- Pakar investasi Joeliardi Sunendar membandingkan BBRI dan BMRI sebagai instrumen investasi perbankan berdasarkan fundamental jangka panjang.
- BBRI lebih unggul dalam granularitas kredit mikro yang tersebar luas sehingga meminimalkan risiko gagal bayar nasabah korporasi.
- BMRI memiliki potensi kenaikan laba melalui dekonsolidasi BRIS pada Q1 2026 meski bersifat keuntungan akuntansi satu kali saja.
Suara.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dikenal sebagai duo emiten yang konsisten menjadi instrumen favorit investor institusi maupun ritel karena fundamentalnya yang kuat.
Meskipun keduanya menawarkan imbal hasil dividen (dividend yield) yang kompetitif di kisaran 10% dengan valuasi yang tergolong murah, sebuah analisis terbaru dari pakar investasi Joeliardi Sunendar memberikan perspektif berbeda mengenai preferensi pemilihan aset untuk orientasi jangka panjang.
Melalui ulasan di akun media sosialnya, Joeliardi menekankan bahwa bagi investor dengan profil long-term holding, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada besaran laba bersih semata.
Terdapat tiga pilar fundamental yang menjadi penentu ketahanan sebuah bank dalam menghadapi berbagai siklus ekonomi, yakni granularitas (granularity), tata kelola (governance), dan rekam jejak (track record).
Salah satu aspek krusial yang disoroti adalah risiko tata kelola, khususnya mengenai potensi intervensi dari pengendali dalam penyaluran kredit.
Mengambil pelajaran dari krisis moneter 1998, industri perbankan memiliki trauma terhadap konsep "bank yang dijadikan kasir" oleh pemiliknya.
Dalam konteks Bank BUMN, risiko ini seringkali muncul dalam bentuk tekanan untuk memberikan pinjaman besar kepada entitas pelat merah lainnya yang sedang mengalami kesulitan keuangan.
Data laporan keuangan Full Year (FY) 2025 menunjukkan perbedaan kontras pada paparan risiko ini. Pinjaman kepada pihak terkait (related party loans) pada BMRI tercatat mencapai Rp 402 triliun atau sekitar 22% dari total portofolio kreditnya.
Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan BBRI yang hanya mencatatkan Rp 154 triliun atau sekitar 10%. Fokus BMRI pada segmen korporasi dan wholesale secara inheren membuatnya lebih terpapar pada tekanan tata kelola dibandingkan BBRI yang bergerak di segmen akar rumput.
Baca Juga: Dihantam Aksi Jual, IHSG Terkapar ke Level 7.623
Keunggulan Granularitas: Hukum Bilangan Besar
Prinsip Law of Large Numbers menjadi senjata utama BBRI dalam menjaga stabilitas kualitas aset. Dengan fokus pada segmen mikro, rata-rata pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) di BBRI hanya berada di kisaran Rp 47 juta per debitur.
Sebaliknya, BMRI yang mendominasi segmen korporasi memiliki rata-rata pinjaman yang sangat besar, di mana satu fasilitas infrastruktur atau energi bisa mencapai Rp 1 triliun hingga Rp 5 triliun per nasabah.
Secara matematis, selisih rata-rata pinjaman ini mencapai ribuan kali lipat. Dari sisi manajemen risiko, gagal bayar satu nasabah korporasi besar di BMRI memiliki dampak yang setara dengan kerugian ribuan debitur di BBRI.
Secara statistik, peluang ribuan UMKM untuk macet secara bersamaan jauh lebih kecil dibandingkan risiko gagal bayar satu korporasi tunggal.
Inilah yang disebut sebagai keamanan dalam granularitas; risiko yang tersebar luas memastikan tidak ada satu nasabah pun yang memiliki kekuatan cukup besar untuk mengguncang fondasi bank.
Berita Terkait
-
Bos-bos BCA Kompak Serok Saham Sendiri Saat Harga Diskon, Apa Dampaknya?
-
Emiten DRMA Tebar Dividen Rp 70/Saham
-
Investor RI Kini Bisa Beli Saham Global Lewat Blockchain, Begini Caranya
-
Danantara Kantongi Dividen Rp16,67 Triliun dari BBRI, Sinyal Positif Bagi Pasar
-
IHSG Tancap Gas Terus Menguat di Sesi I, Deretan Saham yang Cuan
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- Bedak Sekaligus Foundation Namanya Apa? Ini 4 Rekomendasi yang Ringan di Wajah
- Sudah 4 Bulan Ditahan, Bupati Pati Sudewo Sampaikan Pesan Rindu dari Rutan KPK
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Target Tembus Rp563 Miliar, CBDK Optimis Properti PIK 2 Makin Dilirik Investor
-
Awas, Risiko Kebocoran Solar Subsidi Imbas Harga BBM Nonsubsidi Naik Gila-gilaan
-
Cara Andi Hakim Tilap Dana Nasabah Rp28 Miliar, Modus 'BNI Deposito Investment'
-
Viral Gerakan Tutup Rekening, BNI Janji Kembalikan Dana Gereja di Aek Nabara
-
Skandal Dana Umat di Aek Nabara, BNI Janji Dana Gereja Dikembalikan Sepenuhnya
-
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Sampai Waktu yang Tak Ditentukan, Gegara Ulah Trump
-
Pemerintah Segera Tutup Praktik Open Dumping di Seluruh TPA
-
Pemerintah Mulai Kaji Kereta Papua, Rute Sentani-Kota Jayapura Jadi Proyek Awal
-
Harga BBM Naik, Ini Warga RI yang 'Halal' Beli Bensin Subsidi
-
Permudah Akses Keuangan Pedagang, BTN Ekspansi Bisnis ke Ekosistem Koperasi Pasar