- Kebijakan tarif resiprokal AS dan ketegangan geopolitik diprediksi menekan kinerja asuransi marine cargo sepanjang 2026.
- OJK mengantisipasi dampak negatif ini melalui penguatan underwriting dan penyesuaian tarif premi yang prudent.
- Konflik global berpotensi meningkatkan risiko logistik dan mengganggu rantai pasok, memengaruhi premi asuransi.
Suara.com - Kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ketegangan geopolitik global, dinilai berpotensi menekan kinerja lini usaha asuransi pengangkutan (marine cargo) sepanjang tahun 2026.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupaya memperkuat strategi mitigasi risiko di tengah ketidakpastian tersebut.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (PPDP) OJK, Ogi Prastomiyono, mengatakan bahwa dinamika global seperti tarif resiprokal AS dan konflik geopolitik berpotensi menekan perdagangan internasional, yang menjadi tulang punggung bisnis asuransi marine cargo.
“Tarif resiprokal AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik berpotensi menekan perdagangan global sehingga memengaruhi pertumbuhan premi dan meningkatkan risiko pada asuransi marine cargo,” ujar Ogi dalam jawaban tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (24/6/2026)
Menurutnya, kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui penguatan underwriting, penyesuaian tarif premi, serta pengelolaan risiko yang lebih prudent oleh pelaku industri.
Berdasarkan data OJK per Januari 2026, lini usaha marine cargo pada asuransi umum dan reasuransi mencatatkan premi sebesar Rp1,33 triliun atau setara 7,23 persen dari total premi.
Selain itu, Ogi menjelaskan bahwa konflik tersebut dapat berdampak luas, mulai dari kenaikan biaya logistik hingga terganggunya rantai pasok global.
“Ketegangan geopolitik berpotensi meningkatkan risiko pada industri asuransi umum, antara lain melalui kenaikan biaya logistik, gangguan rantai pasok, serta volatilitas harga energi,” jelasnya.
Lini usaha yang dinilai paling terdampak meliputi marine cargo, properti, dan energy on-shore, seiring meningkatnya eksposur terhadap risiko perdagangan dan transportasi global.
Baca Juga: OJK Bakal Awasi Bank yang Kasih Dividen Jumbo
OJK juga menilai gejolak global berpotensi mendorong penyesuaian premi, khususnya pada lini usaha dengan eksposur internasional. Hal ini tidak terlepas dari kenaikan harga reasuransi serta meningkatnya persepsi risiko di pasar global.
Meski demikian, Ogi menegaskan bahwa penyesuaian premi umumnya dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan kondisi pasar dan prinsip kehati-hatian dalam underwriting.
Dengan berbagai tekanan eksternal yang ada, prospek asuransi marine cargo pada tahun ini diperkirakan akan menghadapi tantangan, terutama dari sisi pertumbuhan premi dan peningkatan risiko klaim.
Namun demikian, OJK menilai industri masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas, selama pelaku usaha mampu menerapkan manajemen risiko yang disiplin serta responsif terhadap dinamika global.
“Penguatan underwriting dan pengelolaan risiko yang prudent menjadi kunci agar industri tetap resilien di tengah ketidakpastian global,” tutup Ogi.
Berita Terkait
-
OJK Terbitkan Aturan Baru, Asing Bisa Akses Informasi Keuangan Indonesia
-
Banyak Pemudik saat Lebaran Bikin Kinerja Industri Asuransi Perjalanan Melonjak
-
Harga Minyak Dunia Makin Terbang Imbas Iran Mau Tutup Selat Hormuz Tanpa Batas Waktu
-
Data Lintas Batas RIAS Dibuka, OJK Waspadai Ketergantungan Asing
-
OJK Resmi Bubarkan Dana Pensiun Jiwasraya, Bagaimana Hak Peserta?
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Biaya Ongkir di E-Commerce Bikin Heboh, Mendag Buka Suara
-
Indonesia Butuh Lebih Banyak Pengusaha Muda untuk Jadi Negara Maju
-
BI Lapor Harga Rumah Lesu Pada Awal Tahun 2026
-
BTN Siapkan KPR hingga Kredit UMKM untuk Dongkrak Ekonomi Tapanuli Utara
-
5 Tabungan yang Wajib Dimiliki Saat Muda, Bisa Jadi Bekal di Hari Tua
-
Asing 'Borong' Rp11 Triliun di IHSG, Sinyal Rebound Saham Blue Chip?
-
Ini Cara Kiai Ashari Kumpulkan Uang untuk Ponpes Ndholo Kusumo
-
Pengusaha Ngadu ke Purbaya, Proyek PLTSa Makassar Terhambat Sejak 2022
-
OJK Pantau Pindar KoinP2P, Setelah Petingginya Tersandung Korupsi
-
Industri Kretek Indonesia Terancam Mati