- Brent turun tipis ke USD 101,76 dan WTI ke USD 92,82 per barel.
- Iran sita 2 kapal & blokade AS berlanjut, pasokan global 20% terancam.
- Gencatan senjata diperpanjang Trump, namun tanggal berakhir belum pasti.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia terpantau melandai tipis pada perdagangan Kamis (23/4/2026), setelah sempat terbang tinggi pada sesi sebelumnya. Pasar kini tengah mencermati kebuntuan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang kian memanas di jalur logistik vital, Selat Hormuz.
Mengutip data Reuters, harga minyak mentah Brent terkoreksi tipis 15 sen ke level USD 101,76 per barel. Meski turun, Brent masih mampu bertahan di atas level psikologis USD 100 yang diraih pada perdagangan Rabu kemarin. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 14 sen ke posisi USD 92,82 per barel.
Sebelumnya, kedua harga minyak acuan ini sempat menguat tajam lebih dari USD 3. Lonjakan tersebut dipicu oleh data stok bensin dan distilat AS yang menyusut di luar ekspektasi, serta minimnya progres dalam negosiasi damai global.
Meski Presiden AS Donald Trump telah memperpanjang gencatan senjata atas permintaan mediator Pakistan, tensi di Selat Hormuz nyatanya tidak mendingin. Jalur yang dulunya menyumbang 20 persen pasokan minyak dunia ini masih menjadi arena "saling kunci".
Iran dilaporkan baru saja menyita dua kapal pada Rabu kemarin, yang semakin memperketat cengkeraman mereka di wilayah perairan tersebut. Di sisi lain, blokade angkatan laut AS terhadap perdagangan laut Iran hingga kini belum dicabut.
"Gencatan senjata penuh hanya akan masuk akal jika blokade (AS) tersebut dicabut," tegas Mohammad Baqer Qalibaf, Juru Bicara Parlemen sekaligus Negosiator Utama Iran.
Ketegangan tidak hanya melokalisir di Timur Tengah. Militer AS dilaporkan telah mencegat sedikitnya tiga tanker berbendera Iran di perairan Asia, tepatnya di posisi dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka, untuk memaksa mereka menjauh.
Walaupun Gedung Putih mulai melunak dengan menarik ancaman pengeboman infrastruktur Iran, ketidakpastian masih menghantui pasar. Pasalnya, Washington belum menetapkan tanggal pasti kapan masa berlaku kebijakan gencatan senjata ini berakhir, yang membuat investor tetap dalam posisi waspada tinggi.
Baca Juga: Selat Hormuz Memanas! Balas AS, Garda Revolusi Iran Sita Dua Kapal Asing
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- Mathew Baker Masih Dianggap Milik Australia meski Dipanggil Timnas Indonesia Senior
- Sinyal Penggulingan '98 Jilid 2' Menguat, Cuma PDIP dan Habib Rizieq yang Bisa Selamatkan Prabowo?
- 5 Bedak Padat Mengandung SPF, Praktis untuk Touch Up Sekaligus Lindungi Kulit dari Matahari
Pilihan
-
Lucky Hakim Dinobatkan Sebagai Bupati Terbaik, Wakilnya Malah Jadi Tersangka
-
Dasco Pagi-pagi Kumpulkan Menkeu Purbaya dan Gubernur BI di DPR, Evaluasi Ekonomi
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
Terkini
-
Cegah Kebocoran Cukai, Purbaya Siapkan Mesin Canggih Pendeteksi Produksi Rokok
-
Stok Minyak Dunia Menipis, OPEC+ Mau Tambah Produksi: Harga Siap Melonjak?
-
BTN Sukses Tekan Rasio Kredit Bermasalah, Transformasi Loan Factory Perkuat Kualitas Kredit Baru
-
Berawal dari Keterbatasan, Kini Omzet UMKM Ini Meroket Berlipat
-
Transaksi Syariah Bank Mega Syariah Melonjak 89 Persen, Ini Pendorongnya
-
Purbaya Targetkan Penerimaan Pajak Tumbuh 20,5 Persen di 2026
-
Purbaya Bingung Ekonomi RI Dibilang Masuk Masa Resesi
-
8 Pinjol Masuk Pengawasan Khusus, Izin Usaha Terancam Dicabut
-
Analis: Isu Pergantian Gubernur BI Picu Kekhawatiran Investor Global, Risikonya Besar
-
Isu Reshuffle Menkeu-Gubernur BI, INDEF Ingatkan Risiko Ekonomi RI Terguncang