Bisnis / Keuangan
Kamis, 15 Januari 2026 | 09:42 WIB
Ilustrasi petugas menunjukkan mata uang Rupiah dan Dolar AS di tempat penukaran uang. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Rupiah dibuka menguat pada Kamis (15/1/2026) di level Rp16.862 per dolar AS setelah delapan hari terpuruk.
  • Penguatan rupiah dipicu intervensi Bank Indonesia, namun berpotensi melemah akibat data ekonomi AS yang kuat.
  • Pergerakan mata uang Asia bervariasi; Dolar Taiwan menguat terbesar, sementara Won Korea Selatan melemah paling dalam.

Suara.com - Nilai tukar rupiah masih masuk zona hijau pada pembukaan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Kamis (15/1/2026) dibuka pada level Rp16.862 per dolar Amerika Serikat (AS).

Penguatan ini membuat mata uang garuda bangkit setelah terpuruk selama delapan hari berturut-turut.  

Alhasil, rupiah menguat 0,02 persen dibanding penutupan pada Rabu yang berada di level Rp16.865 dolar AS

Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.871 per dolar AS.  

Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Salah satunya, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,16 persen.

Disusul, yuan China dan yen Jepang yang sama-sama terkerek 0,06 persen. 

Ilustrasi Yuan [Unsplash/Timon]

Selanjutnya ada peso Filipina yang menanjak 0,04 persen, dan dolar Singapura terangkat 0,02 persen. Diikuti dolar Hongkong juga naik 0,02 persen

Kemudian ada ringgit Malaysia yang menguat tipis 0,01 persen terhadap the greenback.  

Namun, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,3 persen. Berikutnya ada baht Thailand yang melemah 0,16 persen pada perdagangan pagi ini. 

Baca Juga: Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.867

Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah dikarenakan intervensi dari BI. Sehingga, mata uang Indonesia kembali masuk zona hijau.

"Rupiah kembali didukung intervensi BI, walau demikian Rupiah masih berpotensi berbalik melemah terhadap dolar AS menyusul data ekonomi AS PPI, penjualan ritel dan rumah yang lebih kuat dari perkiraan," katanya saat dihubungi Suara.com.

Dia mengatakan, pemerintah juga harus mewaspadai tekanan global. Hal itu bisa membuat rupiah bisa kembali terpuruk pada penutupan sore nanti.

"Dolar AS juga didukung oleh pernyataan hawkish dari beberapa pejabat the Fed semalam. Range 16800-16950," tandasnya. 

Load More