- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan S&P Global Rating akan mempertahankan peringkat utang Indonesia hingga tahun 2028 mendatang.
- S&P akan berkunjung ke Indonesia pada Juni 2026 untuk memantau kinerja pemerintah tanpa mengubah proyeksi peringkat kredit nasional.
- S&P menilai peringkat Indonesia paling rentan di Asia Tenggara akibat potensi kenaikan harga energi dan konflik Timur Tengah.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim kalau lembaga pemeringkat S&P Global Rating bakal mempertahankan rating Indonesia selama dua tahun ke depan.
Hal ini diungkapkan Menkeu Purbaya usai melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat minggu lalu. Dalam pertemuan itu, ia bercerita S&P bakal berkunjung ke Indonesia.
Tapi kunjungan S&P itu bukan untuk mengubah proyeksi Indonesia. Purbaya mengklaim kalau mereka ingin melihat kinerjanya.
"Dia akan ke sini Juni. Juni itu bukan untuk mengubah lagi outlook kita. Hanya untuk diskusi saja katanya, mau lihat kamu langkahnya betul apa enggak," katanya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Purbaya lalu mengklaim kalau S&P bakal mempertahankan rating Indonesia selama dua tahun ke depan, tepatnya pada 2028.
"Dia bilang rating kita sampai dua tahun ke depan aman. Saya enggak begitu ngerti itu tapi dia ngomong gitu. Dia nanya gini ke saya, 'Kamu ngerti enggak apa yang saya ucapkan barusan? Enggak saya enggak ngerti tolong jelaskan. Artinya sampai 2 tahun ke depan kita tidak akan merubah rating'," beber Purbaya.
Diketahui S&P baru saja menetapkan peringkat utang Indonesia berada di level BBB/Stable/A-2. Artinya, Indonesia dinilai memiliki risiko gagal bayar yang relatif rendah dan tetap layak menjadi tujuan investasi internasional.
Meski begitu, S&P mengakui kalau peringkat kredit Indonesia menjadi yang paling rentan turun di antara negara-negara Asia Tenggara. Dalam analisisnya, S&P melihat dampak konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan akan terutama berdampak pada Indonesia, terutama imbas harga komoditas energi yang masih akan terus tinggi.
"Kualitas kredit negara dengan bantalan peringkat lebih tipis berisiko turun dalam skenario disrupsi pasar energi yang berkepanjangan. Di Asia Tenggara, kami melihat peringkat kredit Indonesia lebih rentan jika konflik tak segera usai," beber S&P dalam laporannya dilansir dari Bloomberg.
Baca Juga: World Bank Minta Maaf ke Purbaya Buntut Salah Proyeksi Ekonomi RI
Dijelaskan lebih lanjut, harga energi yang terus naik akan memaksa pemerintah Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan subsidi dan menekan anggaran atau APBN. Sementara ongkos impor minyak yang semakin mahal akan membuat defisit transaksi berjalan semakin lebar.
Selain itu tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi juga berpotensi mendorong kenaikan suku bunga. Konsekuensinya biaya pinjaman pemerintah juga akan meningkat dan berujung pada tekanan lebih besar ke fiskal.
Berita Terkait
-
World Bank Minta Maaf ke Purbaya Buntut Salah Proyeksi Ekonomi RI
-
Gaya Koboi Purbaya Keluar Saat IMF Tawarkan Utang Jumbo Rp514 T: Wah Mukanya Langsung Asem!
-
Purbaya Curhat Banyak Dapat Sentimen Negatif Ekonomi: Kadang Dipuji, Besoknya Diragukan
-
Purbaya Sebut Perang AS vs Iran Baru Selesai September 2026
-
Perdana ke Luar Negeri Jadi Menkeu, Purbaya Langsung Dapat Pertanyaan Menohok dari Investor Global
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2026 Diproyeksikan Turun ke 5 Persen
-
Tingkat Kecelakaan Roda Dua Tinggi, Mitra Driver Kini Diberi Asuransi Gratis
-
Peringati Hari Kartini: BRI Terus Dukung Pemberdayaan Perempuan untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
-
Uji Jalan Rampung di Mei, Penerapan B50 Serempak pada Juli 2026
-
Daftar Kode SWIFT BRI Semua Daerah dan Cara Pakai Transfer Internasional
-
World Bank Minta Maaf ke Purbaya Buntut Salah Proyeksi Ekonomi RI
-
Laba Bank Mandiri Tumbuh 16,5 Persen, Tembus Rp15,4 Triliun
-
Kejar Target Produksi, SKK Migas Bakal Pakai Teknologi Triple 100
-
Heboh Gugatan Rp119 Triliun: Bos CMNP Sampai Buka Suara
-
Isu Gaji Pensiunan PNS Dirapel dan Cair Cepat, PT Taspen Ungkap Info Terbaru