Bisnis / Inspiratif
Jum'at, 30 Januari 2026 | 21:06 WIB
Pendiri Deep Intelligence Research (DIR) Rhenald Kasali berbicara dalam diskusi bertajuk Quantum Age, Big Data, dan Masa Depan Industri Media di Kantor Suara.com, Jakarta, Jumat (30/1/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • AMSI dan DIR mengadakan diskusi di Jakarta pada 30 Januari 2026 mengenai disrupsi industri media.
  • Rhenald Kasali menyarankan media fokus mencari audiens, membangun keterlibatan, serta mengikuti perubahan algoritma platform.
  • Suwarjono menegaskan kredibilitas data menjadi pembeda utama media profesional dari konten kreator saat ini.

Suara.com - Industri media di Indonesia kini sedang berada di persimpangan krusial dengan menghadapi berbagai disrupsi yang datang dari teknologi akal imitasi (AI), perubahan audiens dan pencarian model bisnis yang berkelanjutan.

Untuk mencari terobosan atas masalah itu, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) berkolaborasi dengan Deep Intelligence Research (DIR) menggelar diskusi bulanan bertajuk "Quantum Age, Big Data, dan Masa Depan Industri Media" di Kantor Suara.com di Mega Kuningan Timur, Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Pendiri DIR yang juga pakar manajemen bisnis Universitas Indonesia Rhenald Kasali dalam diskusi itu mengatakan industri media saat ini harus pandai mencari crowd, membangun engagement dengan pembaca dan membaca perubahan algoritma.

Rhenald mengatakan mencari crowd merupakan cara agar media mendapatkan audiens yang tepat, yang memang membutuhkan informasi yang diproduksi serta disajikan oleh media.

Sementara membangun engagement, dengan organisasi media merawat audiensnya, mendengarkan kebutuhan mereka dan memberikan ruang bagi mereka untuk bersuara.

"Engagement harus kita bangun ketika kita membuat berita. Harus ada menurut saya engagement. Hari ini orang ingin didengar,” ungkapnya.

Sementara soal algoritma, ia mengatakan perubahan pada algoritma platform digital harus terus diikuti suka tidak suka karena sangat berpengaruh untuk menjangkau audiens.

"Sayang sekali kalau teman-teman bikin berita tidak memperhatikan algoritma. Hari ini algoritma kita harus lihat. Kata kuncinya apa, kemudian hashtag-nya apa, pengaruhnya bagaimana, terus diobservasi dengan judul ini bagaimana, kira-kira seperti apa, masyarakat berpengaruh bagaimana," papar Rhenald.

Pembicara lainnya, Wakil Ketua Umum AMSI yang juga CEO Suara.com, Suwarjono menekankan bahwa pembeda utama antara media profesional dan influencer atau konten kreator adalah kredibilitas. Di saat influencer lebih banyak mengandalkan pengalaman subjektif atau pesanan sponsor, media siber harus berdiri tegak di atas fondasi data yang kuat.

Baca Juga: Dua Resep Kunci Masa Depan Media Lokal dari BMS 2025: Inovasi Bisnis dan Relevansi Konten

"Justru di situlah menurut saya kekuatan media kita," kata Suwarjono.

Ia juga menyoroti perubahan model bisnis media. Menurutnya, era mengejar traffic masif melalui isu hiburan dan gosip mulai memudar karena kalah bersaing dengan platform gratis lainnya.

Masa depan media terletak pada konten dan informasi mendalam yang memiliki story behind the story, terutama di sektor ekonomi dan bisnis.

“Tapi untuk membuat story behind the story terkait transaksi, terkait corporate action, terkait dengan misalnya mengupas kelayakan sebuah perusahaan terbuka misalnya, dengan background-background dan lain-lain, itu yang punya media. Hanya media yang punya itu," tambahnya.

Yang tak kalah penting, terang Suwarjono, adalah media harus berani untuk melakukan cepat beradaptasi dengan perubahan agar bisa menemukan tidak saja audiens tapi juga model bisnis yang tepat serta berkelanjutan.

Penulis: Tsabita Aulia

Load More