Bisnis / Keuangan
Minggu, 04 Januari 2026 | 12:19 WIB
Arsip foto - Petugas menata emas batangan di Butik Emas Logam Mulia (BELM) Antam Setiabudi, Jakarta, Jumat (12/7/2024). (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc/pri)
Baca 10 detik
  • Pengamat pasar uang memproyeksikan harga logam mulia berpotensi naik hingga Rp 2,61 juta per gram minggu depan.
  • Dinamika harga emas dipicu faktor global, termasuk eskalasi konflik Rusia-Ukraina dan ketegangan di Iran.
  • Kenaikan harga emas dunia diprediksi terjadi jika mencapai USD 4.505 per troy ounce, namun bisa turun jika USD 4.258.

Suara.com - Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga logam mulia cenderung alami kenaikan pada pekan depan. Bahkan, harga logam mulia bisa tembus Rp 2,61 juta per gram.

Dia menjelaskan, harga logam mulia sebesar itu jika memang harga emas dunia juga melonjak tinggi di level USD 4.505 per troy ounce.

Ibrahim menuturkan, jika memang harga emas dunia pada Senin, (5/1) mengalami kenaikan mencapai USD 4.426, maka harga logam mulai bisa sebesar Rp 2.518.000 per gram.

"Jadi ada kemungkinan besar di minggu depan sampai hari Sabtu. Kemungkinan kalau harga emas dunia naik, harga logam Mulia itu di Rp 2.610.000 per gram," ujarnya seperti dikutip , Minggu (4/1/2026).

Ilustrasi investasi emas, gambar emas batangan. (Tim Desain Suara.com)

Namun, jika harga emas dunia justru mengalami penurunan dimulai pada Senin di level USD 4.258, maka harga logam mulia bisa turun ke level Rp 2.458.000 per gram.

Ibrahim menilai, terdapat sejumlah faktor global yang menjadi pemicu utama dinamika harga emas, mulai dari geopolitik hingga perpolitikan Amerika Serikat. Dari sisi geopolitik, ia menyoroti eskalasi konflik Rusia dan Ukraina yang kembali memanas di awal tahun.

Apalagi, serangan drone Ukraina yang menyasar rumah dinas Presiden Rusia Vladimir Putin memicu serangan balasan besar-besaran dari Rusia.

"Ini yang mengindikasikan bahwa perang di Eropa ini semakin menjadi-jadi," kata Ibrahim.

Selain Eropa, ketegangan juga terjadi di Timur Tengah, khususnya Iran. Ia menjelaskan, pelemahan mata uang Iran terhadap dolar AS memicu demonstrasi besar-besaran yang berujung bentrokan.

Baca Juga: Harga Emas Antam Merosot Lebih dari Rp 100 Ribu, Saatnya Beli?

Situasi tersebut mendapat respons keras dari Amerika Serikat. Ibrahim menilai campur tangan AS berpotensi menambah ketegangan geopolitik global.

Ia menilai kombinasi ketegangan geopolitik, dinamika politik AS, serta kebijakan moneter longgar berpotensi mendorong lonjakan harga emas dunia dalam waktu dekat.

"Ini yang kemungkinan besar akan membuat harga emas kembali lagi mengalami kenaikan bahkan dalam perdagangan nanti pagi harga emas dunia kemungkinan besar akan terjadi game up yang cukup luar biasa," pungkas Ibrahim.

Load More