- Konflik Timur Tengah ancam 75% impor sulfur RI, bahan baku vital pupuk & nikel.
- Gangguan Selat Hormuz picu lonjakan biaya logistik dan harga sulfur hingga 200%.
- Industri baterai EV (HPAL) berisiko terhenti akibat putusnya pasokan sulfur.
Dalam riset Shanghai Metal Market (SMM), lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Sulfur tersebut banyak dimanfaatkan untuk industri pengolahan nikel utamanya smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) untuk produksi mixed hydroxide precipitate (MHP).
Pada 2025, Arab Saudi menjadi pemasok terbesar sekitar 1,76 juta ton, Qatar sebanyak 967.000 ton, UEA 918.000 ton, Kanada 515.000 ton, Kuwait 366.000 ton, Malaysia sebesar 146.000 ton, dan Singapura 115.000 ton.
SMM mencatat pelabuhan ekspor sulfur utama di Timur Tengah, antara lain; Ruwais di UEA, Jubail dan Ras al-Khair di Arab Saudi, Ras Laffan di Qatar, Al Zour dan Shuaiba di Kuwait, dan Bandar Imam Khomeini di Iran harus mengangkut komoditas tersebut melewati Teluk Persia kemudian melalui Selat Hormuz.
“Lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Struktur pasokan yang sangat terkonsentrasi ini berarti bahwa setelah penutupan Selat Hormuz, sumber bahan baku utama untuk proyek MHP Indonesia akan terputus,” tulis SMM dalam risetnya.
Meskipun begitu, SMM menyatakan terdapat beberapa opsi rute yang bisa ditempuh oleh para eksportir tersebut, tetapi rute tersebut sulit dilalui kapal tanker dengan pasokan besar.
Pertama, pelabuhan Fujairah di UAE. Pelabuhan tersebut terletak di luar selat di Teluk Oman, tetapi jauh dari kawasan produksi di Teluk Persia.
Lalu, biaya transportasi darat akan lebih tinggi dan kapasitas terbatas, serta sulit memprioritaskan pengiriman sulfur dari lokasi tersebut dalam jumlah besar ketika kondisi krisis.
Kedua, pelabuhan Laut Merah di Arab Saudi. Sulfur dapat diangkut melalui darat ke Pelabuhan Yanbu. Namun, transportasi darat memiliki jarak yang jauh dan biaya yang dikeluarkan berpotensi lebih mahal.
Baca Juga: Mengurai Efek Domino Perang AS-Israel Vs Iran terhadap Perdagangan RI
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- JK Jadi Tersangka Korupsi Ekspor Logam Tanah Jarang, Langsung Ditahan Kejagung
Pilihan
-
Jampidsus Febrie Adriansyah: Saya Tidak Mundur! Masih Terima Perintah Usut Kasus Korupsi
-
BREAKING NEWS: Penyidik Geledah Ruko di Cipete terkait 3 Perkara Korupsi
-
BREAKING NEWS! KPK Dikabarkan OTT Bupati Sukoharjo dan Sejumlah Orang
-
Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
Terkini
-
Purbaya Kenang Tragedi Montara 2009, Janjikan Ganti Rugi ke Warga NTT
-
Masa Depan Koperasi di Era Digital Kini di Tangan Gen Z
-
Airlangga Bongkar Proyek Data Center Raksasa, Nvidia hingga Big Tech Masuk RI
-
Tiket Indomaret Fun Run 2026 Bisa Dibeli Lewat BRImo, Ada Diskon Rp 25 Ribu
-
Menko Airlangga Minta Dubes Negara Sahabat Kawal Realisasi Investasi Hasil Lawatan Prabowo
-
Pajak Ecommerce Segera Berlaku, Siapa dan Apa yang Dipajaki?
-
ESDM Pastikan Pasokan FAME Aman, Produksi Biodiesel B50 Ditargetkan Tembus 18 Juta Ton
-
Purbaya: APBN Tak Bisa Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan
-
Airlangga Ungkap Alasan Bali Dipilih Jadi Pusat Finansial Internasional, Jakarta dan Batam Tersisih
-
Riset Ungkap Masa Depan Industri Fintech RI Setelah Hadir Lebih dari 10 Tahun