Bisnis / Ekopol
Rabu, 04 Maret 2026 | 15:06 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan beras impor Amerika Serikat merupakan beras khusus jenis basmati untuk memenuhi selera turis. [Antara]
Baca 10 detik
  • Menteri Pertanian menyatakan impor 1.000 ton beras AS khusus jenis basmati untuk turis asing, bukan konsumsi umum.
  • Rencana impor beras tersebut dianggap tidak signifikan karena volume ekspor beras dalam waktu dekat lebih besar.
  • Impor beras 1.000 ton adalah bagian dari kesepakatan dagang tarif imbal balik dengan Amerika Serikat.

Suara.com - Rencana impor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat (AS) tidak bertentangan dengan klaim swasembada, karena jumlahnya sangat kecil dan bersifat khusus buat turis-turis asing yang berkunjung ke Indonesia, demikian disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Ia menjelaskan beras yang direncanakan diimpor merupakan beras khusus jenis basmati untuk memenuhi kebutuhan pasar tertentu, bukan beras konsumsi umum masyarakat Indonesia.

"Itu baru akan (diimpor). Itu pun kalau diimpor adalah beras khusus karena (beras jenis) basmati sesuai dengan (selera) turis-turis yang datang, investor (yang) datang," kata Amran dikonfirmasi di sela-sela kegiatan Pelepasan Ekspor Unggas dan Produk Turunannya sebanyak 545 ton senilai Rp18,2 miliar ke negara Jepang, Singapura dan Timor Leste di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Beras khusus tersebut diperuntukkan bagi segmen restoran, hotel, serta kebutuhan wisatawan dan investor asing yang memiliki preferensi rasa berbeda dari beras lokal.

"Karena taste-nya ini untuk turis kita yang datang," ujar Amran.

Amran pun mencontohkan calon jamaah haji Indonesia di Tanah Suci cenderung memilih beras lokal dibandingkan beras Arab Saudi karena cita rasa lebih sesuai selera masyarakat Indonesia.

"Jadi, sama kita ke mana nih berangkat (haji), senangnya beras yang pulen, yang beras inpari, Cianjur," jelasnya.

Ia juga menyoroti rencana ekspor beras sebanyak 2.280 ton dalam waktu dekat ke Arab Saudi sebagai indikator kepercayaan diri pemerintah terhadap produksi domestik. Beras itu akan diekspor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi calon jamaah haji Indonesia di Tanah Suci.

Menurutnya, volume ekspor tersebut justru lebih besar dibandingkan rencana impor, sehingga publik diminta melihat neraca perdagangan beras secara utuh dan proporsional.

Baca Juga: Mentan Amran Keluarkan Ancaman Tanggapi Keluhan Terkait Impor Sapi

Beras yang akan diekspor merupakan beras premium produksi dalam negeri dengan kualitas tinggi dan memiliki daya saing di pasar internasional. Beras itu akan dilakukan Perum Bulog.

Oleh karena itu, ia berharap penting bagi publik memahami perbedaan antara beras khusus impor dan beras premium ekspor agar tidak menimbulkan persepsi keliru mengenai kebijakan pangan nasional.

Tak signifikan

Bahkan menurut Mentan, stok beras nasional yang dikelola Perum Bulog saat ini melimpah dan mencapai hampir empat juta ton. Jika dibandingkan dengan total cadangan tersebut, rencana impor 1.000 ton itu kecil sehingga tidak signifikan terhadap ketahanan pangan nasional.

Mentan menyebut kondisi stok yang melimpah menjadi bukti Indonesia telah mencapai swasembada beras dan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri.

"Kita harus rasional. Jangan pakai rasa. Yang baru akan (impor beras 1.000 ton itu) seakan hantu, tetapi yang kita ekspor itu yang kita bahas sekarang," kata Amran.

Load More