Bisnis / Ekopol
Minggu, 01 Maret 2026 | 14:59 WIB
Mojtaba Hosseini Khamenei (tengah) [Webangar.ir]

a menempuh pendidikan agama di seminari bergengsi di Qom, di bawah bimbingan beberapa ulama paling konservatif di Iran, termasuk mendiang Ayatollah Mohammad-Taqi Mesbah Yazdi.

Meskipun secara akademis ia belum mencapai gelar "Ayatollah" (yang biasanya menjadi syarat tak tertulis untuk menjadi Pemimpin Tertinggi), banyak pihak meyakini bahwa proses "akselerasi" gelar keagamaan bisa saja terjadi demi melegitimasi posisinya sebagai suksesor sang ayah.

Nama Mojtaba Khamenei mulai dikenal luas secara negatif oleh publik internasional saat pecahnya protes pemilu tahun 2009 (Gerakan Hijau).

Ia dituduh sebagai sosok di balik layar yang memerintahkan tindakan keras dan represif terhadap para demonstran.

Reputasinya sebagai tokoh garis keras (hardliner) semakin kuat setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepadanya pada tahun 2019 atas perannya menekan aktivitas regional yang dianggap mengancam stabilitas.

Dilema Suksesi: Dinasti atau Revolusi?

Mencuatnya nama Mojtaba sebagai pengganti Ali Khamenei memicu perdebatan sengit di internal Iran. Revolusi Islam 1979 dibangun di atas semangat anti-monarki dan penolakan terhadap kepemimpinan turun-temurun.

J Mojtaba benar-benar naik takhta, Iran menghadapi dilema ideologis: apakah mereka sedang membangun "dinasti baru" dalam bingkai Republik Islam?

Namun, dengan situasi perang yang kini sedang berkecamuk di depan pintu Teheran, militer dan IRGC kemungkinan besar akan memprioritaskan stabilitas serta keberlanjutan garis kebijakan keras yang selama ini diwakili oleh Mojtaba.

Baca Juga: Timur Tengah Memanas, KBRI Riyadh Minta WNI Siapkan Dokumen dan Segera Lapor Diri

Kontributor : Rizqi Amalia

Load More