- PwC memproyeksikan pasar privat menjadi kontributor pendapatan terbesar industri manajemen aset global pada tahun 2030.
- Industri menghadapi tantangan margin menyempit akibat persaingan ketat dan biaya operasional tinggi sejak 2018.
- Integrasi AI dan tokenisasi aset dipandang sebagai solusi kunci untuk transformasi model bisnis dan pertumbuhan masa depan.
Suara.com - Berdasarkan proyeksi terbaru dari PricewaterhouseCoopers (PwC), pasar privat diprediksi akan menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi industri manajemen aset global pada tahun 2030.
Segmen ini diperkirakan akan memberikan kontribusi lebih dari separuh total pendapatan industri, dengan nilai fantastis mencapai 432,2 miliar dolar AS.
Lonjakan ini didorong oleh pergeseran minat investor yang kian melirik aset alternatif serta produk investasi yang terintegrasi dengan teknologi terkini.
Penegasan ini disampaikan oleh Penasihat PwC Indonesia, John Dovaston, dalam keterangan resminya di Jakarta pada Selasa (6/1/2026).
"Pasar privat menjadi mesin pertumbuhan industri, dan tokenisasi muncul sebagai salah satu kekuatan paling transformatif dalam asset manajemen global. Meskipun adopsinya masih berada pada tahap awal, potensinya untuk memperluas akses dan mengubah pengalaman investor tidak dapat disangkal," kata John Dovaston.
Mengacu pada laporan bertajuk PwC's 2025 Global Asset & Wealth Management Report, pasar privat tetap menjadi sektor paling menguntungkan.
Jika dibandingkan dengan manajer aset tradisional, tingkat laba per 1 miliar dolar AS aset kelolaan (Asset Under Management/AUM) di pasar privat tercatat sekitar empat kali lebih tinggi.
Secara makro, total AUM global diproyeksikan tumbuh dari 139 triliun dolar AS pada 2024 menjadi 200 triliun dolar AS pada 2030.
Pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) diperkirakan stabil di angka 6,2 persen. Selain itu, kekayaan global yang dapat diinvestasikan diprediksi melampaui 481 triliun dolar AS, yang dimotori oleh segmen orang kaya baru (mass affluent) dan individu berkekayaan bersih tinggi (high-net-worth individuals).
Baca Juga: Sering Kewalahan? Kuasai 8 Teknik Manajemen Waktu Ini
Meski prospek pendapatan terlihat cerah, industri ini tidak lepas dari tantangan berat. Para manajer aset saat ini tengah berjuang menghadapi penyempitan margin akibat persaingan yang kian ketat dan tingginya biaya operasional.
Data PwC mencatat beberapa poin krusial terkait tekanan profitabilitas:
Penurunan Laba: Laba per AUM telah merosot hingga 19 persen sejak tahun 2018.
Biaya Operasional: Sekitar 68 persen dari setiap satu dolar pendapatan terserap untuk biaya operasional.
Resistensi Investor: Sebanyak 60 persen investor institusional cenderung akan mengganti manajer aset jika struktur biaya dinilai terlalu mahal.
Tekanan Margin: Sekitar 89 persen manajer aset melaporkan adanya tekanan pada margin keuntungan mereka dalam lima tahun terakhir.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status "Cucu Nabi" Demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Harga Minyak Mentah Rekor Terendah dalam 2 Pekan, Mulai Turun di Bawah US$100
-
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.700 per Dolar, Pengamat Ungkap Faktor Penentu
-
Harga Emas Antam Melonjak Lagi, Tembus Rp 2,8 Juta/Gram
-
Suku Bunga BI Naik, Cicilan Utang Jadi Lebih Mahal? Cek Simulasi Terbarunya
-
Setelah Dijewer Dony Oskaria, PTPN Baru Bebaskan Kakek Mujiran
-
Ahli Ungkap Alasan Pemulihan Listrik Sumatra Tak Bisa Instan
-
Novo Nordisk Kantongi Restu FDA, Insulin Seminggu Sekali Resmi Meluncur
-
IHSG Dibuka Hijau Lagi, Bertahan di Level 6.100
-
IHSG Anjlok 8,5 Persen Pekan Lalu, Masihkah Ada Harapan Rebound Hari Ini?
-
Update Harga Emas Hari Ini 25 Mei 2026, Antam Sulit Tembus Level Rp3 Juta