- Pembiayaan hijau Indonesia diprediksi menguat signifikan pada tahun 2026 didorong regulator dan transparansi global.
- Peningkatan pembiayaan hijau terkendala kesiapan pelaku usaha dan kualitas dokumentasi proyek berkelanjutan.
- Investasi berkelanjutan global menunjukkan imbal hasil 12,5%, lebih tinggi dari investasi tradisional 9,2%.
Suara.com - Prospek pembiayaan hijau alias green financing di Indonesia, diperkirakan akan menguat pada 2026, seiring dorongan regulator dan meningkatnya tekanan global terhadap transparansi keberlanjutan.
Tren ini terjadi di tengah upaya industri keuangan menyeimbangkan ekspansi kredit dengan pengelolaan risiko, terutama pada sektor-sektor yang belum memiliki kelayakan pembiayaan yang kuat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya meminta bank-bank besar meningkatkan porsi pinjaman hijau, mendorong perbankan lebih aktif menyalurkan pembiayaan kepada proyek dan pelaku usaha berorientasi keberlanjutan.
Namun, penguatan ini masih berjalan dengan sejumlah catatan di lapangan, mulai dari kesiapan pelaku usaha, kualitas dokumentasi ESG, hingga ketersediaan proyek hijau yang memenuhi standar pembiayaan.
Situasi tersebut turut menjadi sorotan para pemangku kepentingan industri, yang menilai peningkatan pembiayaan hijau harus dibarengi kesiapan ekosistem agar pertumbuhan tidak hanya bersifat administratif, melainkan berdampak pada transformasi ekonomi hijau.
Ketua Indonesia Corporate Secretary Association (ICSA), Katharine Grace, menilai peluang pembiayaan hijau pada 2026 cukup besar, terutama karena bank besar telah mencatatkan kenaikan porsi pinjaman hijau dalam beberapa tahun terakhir.
“Kalau melihat dari data-data yang dikeluarkan kan sekarang disclosure mengenai sustainability harus transparan. Kami lihat systemic bank itu selalu meningkat 15–18 (persen) sekarang sudah banyak di atas 20, jadi memang harus diminta meningkat,” ungkap Grace di sela acara Green Economic Outlook 2026, Kamis (11/12/2025).
Ia mengatakan, salah satu pendorong pertumbuhan pembiayaan hijau dapat berasal dari sektor UMKM.
Bank Indonesia disebut tengah menyiapkan program UMKM Green untuk memperluas akses kredit hijau bagi pelaku usaha kecil.
Baca Juga: Waduh, OJK Temukan 39.392 Rekening Terhubung Judi Online!
Namun, Grace menilai tantangan terbesarnya justru ada pada sisi kelayakan usaha.
“Kami menemukan banyak UMKM itu belum bankable, jadi ini pinjaman yang risikonya tinggi. Ini yang kita harus tetap berpihak kepada UMKM, green UMKM jadi harus ada mitigasi, pemantauan yang lebih ketat karena kalau ujungnya kemudian kreditnya mahal juga tidak mendukung,” kata Grace.
Ia juga menyoroti masih banyak perusahaan yang belum mengadopsi energi terbarukan dalam operasionalnya.
Padahal, menurutnya, perbankan telah menyiapkan kapasitas untuk mendongkrak kredit hijau.
“Nah itu yang juga inklusivitasnya di situ. Tidak hanya bank yang terus harus menaikkan loan growth tapi pipeline-nya juga artinya permintaannya harus juga kita genjot dan itu harus dari regulator,” ucapnya.
Sementara itu, Co-Founder & CEO Olahkarsa, Unggul Ananta, menyampaikan tren investasi berkelanjutan global kini menunjukkan performa positif.
Merujuk laporan Sustainability Reality dari Ford & Stanley, rata-rata imbal hasil investasi berkelanjutan mencapai 12,5 persen, lebih tinggi dari dana tradisional yang tumbuh 9,2 persen.
Menurutnya, ESG kini berkembang tidak hanya sebagai kewajiban kepatuhan, tetapi juga menjadi instrumen manajemen risiko dan katalis pertumbuhan bagi perusahaan maupun masyarakat.
“Tentu dari data ini mengirimkan suatu pesan yang penting di mana perusahaan mulai melihat bahwa ESG ini bukan hanya sekadar baik terhadap bumi dan masyarakat serta stakeholder, tetapi bagaimana pembiayaan ESG memiliki implikasi terhadap imunitas ekonomi yang lebih kuat dan kinerja finansial yang lebih baik,” pungkas Unggul.
Berita Terkait
-
OJK Gandeng OECD Ciptakan Keuangan Digital Berkualitas
-
Investasi Ilegal Rugikan Masyarakat Senilai Rp142 Triliun, Terbanyak dari Wilayah Ini
-
OJK Selidiki Dugaan Mirae Asset Sekuritas Lenyapkan Dana Nasabah Rp71 Miliar
-
Waspada! Penipuan Promo Tiket Murah Seliweran di Libur Akhir Tahun, Begini Modusnya
-
Rencana Dana Pensiunan untuk Atlit dan Pelatih, OJK: Itu Sangat Mungkin
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
ESDM Akui Tahan Ekspor Batu Bara Demi PLN, Masalah Pasokan PLTU Terungkap di Tengah Pemadaman
-
Wujud Nyata Komitmen ESG, Pegadaian Gelar Khitanan Massal 2026 Bagi 500 Anak
-
Marak Transaksi Palsu di Tokopedia, Pemerintah Gregetan!
-
Soal Laporan ke KPK, ITDC Klaim Tak Punya Wewenang Atur Dana Relokasi Mandalika
-
Menkeu Purbaya Legalkan Pencucian Uang Lewat Patriot Bond?
-
Investor Asing Masih Asik Jual Saham di RI, BMRI dan DSSA Jadi Incaran
-
Lahan Meikarta Bakal jadi Aset Negara? Maruarar Segera Urus Legalitas
-
Terungkap! Dua PLTU Raksasa di Cilacap Sempat Bermasalah, Jadi Pemicu Pemadaman Bergilir di Jawa
-
Listrik Pulau Jawa Gelap Gulita, Siapa yang Bertanggung Jawab?
-
Pupuk Indonesia Tembus Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dikebut hingga Akhir 2026