- Rupiah dibuka melemah pada Selasa, 6 Januari 2026, mencapai Rp16.746 per dolar AS, turun 0,05 persen.
- Mayoritas mata uang Asia cenderung menguat terhadap dolar AS, meskipun beberapa mata uang seperti Won Korea melemah.
- Pelemahan rupiah disebabkan sentimen global dan data perdagangan domestik yang mengecewakan serta kekhawatiran anggaran.
Suara.com - Nilai tukar rupiah masih belum bangkit dari zona merah di pembukaan pagi ini.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Selasa (6/1/2026) dibuka pada level Rp16.746 per dolar Amerika Serikat (AS).
Alhasil, rupiah melemah 0,05 persen dibanding penutupan pada Senin yang berada di level Rp 16.740 dolar AS.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.748 per dolar AS.
Saat ini, pergerakan mata uang di Asia bervariasi dengan kecenderungan menguat.
Hal itu terlihat dengan ringgit Malaysia mencatat kenaikan terbesar yakni 0,35 persen disusul baht Thailand yang naik 0,24 persen.
Diikuti yuan China naik 0,05 persen dolar Singapura menguat 0,05 persen.
Hal itu juga terjadi pada peso Filipina naik 0,01 persen dan dolar Hong Kong naik 0,004 persen terhadap dolar AS.
Sedangkan beberapa mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS pagi ini. Won Korea melemah 0,11 persen, yen Jepang melemah 0,04 persen.
Baca Juga: Rupiah Masih Suram di Awal Pekan Ini, Merosot ke Level Rp 16.740
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah melemah dikarenakan sentimen global dan dalam negeri.
Namun data perdagangan Indonesia mengecewakan yang dirilis Senin masih membebani.
"Secara umum rupiah masih terbebani oleh langkah ekspansif pemerintah dan pelonggaran BI, permintaan domestik yang lemah setta kekuatiran defisit anggaran yg bersifat menengah hingga jangka panjang," katanya saat dihubungi Suara.com.
Kata dia, rupiah masih bisa bangkit dikarenakan dolar bakal mengalami pelemahan.
Hal itu disebabkan oleh data manufaktur Amerika Serikat yang membebani dolar.
"Sebenarnya rupiah berpotensi menguat walau terbatas oleh perlemahan dolar AS setelah data manufaktur ISM AS yg terkontraksi lebih besar dari perkiraan," tandasnya.
Berita Terkait
-
Mulai Bangkit, Rupiah Beri Tekanan pada Dolar ke Level Rp16.706
-
Penggunaan Dolar AS Mulai Ditinggalkan, Indonesia-Jepang Pilih Mata Uang Lokal
-
Rupiah Terus-terusan Meloyo, Hari Ini Tembus Rp 16.700
-
Rupiah Terus Tertekan, Dolar Amerika Melejit ke Level Rp16.700
-
Bank Indonesia : Pasokan Uang Tunai di Wilayah Bencana Sumatera Aman
Terpopuler
- 4 Mobil Sedan Bekas di Bawah 30 Juta Mudah Dirawat, Performa Juara!
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- Bupati Mempawah Lantik 25 Pejabat, Berikut Nama-namanya
- Stargazer vs Xpander: 10 Fakta Penentu MPV 7 Seater Paling Layak Dibeli
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
Pilihan
Terkini
-
Inflasi Tinggi Mengancam di Awal 2026, Apa Dampaknya?
-
Nama-nama di Balik Bursa Kripto ICEX, Benarkah Ada Haji Isam dan Happy Hapsoro?
-
Dilema Pengetatan Defisit APBD 2026: Antara Disiplin Fiskal dan Risiko Penurunan Belanja
-
Kelanjutan Proyek PLTN Tinggal Tunggu Perpres dari Prabowo
-
Tak Terbukti Dumping, RI Bisa Kembali Ekspor Baja Rebar ke Australia
-
Penggunaan SPKLU PLN Naik Hampir 500 Persen Saat Libur Nataru
-
Aturan Baru Soal Akuntan Dinilai Buka Peluang Kerja untuk Gen Z
-
Purbaya Siapkan Pembangunan Sekolah Terintegrasi Impian Prabowo, Apa Itu?
-
Ganti Jibor dengan INDONIA, BI Mau Buat Pasar Keuangan Lebih Transparan
-
Awas Bubble Pecah! Bahaya Mengintai saat IHSG Menuju Rp 10.000