Bisnis / Keuangan
Senin, 06 April 2026 | 20:53 WIB
OJK menyiapkan langkah mitigasi risiko menjelang pengumuman evaluasi bobot indeks pasar saham Indonesia oleh MSCI pada Mei 2026. [Suara.com/Rina Anggraeni]
Baca 10 detik
  • OJK menyiapkan langkah mitigasi risiko menjelang pengumuman evaluasi bobot indeks pasar saham Indonesia oleh MSCI pada Mei 2026.
  • Potensi penurunan status pasar Indonesia ke frontier market dapat memicu tekanan jual dan volatilitas pasar saham domestik.
  • OJK telah menerapkan empat proposal reformasi serta kebijakan free float untuk memperkuat integritas dan kualitas pasar modal Indonesia.

Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Senin (6/4/2026) menyatakan telah menyiapkan mitigasi risiko jelang pengumuman keputusan bobot indeks Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Diwartakan sebelumnya setelah membekukan perubahan indeks bursa saham Indonesia pada Januari lalu, MSCI dijadwalkan akan mengumumkan kembali hasil evaluasinya pada Mei mendatang.

Jika dalam evaluasinya MSCI menemukan perubahan yang dilakukan OJK dan BEI tidak memuaskan, maka ada risiko bobot pasar saham Indonesia akan diturunkan ke status frontier market. Hal ini bisa menyebabkan IHSG ambruk lebih dalam.

"Sebagai bagian dari mitigasi, OJK telah menyiapkan langkah-langkah yang terukur dan terkoordinasi," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi dalam Konferensi Pers RDKB Maret 2026 di Jakarta.

Sebagai catatan awal, Hasan menuturkan, OJK telah menuntaskan implementasi empat proposal utama yang diajukan kepada MSCI.

Meski meyakini langkah yang diambil bakal memulihkan integritas pasar modal domestik, OJK tetap membuka peluang risiko penurunan bobot indeks yang berpotensi menimbulkan konsekuensi jangka pendek.

OJK memproyeksikan dampak yang mungkin muncul antara lain tekanan jual akibat penyesuaian portofolio oleh investor, potensi arus keluar dana pada periode rebalancing, hingga peningkatan volatilitas pasar.

Namun, OJK memandang dinamika tersebut sebagai respons yang bersifat transisional dan sementara.

"Ini bersifat normal dalam konteks menuju pasar yang lebih berkualitas secara jangka menengah dan panjang," ujar Hasan.

Baca Juga: Gempur Judi Online, OJK Blokir 33.252 Rekening Bank

Sebagai mitigasi, OJK telah mendorong implementasi kebijakan free float minimum 15 persen.

Kebijakan ini akan dijalankan beriringan dengan penguatan basis investor, baik investor ritel domestik, investor institusi domestik, maupun investor asing.

Di sisi lain, komunikasi dengan penyedia indeks global akan terus dilakukan secara intensif dan konstruktif, termasuk dengan menyampaikan perkembangan implementasi reformasi hingga evaluasi berikutnya.

Dari sisi stabilitas pasar, OJK juga menegaskan mekanisme yang sudah tersedia akan terus dioptimalkan, disertai pemantauan pasar secara rutin dan ketat.

"Arah kebijakan ini akan terus kami lakukan secara konsisten, yaitu upaya memperkuat kualitas dan integritas pasar modal Indonesia secara fundamental, agar lebih transparan, likuid, kredibel, serta mampu tumbuh sehat berkelanjutan dalam jangka menengah-panjang," tutur Hasan.

Load More