- BBCA raup laba Rp57,5 T di 2025, fundamental kuat meski harga saham sedang anomali.
- Analis sebut saham BBCA di bawah Rp7.000 peluang langka bagi investor kumpulkan aset blue chip.
- Rilis kinerja kuartal I/2026 jadi pemicu utama normalisasi harga saham BBCA menuju valuasi wajar.
Suara.com - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diproyeksi bakal segera mengakhiri tren koreksinya di lantai bursa. Meski harga sahamnya sedang tertekan, torehan kinerja keuangan sepanjang 2025 yang cemerlang diyakini menjadi katalis kuat untuk mendongkrak kembali posisi emiten bank swasta terbesar di Indonesia ini.
Berdasarkan data laporan keuangan, BBCA berhasil mencetak laba bersih sepanjang tahun 2025 sebesar Rp57,5 triliun. Angka ini naik 4,9 persen dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar Rp54,8 triliun. Ironisnya, performa fundamental yang "anti-badai" ini belum tercermin pada harga sahamnya yang justru merosot hingga 19 persen sejak awal tahun 2026.
Hingga perdagangan Rabu (8/4/2026), saham BBCA masih berkutat di level Rp7.000, bahkan sempat menyentuh kisaran Rp6.500 per lembar saham. Penurunan ini sejalan dengan pelemahan IHSG yang terkoreksi 15,79 persen secara year to date (YTD).
Pengamat Pasar Modal, Rendy Yefta, menilai kondisi ini sebagai anomali harga yang relatif langka bagi saham kelas blue chip. Menurutnya, gap antara performa laba yang memecahkan rekor dengan harga saham yang turun drastis menciptakan fenomena undervalued.
"Mengambil BBCA di harga di bawah Rp7.000 ibarat Anda memungut Mercy di showroom dengan harga Avanza. Secara historis, pasar selalu menghargai kualitas BBCA dengan valuasi premium di kisaran PBV 4x hingga 5x," ujar Rendy di Jakarta.
Ia menambahkan bahwa kepanikan pasar global dan rotasi sektor menjadi penyebab utama tekanan jual. Namun, ia memproyeksikan harga saham BBCA akan segera melakukan normalisasi dan berlari kencang kembali menuju level wajarnya.
Kini pasar tengah menanti rilis laporan keuangan kuartal I/2026 yang dijadwalkan keluar pada bulan April ini. Dengan efisiensi operasional dan loyalitas nasabah yang tinggi melalui dana murah (CASA), BBCA diprediksi akan kembali memamerkan angka laba jumbo.
Rendy mengingatkan para investor agar tidak kehilangan momentum sebelum para institusi besar kembali berebut masuk. "Orang bijak mengumpulkan emas saat harganya sedang jatuh ke lumpur, bukan saat semua orang sedang antre membelinya di toko," pungkasnya.
Baca Juga: IHSG Terbang 3% ke Level 7.207 di Sesi I, 592 Saham Naik
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Daftar Lokasi dan Jadwal Perbaikan Tol Jakarta - Tangerang Periode Mei 2026
-
5 Cara Amankan Cicilan KPR saat Suku Bunga Naik
-
Daftar Negara dengan Utang Paling Ekstrem, Indonesia Termasuk?
-
Awas Aksi Jual Asing! Saham Perbankan Jadi Sasaran Empuk Profit Taking
-
Ekonom Ramal Rupiah Susah Turun ke Level Rp 16.000/USD
-
Bos GoTo Lapor ke Seskab Teddy, Telah Turunkan Potongan Komisi Ojol 8%
-
Prabowo Diminta Evaluasi PLN Imbas Insiden Blackout Sumatra: Rakyat Rugi Besar!
-
Tekanan Ekonomi Bikin Investor RI Mulai Lirik Aset Kripto dan Emas Digital
-
Begini Kondisi Listrik di Sumatra, Masih Banyak yang Padam?
-
OJK Lihat Bisnis BPD Masih Baik-baik Saja