Bisnis / Makro
Minggu, 01 Februari 2026 | 09:37 WIB
Prajogo Pangestu

Suara.com - Dalam peta pasar modal Indonesia, nama Prajogo Pangestu tetap menjadi figur yang kerap memicu perhatian. Ia dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia.

Sebagai pendiri Barito Pacific Group, Prajogo berhasil mentransformasi bisnisnya dari sektor perkayuan menjadi konglomerasi lintas industri yang mencakup petrokimia, energi terbarukan, hingga pertambangan.

Keberhasilannya membawa sejumlah emiten melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadikannya salah satu orang terkaya di dunia dengan estimasi kekayaan bersih mencapai US$ 36-38 miliar atau melampaui Rp 600 triliun.

Portofolio Saham Barito Group

Hingga saat ini, kekuasaan bisnis Prajogo Pangestu di pasar modal didominasi oleh empat emiten utama, ditambah dengan beberapa anak usaha strategis. Berikut adalah rincian portofolio saham yang terafiliasi dengan beliau:

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Fokus pada sektor energi baru terbarukan, khususnya panas bumi.

PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Entitas induk (holding) yang menaungi bisnis petrokimia, energi, dan properti.

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Raksasa petrokimia terbesar yang menjadi tulang punggung industri hilir Indonesia.

PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): Lini bisnis yang bergerak di sektor pertambangan batu bara dan emas.

Baca Juga: OJK Pastikan Reformasi Pasar Modal Tetap Berjalan di Tengah Transisi Kepemimpinan

PT Petrosea Tbk (PTRO): Perusahaan jasa pertambangan dan konstruksi yang baru diakuisisi beberapa waktu lalu.

PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA): Anak usaha terbaru di sektor infrastruktur dan energi yang melakukan IPO pada 2025.

PT Gozco Plantations Tbk (GZCO): Emiten yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit.

Rekam Jejak Karier: Dari Bengkayang Menuju Puncak Dunia

Perjalanan hidup pria kelahiran Bengkayang, 13 Mei 1944 ini seringkali menjadi inspirasi di dunia bisnis. Lahir dengan nama Phang Djoen Phen dari keluarga sederhana, Prajogo muda hanya menamatkan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Sebelum merajai bursa saham, ia pernah menjalani profesi sebagai sopir angkutan kota rute Singkawang-Pontianak pada era 1960-an.

Titik balik hidupnya terjadi saat ia bertemu pengusaha kayu asal Malaysia, Burhan Uray. Bergabung dengan Djajanti Group menjadi pintu masuknya ke dunia industri perkayuan.

Load More