a menempuh pendidikan agama di seminari bergengsi di Qom, di bawah bimbingan beberapa ulama paling konservatif di Iran, termasuk mendiang Ayatollah Mohammad-Taqi Mesbah Yazdi.
Meskipun secara akademis ia belum mencapai gelar "Ayatollah" (yang biasanya menjadi syarat tak tertulis untuk menjadi Pemimpin Tertinggi), banyak pihak meyakini bahwa proses "akselerasi" gelar keagamaan bisa saja terjadi demi melegitimasi posisinya sebagai suksesor sang ayah.
Nama Mojtaba Khamenei mulai dikenal luas secara negatif oleh publik internasional saat pecahnya protes pemilu tahun 2009 (Gerakan Hijau).
Ia dituduh sebagai sosok di balik layar yang memerintahkan tindakan keras dan represif terhadap para demonstran.
Reputasinya sebagai tokoh garis keras (hardliner) semakin kuat setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepadanya pada tahun 2019 atas perannya menekan aktivitas regional yang dianggap mengancam stabilitas.
Dilema Suksesi: Dinasti atau Revolusi?
Mencuatnya nama Mojtaba sebagai pengganti Ali Khamenei memicu perdebatan sengit di internal Iran. Revolusi Islam 1979 dibangun di atas semangat anti-monarki dan penolakan terhadap kepemimpinan turun-temurun.
J Mojtaba benar-benar naik takhta, Iran menghadapi dilema ideologis: apakah mereka sedang membangun "dinasti baru" dalam bingkai Republik Islam?
Namun, dengan situasi perang yang kini sedang berkecamuk di depan pintu Teheran, militer dan IRGC kemungkinan besar akan memprioritaskan stabilitas serta keberlanjutan garis kebijakan keras yang selama ini diwakili oleh Mojtaba.
Baca Juga: Timur Tengah Memanas, KBRI Riyadh Minta WNI Siapkan Dokumen dan Segera Lapor Diri
Kontributor : Rizqi Amalia
Berita Terkait
-
Irak Ikut Terseret dalam Konflik Iran-AS-Israel, Tegaskan Tutup Wilayah Udara
-
Siapa Ali Khamenei? Pemimpin Tertinggi Iran Tewas Usai Serangan AS dan Israel
-
Buntut Perang AS vs Iran, Bandara King Abdulaziz Terbitkan Surat Peringatan Perjalanan
-
Adian Napitupulu Kecam Agresi AS-Israel ke Iran: Board of Peace atau Board of War?
-
Nostalgia Piala Dunia 1998: Amerika Serikat dan Iran Pernah Akrab
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- 6 Sepatu Puma Wanita yang Lagi Diskon 55 Persen di Toko Resmi, Ada Model Lari hingga Sneaker
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Tak Cuma AS, Pemerintah RI Siapkan 'Karpet Merah' DHE SDA Eksportir Asing
-
Perkuat GCG dan Efisiensi, Pengamat Apresiasi Tata Kelola BUMN
-
Danantara Sumberdaya Indonesia Beroperasi, Pemerintah Masih "Buta" Soal Target Kinerja
-
DSI Resmi Kelola Ekspor Mulai 1 Juni, Ada Bocoran Peran Dirjen Bea Cukai
-
Belajar dari 'TikTok', Rugi di Pasar Modal: Bahaya Investasi Berbasis Tren Media Sosial
-
Bisnis Gerai Minuman di Tengah Tekanan Ekonomi, Ada yang Tutup dan Berkembang
-
IHSG Ambles Tapi Aset Emiten Melesat Rp94 Triliun, Ini Penyebabnya
-
Harga CPO Anjlok Pertengahan Tahun 2026, Kemendag Ungkap Penyebabnya
-
Rincian Aturan Baru Pajak UMKM: CV, Firma, dan PT Baru Kehilangan Fasilitas PPh
-
Harga Pangan Kian Meroket: Cabai Merah Besar Tembus Rp107 Ribu, Beras Ikut Naik