Bisnis / Ekopol
Rabu, 29 April 2026 | 12:08 WIB
Ilustrasi bendera Uni Emirat Arab
Baca 10 detik
  • Uni Emirat Arab resmi mengundurkan diri dari keanggotaan OPEC mulai tanggal 1 Mei 2026 demi meningkatkan kapasitas produksi minyak.
  • Keputusan tersebut melemahkan kendali OPEC atas pasokan global serta memperuncing rivalitas geopolitik antara Abu Dhabi dan Arab Saudi.
  • Kondisi geopolitik di Selat Hormuz akibat konflik Iran membatasi dampak instan pengunduran diri ini terhadap harga minyak dunia.

Suara.com - Uni Emirat Arab (UEA) secara mengejutkan mengumumkan pengunduran diri dari keanggotaan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Selasa (28/4/2026).

Keputusan salah satu produsen minyak terbesar dunia ini menjadi pukulan telak bagi kartel tersebut, di tengah krisis energi global yang dipicu oleh eskalasi perang Iran yang semakin memperuncing perselisihan di antara negara-negara Teluk.

Langkah UEA ini dipandang akan melemahkan kendali OPEC terhadap pasokan minyak global dan memperlebar jurang rivalitas antara Abu Dhabi dengan tetangganya, Arab Saudi, yang selama ini menjadi pemimpin de facto organisasi tersebut.

Keluarnya UEA dari OPEC memberikan keleluasaan bagi negara tersebut untuk meningkatkan kapasitas produksi tanpa lagi terikat oleh sistem kuota.

Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei, menegaskan bahwa keputusan ini diambil setelah melakukan peninjauan mendalam terhadap strategi energi nasional jangka panjang.

"Ini adalah keputusan kebijakan yang diambil setelah mempertimbangkan secara saksama kebijakan produksi saat ini dan masa depan," ujar Mazrouei dalam wawancara telepon dengan Reuters.

Ia juga menambahkan bahwa keputusan yang akan berlaku mulai 1 Mei 2026 ini merupakan kebijakan mandiri yang tidak didiskusikan dengan negara lain sebelumnya.

Dampak Pasar dan Kendala Selat Hormuz

Pasar minyak internasional merespons pengumuman ini dengan sedikit koreksi harga. Namun, Mazrouei memprediksi dampak pasar tidak akan terjadi secara instan mengingat adanya kendala distribusi di Selat Hormuz.

Baca Juga: Apa itu UNCLOS? Hukum Internasional yang Menjadi Sorotan di Tengah Perang AS - Iran

Konflik di Selat Hormuz—jalur krusial bagi seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia—telah menghambat pengiriman ekspor produsen Teluk akibat ancaman serangan Iran.

Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan pangsa pasar global OPEC+ telah menyusut menjadi 44% pada Maret, turun dari 48% di bulan Februari. Angka ini diperkirakan akan terus merosot pada Mei mendatang seiring keluarnya UEA sebagai produsen terbesar keempat di kelompok tersebut.

Pengunduran diri UEA ini dianggap sebagai kemenangan diplomatik bagi Presiden AS, Donald Trump. Dalam berbagai kesempatan, Trump konsisten menuduh OPEC telah "memeras dunia" dengan menjaga harga minyak tetap tinggi.

Trump bahkan secara terbuka mengaitkan dukungan militer AS di kawasan Teluk dengan stabilitas harga minyak yang terjangkau.

Analis ekonomi melihat langkah UEA sebagai peluang positif bagi konsumen dan ekonomi global jangka panjang. "Ini membuka pintu bagi UEA untuk merebut pangsa pasar global saat situasi geopolitik mulai normal kembali," ujar Monica Malik, kepala ekonom di ADCB.

Rivalitas Abu Dhabi dan Riyadh yang Meruncing

Load More