- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.002 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, 2 April 2026.
- Pelemahan rupiah terjadi akibat ketidakpastian global dan sikap pelaku pasar yang menghindari risiko setelah pidato Donald Trump.
- Ancaman agresi militer AS ke Iran memicu kekhawatiran konflik di Timur Tengah serta menekan mata uang negara berkembang.
Suara.com - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan yang cukup signifikan pada penutupan perdagangan hari ini.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif dan menempatkan posisi mata uang Garuda semakin dalam di zona merah di tengah ketidakpastian kondisi global yang kian meningkat.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah ke level Rp17.002 per dolar AS.
Dengan posisi penutupan tersebut, mata uang kebanggaan Indonesia ini tercatat mengalami depresiasi sebesar 0,11 persen apabila dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya, Rabu, 1 April 2026, yang masih berada di level Rp16.983 per dolar AS.
Sementara itu, laju pelemahan juga tercermin pada kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Berdasarkan data resmi otoritas moneter tersebut, kurs Jisdor hari ini dipatok berada di level Rp17.015 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan mata uang greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia justru terpantau bergerak melandai di posisi 99,82, turun tipis dibandingkan posisi hari sebelumnya yang berada di level 99,96.
Faktor Geopolitik dan Pidato Donald Trump Jadi Pemicu
Menanggapi fenomena lesunya pergerakan mata uang Garuda, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan pandangannya.
Menurut Lukman, pelemahan nilai tukar rupiah sejalan dengan koreksi yang dialami oleh mayoritas mata uang regional Asia maupun mata uang utama dunia lainnya.
Baca Juga: Fluktuasi Kurs Rupiah, Harga Pangan Lokal Makin Tercekik Biaya Produksi
Penguatan dolar AS yang cukup masif secara global terjadi karena pasar sedang mengadopsi sikap menghindari risiko (risk-off). Sikap hati-hati dari para pelaku pasar modal ini merupakan respons spontan yang dipicu oleh pidato terbaru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam pernyataannya, Trump memberikan indikasi kuat bahwa militer AS bersiap untuk melakukan agresi militer skala besar terhadap Iran dalam kurun waktu beberapa pekan ke depan.
"Pernyataan Trump berharap untuk memenangkan perang terhadap Iran dalam beberapa minggu, dan bukannya mengakhiri perang secara damai seperti yang ditafsir sebelumnya," ujar Lukman saat dihubungi.
Sinyal perang terbuka yang diembuskan oleh Washington tersebut seketika merusak ekspektasi damai yang sempat diharapkan oleh para pelaku pasar finansial global.
Alih-alih meredakan tensi, eskalasi konflik di Timur Tengah justru semakin terakselerasi sehingga mendorong kepanikan investor.
Selain faktor ancaman perang di kawasan Timur Tengah yang memanas, tertekannya nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh aksi pelaku pasar dan investor institusi yang cenderung mengambil sikap menunggu dan mengamati (wait and see).
Berita Terkait
-
Santai Saja! Nilai Rupiah Menyentuh Rp17.000 per Dolar AS, Bukan Alasan untuk Panik
-
Rupiah Melemah Tipis, Dolar AS Naik ke Level Rp16.983
-
Rupiah Ditutup Menguat, Dolar AS Turun ke Level Rp16.983
-
Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS: Apakah Ini Saatnya Panik atau Investasi?
-
Rupiah Kembali Bangkit, Dolar AS Lemas ke Level Rp16.983
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Profil PT PP Presisi Tbk (PPRE): Anak Usaha BUMN, Siapa Saja Pemegang Sahamnya?
-
RI Masuk 3 Besar Dunia Peminat Aset Kripto Riil, OSL Rilis 'Tabungan' Emas Digital
-
Pasar Semen Domestik Lesu, SMGR Putar Otak Jualan ke Luar Negeri
-
Dilema Selat Hormuz: DEN Minta Warga Tenang, Stok BBM Nasional Masih Terjaga
-
Impor Mobil Pikap Tembus Rp 975,5 Miliar di Januari-Februari 2026, Buat Kopdes Merah Putih?
-
Data BPS Ungkap Emas Deflasi di Maret 2026 Usai Inflasi 30 Bulan Beruntun
-
Bulog Tegaskan Komitmen Dukung Petani Tebu Blora, Siap Fasilitasi Penyaluran ke PG di Jawa Tengah
-
82 Orang Diperiksa dalam Kasus PT DSI, Ada Dude Herlino dan Alyssa Soebandono
-
Mudik Lebaran 2026: Penggunaan SPKLU PLN Melonjak 4 Kali Lipat
-
Pengusaha Soroti Risiko Ekonomi di Balik Imbauan WFH dan Pembatasan BBM Subsidi