Bisnis / Keuangan
Selasa, 19 Mei 2026 | 11:55 WIB
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad secara mendadak mendatangi Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (19/5/2026).
Baca 10 detik
  • Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengunjungi gedung Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 19 Mei 2026.
  • Kunjungan dilakukan saat IHSG melemah ke level 6.576 di tengah tren penurunan pasar modal global.
  • Pemerintah memantau kondisi pasar untuk memberikan sinyal stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan sentimen internasional.

Pelemahan pada hari Selasa ini merupakan kelanjutan dari hantaman keras yang terjadi pada Senin (18/5/2026).

Saat itu, indeks terkoreksi sangat dalam, yakni sebesar 1,85 persen atau kehilangan 124,07 poin hingga terlempar ke level 6.599,24.

Data RTI Business mencatat, sebanyak 616 saham parkir di zona merah pada penutupan Senin, dengan nilai transaksi mencapai Rp20,70 triliun dan kapitalisasi pasar yang menyusut ke angka Rp11.562,86 triliun.

Kondisi ini menempatkan IHSG pada posisi yang cukup rentan jika dibandingkan dengan bursa regional.

Sebagai perbandingan, pada periode yang sama, Singapore Straits Times Index (STI) justru mampu mencatat penguatan tipis 0,15 persen ke level 4.996,75.

Sementara itu, bursa China (SSE Composite) dan Jepang (Nikkei 225) masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 0,09 persen dan 0,97 persen.

Analisis Bursa: Akumulasi Sentimen Global

Menanggapi fluktuasi yang terjadi, Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, memberikan penjelasan mengenai faktor-faktor yang menekan pasar domestik.

Menurutnya, penurunan tajam ini merupakan dampak dari akumulasi berbagai sentimen global yang terjadi saat bursa Indonesia sedang libur.

Baca Juga: BBRI Tebar Kabar Baik saat IHSG Loyo, Saham Menguat Usai Diborong Asing

“Bila diakumulasikan koreksi dua hari terakhir pada pasar global Asia, yakni sewaktu kita libur, ditambah ada sedikit koreksi hari ini, memang sama dengan penurunan yang terjadi saat ini. Karenanya, masih inline dalam tren pasar global," kata dia.

Jeffrey juga menepis kekhawatiran berlebihan dari para investor ritel, yang menyamakan kondisi saat ini dengan era pandemi.

Ia menegaskan, struktur pasar modal Indonesia saat ini telah jauh lebih mapan dan kuat. Hal ini dibuktikan dengan basis investor domestik yang telah mencapai angka 27 juta investor.

Meski ada tantangan dari sisi fluktuasi harga komoditas, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, hingga tekanan nilai tukar rupiah, Jeffrey memastikan otoritas bursa menjaga integritas perdagangan agar tetap berjalan sesuai koridor regulasi.

“Kami tak pernah memprediksi angka indeks, tapi bisa dipastikan semua transaksi perdagangan berjalan teratur, efisien, serta wajar. Lalu, kami serahkan ke mekanisme pasar," kata Jeffrey.

Investor Diminta Tetap Tenang

Load More