- Stop impor gula 2026 berisiko picu kelangkaan stok dan lonjakan harga di Juni-Juli.
- Perbedaan data konsumsi antara pemerintah dan pakar buat cadangan gula riskan habis Mei.
- Pemerintah diingatkan tak punya amunisi intervensi pasar jika spekulan tahan stok gula.
Suara.com - Rencana ambisius pemerintah untuk menutup kran impor gula konsumsi pada tahun 2026 mulai menuai kritik tajam. Para pakar mengingatkan adanya risiko besar berupa kelangkaan stok dan lonjakan harga di tengah masyarakat akibat perbedaan data konsumsi serta tantangan masa transisi produksi.
Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menyoroti bahwa keyakinan pemerintah yang merujuk pada Proyeksi Neraca Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) bisa menjadi bumerang jika tidak dihitung dengan cermat.
“Merujuk Proyeksi Neraca Pangan Bapanas per 4 Desember 2025, stok akhir tahun tercatat sekitar 1.437.324 ton. Dengan konsumsi bulanan 234.082 ton, stok ini dianggap cukup untuk 6,1 bulan. Inilah dasar pemerintah menutup impor,” ujar Khudori, Jumat (2/1/2026).
Meski di atas kertas stok terlihat cukup, Khudori memperingatkan adanya celah berbahaya pada periode April hingga Juli 2026. Berdasarkan pola historis, produksi gula domestik baru akan melimpah pada bulan Juni, sementara pasokan pada April dan Mei biasanya sangat minim.
“Jika pemerintah bersikeras menutup impor, ada potensi gejolak harga di Juni–Juli. Gula produksi Juni butuh waktu untuk masuk pasar, sementara stok lama sudah menipis,” jelasnya.
Masalah kian rumit karena adanya disparitas data. Perhitungan versi Jurnal GULA menunjukkan angka konsumsi masyarakat jauh lebih tinggi dibandingkan versi pemerintah. Jika menggunakan data Jurnal GULA, stok awal 2026 sebesar 1.210.000 ton hanya akan bertahan hingga pekan ketiga Mei 2026.
“Sangat riskan jika tidak ada impor. Stok hanya cukup untuk 4,7 bulan. Pemerintah tidak akan punya 'amunisi' untuk intervensi jika spekulan mulai menahan stok,” tambah Khudori.
Tanpa cadangan pangan yang memadai melalui impor pelengkap, pemerintah dikhawatirkan kehilangan kendali atas pasar saat masa giling tebu baru dimulai. Risiko lonjakan harga akibat pasokan yang ketat di tingkat ritel dapat langsung memukul daya beli masyarakat.
Khudori menekankan bahwa semangat swasembada pangan adalah hal positif, namun harus realistis terhadap fakta di lapangan. “Jangan sampai karena terlalu bersemangat swasembada, keputusan tidak impor justru membawa petaka bagi konsumen,” pungkasnya.
Baca Juga: Target Produksi Gula 3 Juta Ton Dinilai Ambisius
Hingga saat ini, pelaku industri dan masyarakat masih menanti kepastian langkah mitigasi dari kementerian terkait untuk menjamin stabilitas harga manisnya komoditas ini di meja makan rakyat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- Sheila Marcia Akui Pakai Narkoba Karena Cinta, Nama Roger Danuarta Terseret
Pilihan
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
Terkini
-
Target Harga Emas dan Perak 2026, Mampu Tembus Rekor Baru?
-
Bulog Potong Jalur Distribusi, Harga MinyaKita Dijamin Sesuai HET Rp 15.700 per Liter
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Saham DEWA Ngacir ke Level Tertinggi di Hari Pertama Bursa 2026
-
Emiten PSAB Menguat Tipis, Komisaris Akumulasi Saham Pasca Lego Massal
-
KFC dan Pizza Hut Resmi Merger, Nilai Transaksi Tembus Rp15,6 Triliun
-
IHSG Sumringah di Tahun Baru, Melesat ke Level 8.700
-
Bea Keluar Batu Bara 1 Januari 2026 Belum Berlaku, Purbaya-Bahlil Masih Godok PMK
-
Jelang Pergantian Direksi BEI, Purbaya Minta Tukang Goreng Saham Ditangkap
-
Ambisi Swasembada Gula 2026: Target Bongkar Raton 100 Ribu Hektare Terganjal Masalah Bibit