- Gejolak geopolitik global, termasuk perang Iran-AS, memicu koreksi harga kripto di pasar internasional dan Indonesia.
- Aktivitas transaksi kripto relatif stabil meskipun harga sempat terkoreksi dalam akibat tekanan pasar global.
- CFX merekomendasikan produk derivatif sebagai instrumen lindung nilai terhadap volatilitas dan penurunan harga kripto.
Suara.com - Direktur Utama Bursa Kripto CFX, Subani, menilai gejolak geopolitik global termasuk konflik dan perang memang memberi dampak terhadap pasar kripto dunia. Apalagi, saat ini terjadi perang anatara Iran vs Amerika Serikat dan Iran
Namun demikian, menurutnya aktivitas transaksi kripto relatif tetap stabil meskipun harga sempat mengalami koreksi cukup dalam.
Subani menjelaskan bahwa pergerakan harga kripto di Indonesia tidak terlepas dari dinamika pasar global. Saat terjadi tekanan global, harga kripto cenderung mengikuti tren penurunan yang terjadi di pasar internasional.
“Kalau kita melihat market global, kripto memang mengalami penurunan. Ada koneksi harga secara global,” ujar Subani di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Selain faktor geopolitik, ia menyebut pergerakan harga kripto juga berkaitan dengan siklus empat tahunan yang selama ini dikenal di industri kripto. Meski begitu, ia menilai koreksi harga yang terjadi tidak diikuti penurunan aktivitas perdagangan secara signifikan.
“Terjadinya koreksi harga di kripto itu volume transaksi tidak sedalam koreksi harganya. Jadi relatif transaksi kripto masih lebih stabil dibandingkan kualitas dari harga kripto itu sendiri,” katanya.
Ia menambahkan, ketika konflik atau perang pertama kali terjadi, pasar kripto sempat mengalami tekanan cukup besar. Namun, pemulihan harga berlangsung relatif cepat sehingga kondisi pasar saat ini dinilai lebih stabil dibandingkan saat koreksi sebelumnya.
“Waktu perang awal terjadi memang ada koreksi harga cukup dalam. Tapi recovery-nya juga cukup cepat dan sekarang sudah lebih stabil dibanding waktu koreksi sebelumnya,” jelasnya.
Meski demikian, Subani mengakui pergerakan kripto sulit diprediksi secara cepat dan presisi karena sangat dipengaruhi sentimen global.
Baca Juga: Bursa Kripto CFX Siapkan Strategi Pasar Kripto RI Lebih Kompetitif
Dalam menghadapi volatilitas tersebut, CFX mendorong pemanfaatan produk derivatif sebagai instrumen lindung nilai (hedging).
Menurutnya, produk ini memungkinkan pelaku pasar melindungi nilai aset kripto mereka ketika harga di pasar spot mengalami penurunan.
“Walaupun di pasar spot ada dampak negatif seperti penurunan harga atau volume trading, produk derivatif bisa digunakan untuk lindung nilai,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pada perdagangan derivatif, investor masih berpeluang memperoleh keuntungan baik ketika pasar bergerak naik maupun turun, selama strategi transaksi dilakukan dengan tepat.
Secara keseluruhan, CFX tetap optimistis terhadap prospek industri kripto ke depan, meskipun pasar global masih dibayangi berbagai ketidakpastian geopolitik.
“Di derivatif, ketika market naik atau turun, pemain tetap bisa mendapatkan keuntungan sesuai dengan strategi trading-nya. Jadi memang produk derivatif ini kami hadirkan untuk melindungi nilai aset kripto,” tegasnya.
Berita Terkait
-
Investor Kripto Indonesia Mencapai 20,19 Juta, Indodax Sukses Bukukan Transaksi Rp201 Triliun
-
Antusiasme Tinggi, Waitlist Beta Bittime Flexible Futures Batch Pertama Gaet Ribuan Partisipan
-
Perangi Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme, Ekosistem Aset Digital Kian Diperkuat
-
Bitcoin Kembali ke Level USD 70.000: Akumulasi Nyata atau Jebakan Bull Trap?
-
COIN Optimistis Pemangkasan Biaya Transaksi CFX Akan Picu Efek Berganda
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
Penampakan Lukisan 44.000 Tahun di Lahan Tambang Milik BUMN
-
Askrindo Gelar Safari Ramadan di 11 Kota
-
Profil PT Berkah Beton Sadaya Tbk (BEBS), Saham yang Diduga Digoreng PT MASI
-
Ekonomi Israel di Ambang Kolaps, Perang Lawan Iran Habiskan Rp45 Triliun Per Minggu
-
Menuju Indonesia Digital, Akses Internet Cepat Menjadi Fondasi Utama
-
Pemerintah Klaim Perjanjian Dagang RI-AS Perkuat Ekspor Produk Lokal
-
Ambisi Telkom Siapkan Sovereign AI di 2028, Kurangi Bergantung dari Perusahaan Asing
-
Purbaya Umumkan Daftar 20 Calon Anggota Dewan Komisioner OJK, Tak Ada Suahasil-Misbakhun
-
10 Biang Kerok Fitch Pangkas Outlook Utang RI Jadi Negatif
-
Nestapa Kelas Menengah Jelang Lebaran: Dompet 'Layu' Sebelum Hari Raya