- Bank Indonesia (BI) memulai lelang perdana repurchase agreement menggunakan obligasi PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) sebagai underlying pada 10 November 2025.
- Transaksi bersejarah ini menyerap repo senilai Rp 290 miliar dari sembilan bank dengan tingkat suku bunga pemenang 4,85 persen untuk tenor satu minggu.
- Kebijakan ini bertujuan memperkuat ekosistem pembiayaan perumahan nasional sekaligus mendalamkan pasar keuangan melalui penggunaan surat berharga korporasi.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) memulai lelang obligasi PT Sarana Multigriya Finansial sebagai underlying dalam transaksi perdana repurchase agreement (repo). Ini disebut menguntungkan sektor pendalaman pasar keuangan, sekaligus bisa memperkuat ekosistem pembiayaan perumahan nasional.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan lelang perdana repo obligasi korporasi itu merupakan capaian sejarah. Menurutnya, selama ini BI hanya menerima repo dengan underlying surat berharga negara (SBN).
"Ini adalah karya sinergitas kita semua dan akhirnya SMF yang menjadi salah satu contoh dari surat berharga lain yang bisa direpokan kepada Bank Indonesia," katanya di Gedung AA Marimis, Jakarta, Kamis (20/11/2025.
Dia pun mengungkapkan, BI menyerap repo senilai Rp 290 miliar dari sembilan bank dengan tenor satu minggu. Hal ini mulai dilakukan sejak 10 November 2025
Adapun, instrumen ini memiliki tenor jangka pendek selama 7 hari, dengan tanggal setelmen pada 11 November 2025 dan akan jatuh tempo pada 18 November 2025. Nantinya, tingkat suku bunga yang dimenangkan (weighted average rate) untuk tenor satu minggu tersebut ditetapkan di level 4,85 persen.
"Hingga saat ini sudah ada 9 perbankan yang melakukan transaksi REP MFS dengan BI dengan total transaksi mencapai Rp299 miliar Ini baru minggu pertama dan tentu kita berharap ke depan ini akan semakin marak. Tadi masih ada sekitar Rp25 triliun (outstandingSMF), dan itu masih sekitar Rp10 triliun yang eligible. Jadi ini kesempatan yang baik," kata Destry
Kata dia, kebijakan ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (UU P2SK), yang menetapkan tiga tujuan utama BI, yakni menjaga stabilitas nilai tukar, menjaga stabilitas sistem keuangan bekerja sama dengan lembaga lain, dan memperkuat sistem pembayaran. Semua itu pada akhirnya bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
"Ini adalah pertama kalinya BI menerima repo dari surat berharga korporasi, yaitu PT SMF, karena sebelumnya hanya menerima SBN dan SRBI,"bebernya.
Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut langkah ini sebagai sejarah penting dalam sistem keuangan Indonesia. Untuk pertama kalinya, BI menerima surat berharga korporasi sebagai underlying repo, dan obligasi SMF menjadi instrumen korporasi pertama yang memenuhi syarat tersebut.
Baca Juga: Bos Danantara Akui Patriot Bond Terserap Habis, Dibeli Para Taipan?
"Ini sejarah bukan hanya untuk Bank Indonesia, tetapi untuk Republik kita. Untuk pertama kalinya, BI dapat menerima repo yang underlying-nya surat berharga korporasi. Dan yang pertama kali digunakan adalah obligasi SMF,” bebernya.
Dia pun menyampaikan apresiasi kepada BI dan SMF yang telah bekerja sesuai kerangka regulasi Undang-Undang Bank Indonesia dan UU P2SK sehingga transaksi perdana senilai Rp 290 miliar dapat direalisasikan. Menurutnya, ini menandai era baru dalam pengelolaan moneter dan pasar obligasi nasional, karena kini obligasi korporasi dapat direpokan ke BI sebagai sumber likuiditas.
"Sektor perumahan ini Kalau buat saya adalah sektor yang sangat penting untuk pembangunan ekonomi kita Karena sektor ini adalah sektor yang bikin semua orang happy kenapa? Siapa saja yang senang kalau bangun rumah itu, maka yang punya rumah itu senang,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo mengatakan, penetapan surat utang SMF sebagai underlying repo BI bisa menjadi pendukung program prioritas pemerintah di sektor perumahan. Salah satunya ketersediaan 3 juta rumah yang membutuhkan dukungan pendanaan masif.
"Dukungan pendanaan masif seperti program 3 juta rumah, sinergi dan kolaborasi dari berbagai pihak tentunya sangat diperlukan. Sinergi perluasan underlying ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis untuk menciptakan pendalaman pasar keuangan,"tandasnya.
Berita Terkait
-
Cara Mudah Beli Obligasi Pemerintah, Pilihan Investasi Aman untuk Pemula
-
Pasar Obligasi Masih Berpotensi Menguat, Ini 4 Faktor Pemicunya
-
Menkeu Purbaya Curigai Permainan Bunga Usai Tahu Duit Pemerintah Ratusan Triliun Ada di Bank
-
Mau Terbitkan Obligasi untuk Cari Pemasukan Tambahan, Pemprov DKI Tunggu Restu Pusat
-
Rencana Terbitkan Obligasi Belum Bisa Dilaksanakan, Pramono Anung Tunggu Arahan Pusat
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Daftar Lokasi dan Jadwal Perbaikan Tol Jakarta - Tangerang Periode Mei 2026
-
5 Cara Amankan Cicilan KPR saat Suku Bunga Naik
-
Daftar Negara dengan Utang Paling Ekstrem, Indonesia Termasuk?
-
Awas Aksi Jual Asing! Saham Perbankan Jadi Sasaran Empuk Profit Taking
-
Ekonom Ramal Rupiah Susah Turun ke Level Rp 16.000/USD
-
Bos GoTo Lapor ke Seskab Teddy, Telah Turunkan Potongan Komisi Ojol 8%
-
Prabowo Diminta Evaluasi PLN Imbas Insiden Blackout Sumatra: Rakyat Rugi Besar!
-
Tekanan Ekonomi Bikin Investor RI Mulai Lirik Aset Kripto dan Emas Digital
-
Begini Kondisi Listrik di Sumatra, Masih Banyak yang Padam?
-
OJK Lihat Bisnis BPD Masih Baik-baik Saja