- Bear market = penurunan harga signifikan jangka panjang, sering picu panik, tapi jadi peluang bagi investor berpengalaman untuk akumulasi aset.
- Strategi utama: sabar pilih aset & harga beli, lindungi modal (misalnya DCA), dan fokus pada fundamental proyek yang kuat.
- Fase ini juga waktu belajar & evaluasi, serta bisa dimanfaatkan untuk profit lewat strategi seperti short selling saat tren turun.
Suara.com - Bear market adalah fase penurunan harga yang tak terhindarkan dalam siklus pasar kripto. Bagi banyak investor, kondisi ini memicu panik dan keputusan yang bisa merugikan.
Padahal, investor berpengalaman justru melihatnya sebagai kesempatan. Berikut lima tips strategi yang wajib Anda lakukan untuk bertahan di tengah bear market.
Dikutip dari Pintu Academy, platform edukasi aplikasi PINTU, bear market adalah kondisi pasar ketika harga aset turun secara signifikan dan berlangsung dalam periode yang relatif panjang.
Berbeda dari koreksi jangka pendek, bear market biasanya berlangsung berbulan-bulan hingga lebih dari setahun dan disertai sentimen negatif yang meluas.
Secara umum, bear market biasanya terjadi setelah aset mencetak ATH yang kemudian disusul dengan adanya koreksi pasar karena telah mengalami reli yang panjang.
Tekanan jual kemudian diperkuat juga oleh faktor lainnya seperti kondisi makroekonomi, kebijakan moneter, atau ketegangan geopolitik.
Secara historis, pasar kripto dikenal memiliki siklus empat tahunan yang erat kaitannya dengan terjadinya fase bull dan bear market.
Siklus ini berpusat pada peristiwa bitcoin halving, berkurangnya reward yang diterima penambang Bitcoin sebesar 50% setiap empat tahun sekali.
ATH baru cenderung terbentuk sekitar 2-3 tahun setelah Bitcoin mencapai bottom siklus sebelumnya.
Dalam rentang tersebut, pasar biasanya mengalami fase akumulasi atau pergerakan sideways yang kerap dimanfaatkan investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi.
Berikut adalah sejumlah strategi yang relevan untuk diterapkan dalam menghadapi bear market:
1. Sabar Dalam Mententukan Aset dan Target Harga Beli
Saat harga turun lebih dari 20%, kebanyakan investor yang baru masuk kripto langsung mengalami kepanikan dan menjual semua aset mereka.
Investor yang telah melewati beberapa fase bear market kerap memiliki cara pandang yang berbeda. Mereka melihat bear market sebagai fase di mana aset-aset undervalue dapat diakumulasi.
Hal-hal yang bisa dilakukan antara lain membuat watchlist aset yang Anda yakini fundamentalnya. Lakukan ini di saat pasar mengalami penurunan maupun dalam fase tenang.
Lalu, lihat bagaimana respons pergerakan harganya menyikapi penurunan harga Bitcoin. Aset yang mampu bertahan relatif lebih baik dari Bitcoin saat pasar melemah biasanya merupakan kandidat akumulasi yang menarik.
Selain itu, tetapkan target harga beli berdasarkan analisis yang sudah Anda buat. Salah satu pendekatannya adalah mengidentifikasi area support historis sebagai zona pembelian aset, sehingga keputusan beli sudah terencana sebelum harga benar-benar sampai di sana.
2. Proteksi Modal
Prioritas utama di bear market adalah menjaga modal agar tidak tergerus dan mengambil keputusan yang didorong oleh bias yang menganggap penurunan aset adalah titik harga terendah sehingga mengalokasikan seluruh modalnya dalam satu transaksi.
Strategi yang paling terbukti efektif untuk investor jangka panjang di kondisi ini adalah Dollar-Cost Averaging atau DCA, membeli aset secara rutin dalam jumlah tetap, terlepas dari harga pasar saat itu.
3. Fokus pada Fundamental Aset
Bear market seringkali mengekspos kelemahan proyek-proyek kripto yang tidak memiliki fundamental yang kuat.
Banyak token yang tampak menjanjikan saat fase bull market ternyata hanya didorong oleh sentimen dan spekulasi, sehingga ketika memasuki bear market, harganya tidak pernah benar-benar pulih.
Dengan demikian, bear market bukan hanya menjadi fase seleksi bagi investor yang memiliki ketahanan mental dan disiplin yang tinggi, tetapi juga berfungsi sebagai seleksi alam bagi proyek-proyek kripto.
Dalam fase ini, proyek dengan fundamental yang lebih kuat cenderung mampu bertahan, sementara yang lemah perlahan tersingkir dari pasar.
Itulah kenapa di bear market, Bitcoin secara historis menjadi prioritas utama akumulasi bagi investor. Sebagai aset dengan likuiditas tertinggi, adopsi institusional terbesar, dan rekam jejak pemulihan yang sudah terbukti di setiap siklus, Bitcoin adalah aset yang paling terbukti bisa keluar dari bear market dan mencetak ATH baru.
4. Pertajam Skill dan Analisis
Jika bull market merupakan fase untuk “memanen” hasil akumulasi sebelumnya, bear market adalah momentum ideal untuk membangun keterampilan dan memperdalam analisis. Fase ini memberikan ruang untuk belajar tanpa tekanan euforia pasar.
Trader atau investor yang memasuki bull market berikutnya dengan pemahaman yang lebih matang tentang dinamika pasar cenderung mampu mengambil keputusan yang lebih rasional, terukur, dan disiplin dibandingkan sebelumnya.
5. Short Selling
Di bear market, ada strategi yang memungkinkan trader yang tetap berpotensi menghasilkan keuntungan meski harga sedang turun, yaitu short selling.
Berbeda dengan proses beli dan jual di pasar spot, short selling adalah aktivitas trading yang dapat melibatkan leverage dan membuka posisi jual terhadap kontrak Futures, artinya ketika harga turun kamu bisa mendapatkan keuntungan.
Strategi Short selling bisa diterapkan di fitur Pintu Futures untuk perdagangan derivatif crypto.
Kapan short selling efektif dimanfaatkan? Short selling paling efektif digunakan dalam dua kondisi; saat tren turun sudah terkonfirmasi secara teknikal.
Selain itu, saat ada relief rally, yaitu kenaikan harga sementara di tengah bear market yang bisa dimanfaatkan sebagai titik masuk posisi short sebelum harga kembali melanjutkan penurunan.
Berita Terkait
-
Investor RI Kini Bisa Beli Saham Global Lewat Blockchain, Begini Caranya
-
Ekonomi Indonesia Diapresiasi IMF dan Investor Global, Analis: Momentum Perkuat Kedaulatan
-
Investor Belanda Jajaki Pengembangan Energi Baru Terbarukan dan Ekonomi di Papua
-
Ribuan Merek Tekstil Global Ramaikan Indo Intertex 2026 di JIExpo Kemayoran
-
Dorong Generasi Muda Melek Investasi, Edukasi Kripto Kian Gencar Digelar
Terpopuler
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Dapat Status Pegawai BUMN, Apa Saja Tugas Manajer Koperasi Merah Putih?
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Harga BBM Naik, Ini Warga RI yang 'Halal' Beli Bensin Subsidi
-
Permudah Akses Keuangan Pedagang, BTN Ekspansi Bisnis ke Ekosistem Koperasi Pasar
-
Lawan Imunitas Algoritma, Prof Harris: Masa Rokok Bisa Digugat, Kode Digital Tidak?
-
Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan
-
Bos-bos BCA Kompak Serok Saham Sendiri Saat Harga Diskon, Apa Dampaknya?
-
Orang Kaya Ngeluh LPG 12 Kg Naik, Bahlil: Sorry Yee!
-
Selat Hormuz Dibuka Lagi, Tapi Dua Kapal Milik Pertamina Masih Tersandera
-
Dobrak Sekat Perbankan dan Telko, BTN-Indosat Berduet Percepat Inklusi Keuangan
-
Harga Plastik Naik, Bapanas Waspadai Dampaknya ke Harga Beras dan Gula
-
Selat Hormuz Dibuka, PIS Siapkan Rute Darurat agar 2 Kapal Pertamina Kembali Berlayar