- Harga Bitcoin (BTC) pada Senin (9/2/2026) naik menjadi USD 70.612, namun indikator Klinger Oscillator menunjukkan institusi tidak mendukung kenaikan tersebut.
- Secara teknikal, pemulihan harga membentuk pola Bear Flag, mengindikasikan potensi jebakan bagi pembeli sebelum tren turun lebih dalam.
- Peningkatan signifikan pemegang jangka pendek menunjukkan pasar rentan terhadap aksi jual panik, mengancam stabilitas harga saat ini.
Suara.com - Setelah sempat terpuruk hingga mendekati level USD 60.000 pada 6 Februari lalu, harga Bitcoin (BTC) kini berhasil bangkit hampir 20%. Per hari ini, Senin (9/2/2026), sang raja kripto terpantau diperdagangkan di kisaran USD 70.612, kembali menembus zona psikologis USD 70.000.
Kenaikan ini memicu euforia "buy the dip" di kalangan trader ritel yang meyakini bahwa titik terendah lokal telah tercapai.
Namun, di balik angka-angka hijau tersebut, sejumlah data on-chain dan indikator volume justru memberikan peringatan keras bahwa tren naik ini mungkin sangat rapuh.
Analisis mendalam terhadap Klinger Oscillator—indikator volume yang melacak aktivitas "uang besar" atau institusi—menunjukkan adanya divergensi yang mencurigakan.
Indikator ini dirancang untuk mendeteksi apakah para pemain besar sedang membangun posisi jangka panjang atau hanya melakukan aksi "pompa dan buang" (pump and dump).
Data menunjukkan pola yang mirip dengan kejadian periode Oktober 2025 hingga Januari 2026:
- Divergensi Bearish: Saat harga Bitcoin tampak berusaha bangkit, arus uang masuk dari institusi justru tidak sekuat kenaikan harganya.
- Aksi Ambil Untung: Kenaikan Klinger Oscillator yang terjadi bersamaan dengan penurunan harga tajam sebelumnya (Januari ke Februari) mengindikasikan bahwa whale mungkin hanya memanfaatkan pantulan harga untuk melikuidasi aset mereka, bukan untuk investasi permanen.
Dilansir via Beincrypto, secara teknikal, pemulihan harga saat ini membentuk pola yang dikenal sebagai Bear Flag. Pola ini sering kali menjadi jebakan bagi para pembeli (bull trap) karena biasanya diikuti oleh kelanjutan tren turun yang lebih dalam.
Jika garis pendukung (support) bawah pada pola ini gagal dipertahankan, Bitcoin berisiko mengalami koreksi lanjutan yang cukup ekstrem.
Target penurunan secara teoritis bahkan diproyeksikan bisa menyentuh zona USD 43.470, yang berarti terjadi penyusutan nilai sekitar 35% dari harga saat ini.
Baca Juga: Bitcoin Sulit Tembus Level USD 90.000, Proyeksi Analis di Tengah Penguatan Emas
Meskipun Coinbase Premium Index—indikator minat institusi Amerika Serikat—mulai merangkak naik ke level -0,07 dari titik terendahnya di -0,22, sejarah mencatat bahwa pemulihan indeks ini sering kali bersifat menipu.
Pada siklus sebelumnya di tahun 2024 dan akhir 2025, perbaikan minat dari AS justru sering muncul tepat sebelum harga mencapai titik terendah yang sebenarnya.
Dengan kata lain, permintaan yang membaik saat ini bisa jadi hanya fase "napas pendek" sebelum koreksi yang lebih dalam terjadi.
Data HODL Waves mengungkap fakta menarik: pemegang Bitcoin jangka pendek (durasi 1 hari hingga 1 minggu) melonjak lebih dari 60% sejak 5 Februari. Kelompok ini dikenal sangat reaktif dan mudah panik (panic selling) ketika harga sedikit goyang.
Kehadiran spekulan jangka pendek yang dominan membuat struktur pasar menjadi tidak stabil dan rentan terhadap aksi jual masif sewaktu-waktu.
Berita Terkait
-
Bitcoin Terperosok ke USD 60.000, Analis Indodax Ungkap Dampaknya ke Pasar Kripto
-
COIN Optimistis Pemangkasan Biaya Transaksi CFX Akan Picu Efek Berganda
-
Harga Bitcoin Anjlok Parah di USD 70.000, Analis Peringatkan Ancaman Tembus USD 50.000
-
Withdrawal Binance Mendadak Error, Apa Penyebabnya?
-
Harga Bitcoin Sulit Bangkit dan Terkapar di Level USD 70.000, Efek Epstein Files?
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
Terkini
-
Setelah Baja, Industri Rokok Juga Ikut Terancam Gulung Tikar
-
Harga Emas Anjlok, Kemendag Pangkas Patokan Ekspor dan Referensi
-
Rupiah Terpuruk ke Rp17.500, Ekonom Warning Risiko Dolar AS Sentuh Rp18.000
-
Kontribusi PDB Tembus Rp 8.573 T, Kenapa Setoran Pajak UMKM Masih Kecil?
-
Harga Emas Antam Anjlok Hari Ini, Dibanderol Rp 2.819.000/Gram
-
Aktivitas Selat Hormuz Masih Seret, Harga Minyak Brent Tembus 106 Dolar AS
-
Membaca Peluang di Tengah Ketidakpastian, Properti Tetap Jadi Instrumen Investasi Paling Relevan
-
Waspada, Ekonomi Indonesia Bakal Dihantam Tekanan Global
-
Bank Indonesia Perkuat Pengendalian Inflasi Demi Jaga Harga Bahan Pokok Tidak Naik
-
OJK Perkuat Kepastian Hukum Demi Jaga Penyaluran Kredit