- Rupiah ditutup melemah pada 13 Januari 2026 menjadi Rp 16.876 per USD, melanjutkan pelemahan delapan hari berturut-turut.
- Sebagian besar mata uang Asia melemah terhadap dolar AS, kecuali Ringgit Malaysia yang justru menunjukkan penguatan signifikan.
- Pelemahan rupiah disebabkan sentimen global serta kekhawatiran defisit anggaran domestik dan prospek suku bunga BI.
Suara.com - Nilai tukar rupiah masih belum pulih pada penutupan Selasa, 13 Januari 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 16.876 per USD.
Pelemahan ini membuat mata uang garuda sudah sakit selama delapan hari berturut-turut. Alhasil, rupiah melemah 0,12 persen dibanding penutupan pada Senin yang berada di level Rp 16.855 per USD.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.875 per USD.
Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia hampir seluruhnya melemah. Di mana, Baht Thailand mencatat pelemahan terdalam yakni 0,68 persen, disusul yen Jepang yang melemah 0,48 persen, won Korea melemah 0,42 persen.
Diikuti oleh peso Filipina melemah 0,13 persen. Lalu ada, rupee India melemah 0,13 persen, dolar Singapura melemah 0,08 persen, yuan China melemah 0,04 persen. Disusul oleh dolar Hong Kong melemah 0,04 persen dan dolar Taiwan melemah 0,01 persen. terhadap dolar AS.
Sedangkan ringgit Malaysia menjadi satu-satunya mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS sore ini dengan penguatan 0,23 persen.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Utama dunia ada di 98,98, naik dari sehari sebelumnya yang da di 98,86.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah disebabkan sentimen luar negeri. Salah satunya rencana the fed yang mau menurunkan suku bunganya.
Baca Juga: Cek Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA Hari Ini
"Rupiah melemah terhadap dolar AS yg rebound oleh pernyataan hawkis the Fed," katanya saat dihubungi Suara.com.
Namun rupiah sendiri juga masih tertekan oleh kekuatiran bahwa defisit anggaran bisa melewati 3 persen. Prospek pemangkasan suku bunga oleh BI juga masih membebani rupiah.
"Selagi belum ada perubahan kebijakan dan kondisi makro ekonomi domestik, rupiah akan terus tertekan," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Harga Minyak Turun Makin Dalam, Kabar Gencatan Senjata AS-Iran Menguat
-
Konflik Timur Tengah Mereda? Harga Minyak Langsung Terkoreksi
-
BRI Bagikan Dividen Rp52,1 T, Pemegang Saham Terima Rp346 per Saham
-
Babak Baru Diplomasi AS-Iran, Trump Ingin Ada Kesepakatan Cepat Akhiri Perang Iran
-
Rupiah Menguat Tipis di Tengah Pelemahan Dolar AS, Cek Harga Kurs Hari Ini
-
Motor Listrik MBG Pesanan BGN Rp56 Juta, di Marketplace Cuma Rp10 Juta?
-
Rusia Raup 'Durian Runtuh' Rp 325 Triliun dari Perang Iran Vs AS-Israel
-
IHSG Gaspol Terus, Melonjak ke Level 7.700 Pagi Ini
-
Emas Antam Lompat Tinggi Jadi Rp 2.893.000/Gram, Cek Daftar Harganya
-
Perkuat Ekosistem Digital, BRI Life Insurance Andalkan Modi