- Konflik di Selat Hormuz sejak Februari 2026 menyebabkan gangguan rantai pasok material produksi bagi produsen kondom asal Malaysia, Karex.
- Karex berencana menaikkan harga jual produk sebesar 20% hingga 30% akibat membengkaknya biaya produksi dan kelangkaan bahan baku.
- Gangguan logistik dan kenaikan biaya transportasi memicu perlambatan distribusi produk ekspor Karex serta berdampak pada mobilitas pekerja di Asia.
Suara.com - Konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran, AS dan Israel mulai berdampak luas pada berbagai sektor industri, termasuk kesehatan reproduksi.
Karex, produsen kondom terbesar di dunia asal Malaysia, memperingatkan bahwa harga produk mereka kemungkinan besar akan mengalami kenaikan signifikan jika gangguan pada rantai pasok global terus berlanjut.
CEO Karex, Goh Miah Kiat, mengungkapkan bahwa perusahaan mungkin terpaksa menaikkan harga jual sebesar 20% hingga 30%.
Hal ini dipicu oleh terhambatnya jalur perdagangan di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026, yang memutus akses terhadap material penting dalam pembuatan kondom.
"Situasinya saat ini sangat rapuh dan biaya produksi membengkak. Kami tidak memiliki pilihan lain selain membebankan biaya tersebut kepada konsumen saat ini," ujar Goh dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Selasa (21/4/2026).
Meskipun kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat perang Iran mendapat perhatian utama dunia, para ekonom mengkhawatirkan dampak tersembunyi pada produk turunan minyak bumi atau feedstock. Produk petrokimia ini merupakan bahan dasar plastik dan material lainnya yang krusial bagi manufaktur.
Beberapa bahan kunci yang mengalami kelangkaan antara lain:
- Naphtha: Bahan utama pembuat kemasan produk. Sekitar 41% pasokan naphtha di Asia berasal dari Timur Tengah.
Minyak Silikon dan Amonia: Bahan dasar utama dalam proses produksi kondom.
Angie Gildea, kepala global minyak dan gas di KPMG, menekankan bahwa kekurangan pasokan bahan kimia dasar ini sama gentingnya dengan kelangkaan diesel atau bensin. Jika negara produsen seperti Malaysia tidak bisa mengakses bahan baku ini, kenaikan harga produk jadi menjadi tak terelakkan.
Selain faktor bahan baku, keterlambatan pengiriman menjadi tantangan besar lainnya. Banyak stok produk yang saat ini tertahan di kapal-kapal kargo yang belum sampai ke pelabuhan tujuan karena gangguan rute pelayaran internasional.
Baca Juga: Warga Yordania Usir Militer AS, Sadar Negaranya Cuma Dijadikan 'Boneka'
"Kami melihat banyak sekali stok kondom yang sebenarnya sangat dibutuhkan, namun saat ini hanya bisa tertahan di atas kapal di tengah laut," tambah Goh.
Meski demikian, Goh menyebutkan bahwa stok perusahaan saat ini masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pasar selama beberapa bulan ke depan sebelum kenaikan harga benar-benar diterapkan secara luas.
Dikutip via CNN, krisis energi akibat perang ini juga mulai memukul mobilitas pekerja di Asia Tenggara. Di beberapa negara seperti Myanmar dan Kamboja, penjatahan bahan bakar telah diberitahukan secara resmi.
Bahkan, sejumlah sekolah di Vietnam telah mengeluarkan kebijakan belajar dari rumah karena biaya transportasi yang terlalu mahal bagi siswa.
Para analis industri khawatir tren ini akan menghambat kemampuan pekerja pabrik untuk mencapai fasilitas manufaktur.
Jika hal ini terus berlanjut, produksi produk-produk ekspor penting menuju pasar internasional, termasuk Amerika Serikat, dipastikan akan mengalami perlambatan besar.
Berita Terkait
-
Mau Tiru Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal di Selat Malaka: Lumayan Kan?
-
IRGC Tangkap 2 Kapal di Sekitar Perairan Iran, Alasannya Bikin Kaget
-
Italia Desak Gencatan Senjata dan Pembukaan Selat Hormuz
-
Tentara Israel Blokade Jalan Sekolah di Umm al-Khair Menghambat Hak Pendidikan Siswa Palestina
-
Konvoi Mobil Menteri Israel Tabrak Mati Bocah Palestina yang Lagi Naik Sepeda ke Sekolah
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
Pilihan
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
Terkini
-
Mantan Gubernur BI: Rupiah Melemah Karena Pemerintah Tahan Subsidi BBM
-
Investor RI Masih Tertinggal? Dunia Sudah Pakai AI untuk Trading Saham
-
Harga BBM Nonsubsidi Kerek Inflasi? Begini Jawaban BI
-
Sudah 3 Tahun Tak Naik! Jadi Alasan Pemerintah Kerek HET Minyakita
-
India Mau Borong Pupuk RI, Mentan Amran: Dubesnya Telepon Langsung!
-
Purbaya Tak Tahu Isu PPN Jalan Tol: Janji Saya Sama, Tak Akan Terapkan Pajak Baru
-
Apa-apa Serba Naik, Kini Pemerintah Kerek Harga Sapi Hidup Jadi Rp59 Ribu/Kg
-
Hutama Karya Upgrade Command Center, Kecelakaan di Tol Bisa Cepat Ditangani
-
Purbaya Temui Menkeu China, Klaim Restrukturisasi Utang Whoosh Selesai dan Tinggal Diumumkan
-
Umat Tenang! BNI Akhirnya Kembalikan Seluruh Dana Rp28 Miliar ke Paroki Aek Nabara