut, dan kerajinan batik ecoprint.
Perpaduan antara estetika tradisional dan sentuhan inovasi modern membuat karya-karya ini menonjol, sejalan dengan tema ‘Rebellion’ yang diusung SFP. Selain pameran, booth PGN juga menghadirkan kegiatan interaktif, seperti demonstrasi mencanting batik dan pembuatan tenun, yang memperkuat edukasi mengenai nilai budaya di balik setiap produk.
Fajriyah Usman menekankan bahwa pemberdayaan UMKM adalah investasi multi-efek. Jika UMKM mampu berdaya saing, dampaknya langsung terasa pada ekonomi akar rumput.
“Jika UMKM mampu berdaya saing, maka penguatan ekonomi lokal akan berjalan semakin cepat. UMKM yang tumbuh berarti lapangan kerja bertambah, rantai pasok bergerak, dan nilai tambah ekonomi turut meningkat,” jelasnya.
Baca Juga: Kementerian UMKM Buka-bukaan Harga Satu Balpres Baju Thrifting
Apresiasi juga datang dari Founder Indonesia Fashion Parade, Dian Apriliana Dewi, yang memuji keragaman dan eksplorasi karya UMKM tersebut. Kemitraan antara PGN dan UMKM di panggung fashion berskala besar ini membuktikan bahwa energi kreatif dari UMKM adalah mesin pertumbuhan ekonomi yang harus terus didorong untuk mencapai kesejahteraan yang merata.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Sedan Bekas di Bawah 30 Juta Mudah Dirawat, Performa Juara!
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- Bupati Mempawah Lantik 25 Pejabat, Berikut Nama-namanya
- Stargazer vs Xpander: 10 Fakta Penentu MPV 7 Seater Paling Layak Dibeli
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
Pilihan
Terkini
-
Inflasi Tinggi Mengancam di Awal 2026, Apa Dampaknya?
-
Nama-nama di Balik Bursa Kripto ICEX, Benarkah Ada Haji Isam dan Happy Hapsoro?
-
Dilema Pengetatan Defisit APBD 2026: Antara Disiplin Fiskal dan Risiko Penurunan Belanja
-
Kelanjutan Proyek PLTN Tinggal Tunggu Perpres dari Prabowo
-
Tak Terbukti Dumping, RI Bisa Kembali Ekspor Baja Rebar ke Australia
-
Penggunaan SPKLU PLN Naik Hampir 500 Persen Saat Libur Nataru
-
Aturan Baru Soal Akuntan Dinilai Buka Peluang Kerja untuk Gen Z
-
Purbaya Siapkan Pembangunan Sekolah Terintegrasi Impian Prabowo, Apa Itu?
-
Ganti Jibor dengan INDONIA, BI Mau Buat Pasar Keuangan Lebih Transparan
-
Awas Bubble Pecah! Bahaya Mengintai saat IHSG Menuju Rp 10.000