Bisnis / Ekopol
Senin, 05 Januari 2026 | 13:28 WIB
Donald Trump (Instagram)
Baca 10 detik
  • Amerika Serikat melancarkan operasi menjatuhkan Maduro dengan fokus dekapitasi rezim, berbeda dari invasi Irak sebelumnya.
  • Presiden Trump secara eksplisit menyatakan Amerika Serikat sedang memegang kendali atas pemerintahan Venezuela saat ini.
  • Tujuan utama AS adalah mengamankan minyak Venezuela dan menghilangkan pengaruh asing seperti Rusia serta Tiongkok.

Suara.com - Aksi Amerika Serikat yang melancarkan operasi militer kilat untuk menjatuhkan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro dibandingkan dengan serangan ke Irak yang hingga kini alibinya tidak terbukti.

Presiden Donald Trump secara eksplisit menuntut kepatuhan total demi mewujudkan ambisinya tentang belahan bumi barat yang setia pada visi "MAGA".

Fokus utama dari upaya ini kini tertuju pada Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, yang menjadi pemimpin sementara di Caracas sejak pasukan khusus AS membawa Maduro dan istrinya ke New York untuk diadili.

Pernyataan Kontroversial Trump: "Kami yang Berkuasa"

Pada Minggu malam, Trump memberikan pernyataan mengejutkan kepada media yang mengindikasikan bahwa Amerika Serikat secara de facto sedang menjalankan pemerintahan di Venezuela melalui tekanan terhadap Rodríguez.

Pernyataan ini menegaskan posisi keras AS yang tidak lagi sekadar menjadi pendukung transisi, melainkan pengendali langsung.

“Jangan bertanya siapa yang berkuasa, karena aku akan memberikan jawaban yang sangat kontroversial,” ujar Trump kepada wartawan.

Ia kemudian melanjutkan dengan nada yang lebih tegas, “Ini artinya kami yang berkuasa. Kami berkuasa."

Klaim kepemilikan otoritas atas negara berdaulat yang berjarak seribu mil dari daratan AS ini menunjukkan betapa fundamentalnya perubahan postur politik luar negeri Trump.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Mulai Mendidih Akibat Ulah Trump Kudeta Venezuela

Ia tampak semakin berani setelah kesuksesan serangan di Venezuela, bahkan sempat melontarkan kritik pedas bahwa Kolombia sedang "sangat sakit" dan Meksiko harus segera "memperbaiki diri".

Alih-alih melakukan pembangunan bangsa (nation-building) yang memakan biaya besar dan darah seperti perang pasca-9/11, pemerintahan Trump memilih untuk merangkul sisa-sisa rezim Maduro di bawah ancaman.

Tujuannya jelas: memaksa presiden pelaksana Venezuela menjadi wadah bagi kekuasaan AS di dalam negerinya sendiri.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth mempertegas hal ini dalam keterangannya kepada CBS News: “Presiden Trump menetapkan syarat-syaratnya. … (Dia) telah menunjukkan kepemimpinan Amerika dan dia akan dapat menentukan ke mana kita akan melangkah selanjutnya.”

Meski Rodríguez sempat mengeluarkan kecaman publik atas penggulingan Maduro, tekanan dari Washington mulai membuahkan hasil.

Trump mengeluarkan ancaman gelap jika Rodríguez tidak kooperatif. “Jika dia tidak melakukan apa yang benar, dia akan membayar harga yang sangat mahal, mungkin lebih mahal daripada Maduro," tegas Trump melalui The Atlantic.

Load More