Suara.com - Setiap hubungan dapat menjadi racun atau toxic, bahkan untuk hubungan orangtua dengan anaknya sekalipun. Sayangnya, hubungan jenis ini sangat sulit diputus, hingga pada akhirnya anak mereka yang menjadi korban.
Dalam situasi seperti ini, dan khususnya dengan orangtua yang toksik, menemukan cara yang efektif untuk mengelola hubungan demi menjaga kesehatan emosional anak adalah pertimbangan kritis.
Berdasarkan Psychology Today, berikut beberapa tanda umum dari orangtua beracun:
- Sangat reaktif negatif
Orang tua beracun memiliki emosi di luar kendali. Mereka cenderung mendramatisir masalah-masalah kecil. Bahkan, melihat celah kecil sebagai alasan untuk menyalahkan, marah, kasar secara verbal, atau destruktif.
- Kurang berempati
Orangtua beracun tidak dapat berempati dengan orang lain, termasuk sang anak. Mereka melihat segala sesuatunya adalah tentang mereka dan kebutuhan mereka.
Mereka juga gagal melihat apa yang mereka lakukan dapat mengganggu, berbahaya, atau menyakitkan bagi orang lain.
- Sangat mengendalikan
Baca Juga: FDA Tambah 50 Daftar Hand Sanitizer Beracun, Apa Saja?
Semakin beracun seseorang, semakin mereka ingin mengendalikan segala sesuatu dan semua orang di sekitarnya. Ini berarti mengasuh anak secara berlebihan dan membuat tuntutan yang tidak masuk akal, bahkan saat anak sudah dewasa.
- Sangat kritis
Orang tua yang beracun tidak dapat atau tidak akan melihat prestasi anak-anak mereka. Mereka terus-menerus merendahkan orang-orang di sekitarnya sambil menjadikan diri mereka luar biasa, berbakat, atau hebat.
- Suka menyalahkan
Ketidakharmonisan, ketidaksepakatan, permusuhan, dan gangguan keluarga yang disebabkan oleh orangtua toksik selalu dianggap kesalahan orang lain.
Orangtua seperti ini tidak dapat bertanggung jawab atas masalah apa pun, tetapi mereka menyalahkan anggota keluarga lainnya dan memelintir atau memanipulasi kondisi yang sebenarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi