- Menkeu Purbaya heran BTN minta tambahan dana SAL padahal baru serap 41 persen dari Rp 25 triliun yang sudah diberikan.
- Pemerintah tambah Rp 76 triliun ke bank lain karena penurunan base money, tapi BTN belum dapat karena belum kirim surat.
- Purbaya akan pertimbangkan tambahan dana untuk BTN jika surat permintaan resmi sudah diterima.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran dengan permintaan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN yang meminta tambahan penempatan dana SAL dari pemerintah.
Diketahui Menkeu Purbaya sudah menggelontorkan kas pemerintah sebesar Rp 200 triliun ke Himpunan Bank Negara (Himbara) pada 12 September 2025. Bank Mandiri mendapatkan Rp 55 triliun, BRI Rp 55 triliun, BNI Rp 55 triliun, BTN Rp 25 triliun, dan BSI Rp 10 triliun.
Purbaya mengungkapkan kalau dari dana tersebut, Bank Mandiri dan BRI sudah menyerap 100 persen. Lalu BNI 68 persen, BTN 41 persen, dan BSI 99 persen.
"Kalau di record kita, dari Rp 55 triliun pertama, penyerapannya di Mandiri 100 persen sudah disalurkan, BRI 100 persen, BNI 68 persen, BTN baru 41 persen. Kenapa dia minta lagi ya? Aneh juga dia," ungkap Purbaya saat konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Kamis (20/11/2025).
Bendahara Negara lalu mengatakan kalau pertumbuhan base money per Oktober 2025 mulai menurun 7,7 persen dibanding akhir September yang mencapai 13,3 persen.
Berangkat dari sana, Purbaya memutuskan untuk menambah anggaran ke sejumlah bank dengan total Rp 76 triliun. Rincinya Rp 25 triliun ke Bank Mandiri, Rp 25 triliun ke BRI, Rp 25 triliun ke BNI, dan Rp 1 triliun ke Bank Jakarta.
"Yang BTN belum kita salurkan kenapa, karena suratnya belum sampai. Jadi baru akan mau kelihatannya," lanjut Purbaya.
Kendati begitu Purbaya bakal mempertimbangkan untuk menambah penempatan dana SAL ke BTN apabila mereka sudah melayangkan surat.
"Tapi kalau sampai ke kita, kita lihat, kita assess, kita pertimbangkan untuk tambah," jelasnya.
Baca Juga: Saham Bank BUMN Rontok Serempak, Investor Cuek usai Menkeu Purbaya Suntik Rp76 T
Sebelumnya diwartakan Dirut BTN Nixon LP Napitupulu mengaku sudah mengirim surat ke pemerintah untuk meminta tambahan penempatan dana pemerintah atau SAL antara Rp5 triliun sampai Rp10 triliun.
Permintaan ini disampaikan setelah Kementerian Keuangan menyalurkan SAL jilid 2 ke beberapa bank Himbara dan Bank DKI. Adapun BTN mendapat jatah saat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyalurkan SAL jilid 1 dengan jumlah Rp 25 triliun.
Nixon mengeklaim duit pemerintah itu sudah hampir sepenuhnya terserap, sejak pertama kali diberikan pada awal September lalu.
“Kami lagi mengajukan surat. Tapi belum tahu disetujui atau tidak. Namanya usaha kan boleh saja. Kita ingin minta tambahan antara Rp5 triliun-Rp10 triliun jika mungkin,” kata Nixon usai agenda RUPSLB di Jakarta, Selasa (18/11/2025).
Nixon lebih lanjut mengatakan dana pemerintah jilid 1 yang ditempatkan di BTN sebesar Rp25 triliun akan sepenuhnya terserap pada November 2025. Per awal bulan ini, sekitar Rp24,7 triliun telah disalurkan sebagai kredit.
Ia mengatakan bahwa tambahan penempatan saldo anggaran lebih (SAL) diharapkan bisa mendukung kredit sektor perumahan yang masih ekspansi pada November hingga Desember tahun ini.
Berita Terkait
-
Saham Bank BUMN Rontok Serempak, Investor Cuek usai Menkeu Purbaya Suntik Rp76 T
-
Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,04% Q3 2025, Belanja Pemerintah Ikut Ngegas
-
Alasan Menkeu Purbaya Ngotot Gali Pajak dari Ekspor Emas
-
Kisi-Kisi Pelatih Timnas Indonesia Akhirnya Dibocorkan Sumardji
-
Bos Djarum Victor Hartono Terseret Kasus Dugaan Korupsi Tax Amnesty, Purbaya: Bukan Zaman Sekarang!
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Malaysia Geram Singapura Bawa-bawa Selat Malaka soal Penutupan Selat Hormuz oleh Iran
-
Panen Raya dan Stok Bulog Melimpah, Kenapa Harga Beras Justru Naik?
-
Rencana Kerja 2026: Lima Strategi Pertamina di Tengah Dinamika Geopolitik Global
-
Bank Dunia Puji Hilirisasi RI: Pelopor Industrialisasi Dunia, Potensi Cuan Masih Melimpah!
-
HET Beras di Maluku-Papua Jebol Berbulan-bulan, Pengamat: Janji Pemerintah Gagal Ditepati
-
Bank Dunia Puji Resiliensi Ekonomi RI, Sebut Indonesia Punya 'Tameng' Hadapi Gejolak Energi Dunia
-
Prabowo Gaspol Program 100 GW: Selamat Tinggal Diesel, Indonesia Menuju Mandiri Energi!
-
Alasan Danantara Ngebet Jalankan Proyek PSEL: Masyarakat Tak Mampu Bayar Iuran Sampah
-
Usai Lepas SariWangi ke Grup Djarum, Unilever (UNVR) Kini Jual Buavita?
-
Realisasi BBM Subsidi 2026 Aman, Stok Nasional di Atas 16 Hari