Suara.com - Jutaan UMKM di Indonesia sudah menerima pembayaran lewat QRIS. Tapi bagi banyak usaha jasa, terima uang dan kelola bisnis masih dua hal yang terpisah.
Apa Masalahnya dengan QR Statis?
QRIS sudah jadi bagian dari keseharian. Hampir di setiap toko, warung, dan salon, ada kode QR yang ditempel di meja kasir. Pelanggan tinggal scan, bayar, selesai.
Tapi bagi pemilik usaha, ceritanya tidak selesai di situ.
Ketika pelanggan membayar lewat QR statis, yang masuk ke rekening hanya nominal. Tidak ada keterangan otomatis soal layanan apa yang dibayar, siapa staf yang melayani, atau apakah itu dari booking atau walk-in.
Untuk warung makan, ini mungkin tidak terlalu jadi masalah. Tapi untuk salon atau barbershop yang menangani puluhan janji temu setiap hari dengan beberapa staf, ini berarti satu hal: rekonsiliasi manual setiap malam.
Bayangkan Situasi Ini
Seorang pemilik salon di Jakarta punya empat stylist. Dalam sehari, ada sekitar 30 transaksi. Sebagian bayar tunai, sebagian lewat QRIS, ada juga yang transfer langsung.
Di akhir hari, dia harus mencocokkan satu per satu: siapa yang melayani pelanggan ini, layanan apa yang diberikan, dan berapa yang sudah dibayar. Kalau ada selisih Rp 50.000 atau Rp 100.000, dia sering tidak tahu apakah itu kesalahan pencatatan atau memang ada yang hilang.
Baca Juga: BRI Salurkan KUR Rp31,42 Triliun, Dorong Pertumbuhan UMKM dan Ekonomi Kerakyatan
Proses ini bisa makan waktu 30 sampai 45 menit setiap malam.
Kenapa Ini Penting?
Waktu yang dihabiskan untuk rekonsiliasi manual adalah waktu yang tidak bisa dipakai untuk hal lain. Misalnya mengembangkan bisnis, melatih staf, atau beristirahat.
Selain itu, tanpa data yang rapi, pemilik usaha sulit menjawab pertanyaan dasar: layanan mana yang paling menguntungkan? Staf mana yang paling produktif? Jam berapa yang paling sepi dan bisa diisi dengan promo?
Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya bisa dijawab kalau data pembayaran langsung terhubung dengan data operasional.
Solusinya: Pembayaran yang Terintegrasi dengan Operasional
Berita Terkait
-
BRI Salurkan KUR Rp31,42 Triliun, Dorong Pertumbuhan UMKM dan Ekonomi Kerakyatan
-
DJKI dan BRIN Dorong UMKM Bali Lindungi Kekayaan Intelektual
-
Strategi Jitu Pemerintah Jajaki Pasar China untuk Produk Unggulan Indonesia
-
BRI Dorong UMKM Desa Hendrosari Lewat Program Desa BRILiaN dan Wisata Lontar Sewu
-
BRI Perkuat UMKM: Dari Modal Rp250 Ribu, Usaha Kuliner Ayam Panggang Bu Setu Sudah Bergulir 35 Tahun
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
IHSG Terbang ke Level 6.206, Ini Daftar Saham yang Cuan
-
Menko Airlangga Sebut Rupiah Lemah Saat Ini Cuma 5 Persen
-
Rupiah Konsisten Melemah saat Mata Uang Negara Lain Menguat Karena Harga Minyak Turun
-
Belajar dari Sejarah! Anggota DPR Misbakhun Klaim Rupiah Lemah Saat Ini Beda dari Krisis 1998
-
BGN Bantah Anggaran MBG Dipangkas Rp67 T Seperti Klaim Purbaya
-
OJK Tekankan Pentingnya Pasar Modal demi Pertumbuhan 7,5 Persen, Tapi Modal Asing Terus Kabur
-
Wamen ESDM Buka Suara soal Ganti Rugi Blackout Listrik Sumatra
-
Usai 1 Persen Saham Negara Masuk, Danantara Sumberdaya Indonesia Resmi Jadi BUMN
-
BTN Akuisisi Portofolio Kredit SMBCI Rp20 Triliun untuk Perkuat Transformasi Beyond Mortgage
-
5 Rekomendasi Investasi di 2026 untuk Dapat Passive Income, Aman dan Menguntungkan