Suara.com - Jumlah korban tewas akibat pertempuran yang terjadi di Benghazi, Libya, sepanjang akhir pekan bertambah menjadi 70 orang. Selain korban tewas, pertempuran itu juga mencederai 141 orang.
Bentrok senjata terjadi antara tentara yang setia kepada Jenderal Khalifa Hifter dengan pasukan milisi Islam. Menurut pemerintah Libya, pasukan Jenderal Khalifa bergerak tanpa persetujuan pemerintah.
Pemerintah bahkan menyebut gerakan yang dilakukan Jenderal Khalifa Hifter tak ubahnya sebuah kudeta. Namun hal itu juga menunjukkan ketidakmampuan pemerintah mengendalikan situasi negara pascatumbangnya diktator Muammar Khadafi tahun 2011 silam.
Dalam sebuah pernyataan bersama yang disampaikan hari Sabtu (17/5/2014), Perdana Menteri Libya sementara, juru bicara parlemen dan panglima militer Libya memperingatkan Hifter untuk tidak melanjutkan aksinya. Para petinggi negara itu juga meminta pasukan yang bergerak atas perintah Hifter untuk menurunkan senjata.
Mereka menuduh Hifter menggunakan kekerasan untuk tujuan pribadi atau berbalik melawan pemerintah. Sebaliknya, Hifter tetap bersikeras akan melanjutkan pertempuran di Benghazi untuk mengembalikan keamanan. Dirinya juga membantah aksinya disebut sebagai kudeta.
Untuk membatasi pergerakan Hifter, pemerintah menutup bandara Benghazi. Militer Libya juga memberlakukan larangan terbang bagi pesawat militer. Mereka mengancam akan menembak pesawat militer yang terbang di atas kota. (ABC News/ AP)
Berita Terkait
-
Jeffrey Epstein Minta Bantuan Israel untuk Caplok Aset dan Tambang Libya
-
Solidaritas Libya untuk Palestina: Unjuk Rasa Dukung Gaza Menggema di Tripoli
-
Ranking FIFA: Intip Sepak Bola Tiga Negara Afrika yang Berada di Atas Indonesia
-
WNI Aman dari Bentrokan Maut di Tripoli Libya: Kemlu: Tak Ada yang Jadi Korban
-
Lawan Usulan Trump, Libya Dorong Dana Rekonstruksi Gaza!
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Iran Mengamuk Siap Hukum Israel yang Nekat Bombardir Lebanon Saat Gencatan Senjata
-
Sidak BGN di Cimahi: Ada Dapur MBG yang Beroperasi Tanpa Pengawas Gizi
-
Misi Artemis II Hadapi Ujian Mematikan: Detik-Detik Menembus 'Neraka' Atmosfer Bumi
-
CELIOS: Ambisi Biofuel Bisa Korbankan Kedaulatan Pangan di Papua
-
Iran Bocorkan Rute Alternatif Selat Hormuz Anti Ranjau Laut
-
Sadis! Dokter di Hawaii Dorong Istri dari Tebing, Kesaksian Anak Jadi Kunci
-
Selat Hormuz vs Malaka: Mana yang Lebih Penting untuk Ekonomi Dunia?
-
Program Vokasi Nasional 2026 Resmi Bergulir, 10 Ribu Peserta Tahap I Mulai Pelatihan
-
Donald Trump Pertimbangkan Amerika Serikat Keluar dari NATO
-
Update Kondisi Medis Andrie Yunus, RSCM: Mata Bakal Ditutup 6 Bulan Demi Pemulihan Intensif