Bisnis / Energi
Rabu, 14 Januari 2026 | 10:53 WIB
Ilustrasi ekspor minyak [Shutterstock]
Baca 10 detik
  • Harga minyak Brent dan WTI terkoreksi tipis pada Rabu, 14 Januari 2025, setelah sebelumnya menguat signifikan.
  • Penurunan harga dipicu kembalinya ekspor minyak Venezuela serta kekhawatiran gangguan pasokan dari Iran.
  • Stok minyak mentah Amerika Serikat dilaporkan melonjak signifikan pada pekan yang berakhir 9 Januari.

Suara.com - Kenaikan harga minyak terhenti pada perdagangan Rabu 14 Januari 2025, setelah mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir. 

Penurunan harga dipicu kembalinya ekspor dari Venezuela. Secara bersamaan pasar juga sedang mengkhawatirkan gangguan pasokan akibat kerusuhan sipil yang terjadi di Iran.

Mengutip dari Investing.com, harga minyak Brent terkoreksi tipis 9 sen (0,14 persen) ke posisi 65,38 dolar AS per barel pada pukul 02:07 GMT atau 09:07 WIB.  

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 12 sen atau 0,20 persen  ke level 61,03 dolar AS per barel. 

Padahal pada hari Selasa, kedua kontrak tersebut ditutup menguat signifikan, Brent naik 2,5 persen dan WTI melonjak 2,8 persen.  

Secara akumulatif, harga minyak telah meroket 9,2 persen dalam empat sesi perdagangan terakhir akibat eskalasi aksi protes di Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan dari produsen minyak terbesar keempat di OPEC tersebut.

Pada Selasa, Presiden AS Donald Trump mendorong warga Iran untuk terus berunjuk rasa, sembari mengatakan, bantuan sedang dalam perjalanan tanpa merinci bantuan apa yang akan diberikan. 

Analis dari Citi menyatakan, dalam sebuah catatan bahwa aksi protes di Iran berisiko memperketat keseimbangan minyak global, baik melalui hilangnya pasokan dalam jangka pendek maupun peningkatan premi risiko geopolitik. 

Sejalan dengan kondisi tersebut, mereka menaikkan proyeksi harga minyak Brent untuk tiga bulan ke depan menjadi 70 dolar AS per barel.

Baca Juga: Trump Tangkap Nicolas Maduro: Kalau Presiden Tumbang, Gimana Nasib Venezuela?

Para analis Citi mencatat bahwa sejauh ini protes tersebut belum menyebar ke daerah penghasil minyak utama Iran, yang membatasi dampaknya terhadap pasokan sebenarnya.

"Risiko saat ini lebih condong ke gesekan politik dan logistik daripada gangguan langsung, sehingga dampaknya terhadap pasokan minyak mentah Iran dan arus ekspor tetap terkendali," kata mereka.

Di tengah kekhawatiran terhadap Iran, Venezuela mulai meningkatkan kembali produksi minyaknya yang sempat terhenti akibat embargo AS, seiring dengan dimulainya kembali aktivitas ekspor, berdasarkan keterangan tiga orang sumber. 

Dua kapal tanker raksasa telah bertolak dari perairan Venezuela pada hari Senin dengan membawa masing-masing 1,8 juta barel minyak mentah. 

Pengiriman tersebut diyakini sebagai tahap awal dari kesepakatan pasokan 50 juta barel antara Caracas dan Washington pasca-penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh AS.

Meski dibayangi isu geopolitik, fundamental pasar sebenarnya menunjukkan kondisi pasokan yang melimpah. Hal ini dipertegas oleh data stok minyak AS yang dirilis Selasa malam. 

Load More