- Peneliti CORE Andreas Santosa menyoroti risiko kerugian negara akibat penumpukan stok beras pemerintah yang besar tanpa strategi pelepasan jelas.
- Stok awal Bulog 3,36 juta ton; penambahan rencana hingga 7 juta ton melebihi kapasitas gudang 3 juta ton.
- Pemerintah diminta fokus pada tata kelola stok profesional, didukung data akurat, dan membebaskan Bulog dari intervensi.
Suara.com - Peneliti CORE Indonesia sekaligus Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa menyoroti potensi risiko dari kebijakan pengelolaan stok beras pemerintah yang terus membesar. Ia mengingatkan, stok beras yang menumpuk tanpa perhitungan pelepasan yang jelas bisa berujung pada kerugian negara.
Hal ini itu disampaikan dalam acara CORE Outlook Sektoral bertajuk “Ketahanan Pangan Indonesia 2026: Dari Bencana ke Strategi”. Dalam paparannya, ia menyinggung pentingnya kehati-hatian pemerintah dalam mengelola cadangan beras, khususnya yang berada di Perum Bulog.
Ia mencontohkan kasus di Thailand yang pernah mengalami guncangan politik akibat kebijakan beras. Kebijakan subsidi beras pada era Perdana Menteri Yingluck Shinawatra disebut membuat stok beras Thailand menumpuk hingga 15,5 juta ton.
Penumpukan tersebut pada akhirnya memukul ekspor dan menimbulkan kerugian negara hingga miliaran dolar AS. Kondisi itu dinilai menjadi pelajaran agar Indonesia tidak terjebak pada kebijakan stok besar tanpa strategi pelepasan yang matang.
“Ini negara nanti ada potensi rugi besar ini, si Bulog,” kata Andreas dalam forum tersebut, Selasa (20/1/2016).
Ia lalu mengungkapkan posisi stok awal tahun Bulog yang menurutnya sudah cukup besar. Ia menyebut stok awal tahun Bulog berada di angka 3,36 juta ton.
“Nah, stok awal tahun Bulog itu 3,36 juta ton. Stok awal tahun. Bagaimana melepaskan stok ini persoalan sangat besar,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan tidak berhenti pada pencapaian stok tinggi. Yang lebih krusial adalah mekanisme keluar-masuk beras di Bulog, termasuk strategi menyalurkan stok agar tidak menimbulkan beban tambahan.
“Kalau tidak, akan terjadi disposal yang luar biasa besar. Dan yang dirugikan siapa? Semuanya,” lanjutnya.
Baca Juga: Bulog Potong Jalur Distribusi, Harga MinyaKita Dijamin Sesuai HET Rp 15.700 per Liter
Ia juga menyinggung wacana penambahan stok yang dapat membuat cadangan beras semakin besar. Ia menilai, rencana penyerapan yang tinggi perlu dibarengi dengan kemampuan logistik dan distribusi yang realistis.
Ia menekankan, tata kelola stok pangan harus mempertimbangkan kapasitas penyimpanan hingga kemampuan pelepasan ke pasar. Sebab, jika stok terus dipaksa naik, risiko penumpukan dinilai makin besar.
“Apalagi rencananya sampai 7 juta ton. Waduh, kapasitas gudang Bulog aja hanya 3 juta ton,” ucapnya.
Ia menilai, Bulog seharusnya diberi ruang untuk menghitung strategi pengelolaan stok secara profesional. Lembaga tersebut diminta tidak dibebani kepentingan lain di luar fungsi stabilisasi pangan.
“Bulog itu seharusnya bebas dari intervensi pihak manapun. Sehingga Bulog bisa menghitung in-out dengan lebih tepat,” katanya.
Ia juga mengingatkan, stok besar bukan semata soal pencitraan. Menurutnya, yang lebih penting adalah bagaimana stok tersebut dikelola untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan, tanpa menciptakan pemborosan fiskal.
“Bukan kemudian Bulog ditimbun beras sedemikian besar, enggak tahu cara menjualnya, melepaskannya,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia meminta pemerintah memperkuat kebijakan pangan yang berbasis fakta dan data yang akurat. Ia menilai, perbaikan data dasar, prakiraan pasar, serta manajemen risiko harus menjadi pijakan utama dalam menentukan kebijakan stok pangan pemerintah.
“Jangan kebijakan berdasarkan hapalan, kepentingan pribadi, berdasarkan ego, dan lain sebagainya. Tapi berlandaskan fakta," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Bos Bulog Ungkap Stok Beras Melimpah di Aceh Jelang Ramadan
-
Harga Beras SPHP Semua Wilayah Rp 12.500 per Kg, Pengecer Untung?
-
Bulog Gempur Aceh dengan Tambahan 50.000 Ton Beras: Amankan Pasokan Pasca-Bencana dan Sambut Ramadan
-
Bulog Bidik APBN untuk Pengadaan 4 Juta Ton Beras 2026, Demi Lindungi Petani dan Jaga Harga Pangan
-
Bulog Bersiap Ambil Kendali Penuh Pasokan Pangan Nasional dan Lepas Status BUMN
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
Terkini
-
Piala Dunia 2026 Kalah Populer dari Liga Super Desa di China, Bagaimana Bisa?
-
Berkaca dari Kasus Hotman Paris: Popularitas dan Jabatan Bukan Alasan Merendahkan Profesi Lain
-
Nadeo Argawinata Selangkah Lagi Gabung Persija? Begini Faktanya
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
5 Produk Sunscreen yang Bagus untuk Mencegah Flek Hitam, Tekstur Ringan Sesuai Review
-
Studi: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyakit yang Ditularkan Air, Bagaimana Bisa?
-
Dosen UFDK Diduga Jadi Korban Kekerasan Satpol PP
-
4 Inspo OOTD Girl Crush ala Chiquita BABYMONSTER yang Kekinian Buat Dicoba!
-
GIIAS 2026, ACC dan TAF Jadi Platinum Financial Partner: Dukung Industri Otomotif Nasional
-
Pemerintah Genjot PNBP: Jangan Sampai Tarif Naik, Layanan Publik Jalan di Tempat