- Pemerintah menghentikan total impor solar mulai tahun 2026, termasuk untuk operator SPBU swasta seperti Shell.
- Solar jenis CN48 kini diproduksi kilang dalam negeri melalui RDMP Balikpapan yang telah beroperasi.
- Solar jenis CN51 masih akan diimpor hingga semester I 2026 karena kebutuhan domestik belum terpenuhi seluruhnya.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memastikan pemerintah mulai menghentikan impor solar 2026. Keputusan tersebut juga berlaku bagi operator SPBU swasta.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan dengan penghentian impor, SPBU swasta seperti Shell hingga BP-AKR dapat membeli solar dari kilang milik Pertamina.
"Semua membeli di kilang Pertamina. Kan enggak ada kilang lain selain Pertamina dan TWU, kilang kecil," ujar Laode di Kompleks Parlemen, Jakarta yang dikutip pada Jumat (23/1/2026).
Laode menjelaskan, jenis BBM solar yang beredar di Indonesia ada, yakni cetane number (CN) 48 dan CN51. Untuk solar CN48, kebutuhannya telah dapat diproduksi Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang telah mulai beroperasi.
Sementara untuk solar CN51 masih akan diimpor sampai dengan semester I 2026.
"Yang jelas, solar dalam negeri sudah tidak kita impor. Solar itu ada dua, CN48 dan CN51. Yang CN48 dengan RDMP Balikpapan sudah tuntas, yang C51 masih perlu penambahan unit operasi lagi," jelas Laode.
Lebih lanjut Laode menjelaskan bahwa kebijakan penghentian impor solar diambil karena kebutuhan domestik saat ini sudah bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri, sehingga tidak perlu lagi mendatangkan produk jadi dari luar negeri.
"Sekarang produknya tidak akan ada yang diimpor. Dibikin di sini, dibikin di kilang nasional," katanya
Kebijakan penghentian impor sebelumnya disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Bahlil menyebut dengan mulai beroperasinya RDMP Kilang Balikpapan, Indonesia akan mengalami surplus solar.
Baca Juga: Bahlil: Saya Menteri Gagal Jika Masih Ada Desa Tanpa Listrik
"Itu surplus kurang lebih sekitar 3-4 juta. Nah, agenda kami 2026 itu enggak ada impor solar lagi," kata Bahlil pada akhir tahun lalu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Pegadaian Cabang Bima Serahkan Bantuan CSR Peralatan Ibadah ke Masjid Al Ijtihad
-
Uji Lab Bahan Bakar Bobibos Dipercepat, ESDM Pastikan Standar sebelum Dipasarkan
-
Suku Bunga Tinggi, Milenial-Gen Z Kini Lebih Percaya Medsos Ketimbang Brosur Properti
-
Laba PNM Tembus Rp1,14 triliun, Dirut BRI: Pertumbuhan Sehat dan Berkelanjutan
-
Panen Padi Biosalin Tembus Rp1,23 Miliar di Tengah Cuaca Ekstrem
-
Harapan Konsumen Properti: Bunga KPR Jangan Tinggi-Tinggi!
-
Genjot Produktivitas Sapi Nasional, DPD RI Dorong Revitalisasi Vokasi Peternakan
-
Pelaku Industri Dorong Pendekatan Pengurangan Risiko Tembakau di RI
-
Menkeu Purbaya Masih Optimistis IHSG Tembus 10.000 Tahun Ini
-
Mau Jual Emas dan Untung Besar? Ya di Raja Emas Indonesia Saja!