Sekjen Partai Golkar versi Munas Bali Idrus Marham, didampingi sejumlah petinggi partai menemui pimpinan DPR RI di Senayan, Jakarta, Kamis (2/4).(Suara.com/Kurniawan Mas'ud)
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Bidang Pemuda dan Olahraga Partai Golkar hasil Munas Jakarta, Melky Lakalena, mengatakan bahwa pihak Aburizal Bakrie (Ical) sudah melakukan rekayasa opini dan pembohongan publik.
Pasalnya menurutnya, pihak Ical selalu memainkan opini terkait adanya peserta Munas Ancol yang berasal dari Sumenep dan orangnya sudah meninggal. Artinya, tanda tangan yang ada dalam daftar hadir sebagai peserta dianggap ditandatangani oleh pihak Agung, tanpa diketahui pemilik nama. Atas rekayasa tersebut, Melky pun membantah, karena menurutnya tidak ada peserta yang berasal dari Sumenep dalam Munas Ancol.
"Kami sudah cek dokumen peserta di Munas Ancol, karena mereka bilang salah satu peserta di Ancol adalah dari Sumenep yang orangnya sudah meninggal. Kami cek, (ternyata) Sumenep nggak jadi peserta Munas. Jadi ini kan rekayasa macam apa lagi? Opini seolah-olah bahwa ada peserta di Munas Ancol yang jadi peserta tetapi sudah meninggal," kata Melky, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2015).
Melky pun mengaku sangat menyayangkan aksi rekayasa yang dilakukan oleh kubu Ical yang dinilainya sangat murahan. Namun menurutnya pula, hasil rekayasa tersebut akan berbalik menyerang kubu Ical sendiri. Hal itu dia anggap sudah terjadi pada kasus dua tersangka pemalsuan surat mandat Munas Ancol.
"Jadi yang kami bingung adalah, kalau mau rekayasa, rekayasa yang canggih sedikitlah. Kalau begini kan jadi ketahuan kalau ini menjadi bagian dari rekayasanya sendiri," jelas Melky.
Terkait bukti rekayasa tersebut, Melky mengaku sangat yakin, karena pihaknya memegang bukti yang cukup.
"Kalau tersangka yang pertama itu, informasinya kami akan buka, karena itu ada dalam rekaman suara sidang Mahkamah Partai. Untuk bukti, ada. Yang tersangka kedua dari Padeglang itu, ada informasi yang masuk. Nanti kita akan bawa bukti kepegawaian yang kami punya," tutupnya.
Pasalnya menurutnya, pihak Ical selalu memainkan opini terkait adanya peserta Munas Ancol yang berasal dari Sumenep dan orangnya sudah meninggal. Artinya, tanda tangan yang ada dalam daftar hadir sebagai peserta dianggap ditandatangani oleh pihak Agung, tanpa diketahui pemilik nama. Atas rekayasa tersebut, Melky pun membantah, karena menurutnya tidak ada peserta yang berasal dari Sumenep dalam Munas Ancol.
"Kami sudah cek dokumen peserta di Munas Ancol, karena mereka bilang salah satu peserta di Ancol adalah dari Sumenep yang orangnya sudah meninggal. Kami cek, (ternyata) Sumenep nggak jadi peserta Munas. Jadi ini kan rekayasa macam apa lagi? Opini seolah-olah bahwa ada peserta di Munas Ancol yang jadi peserta tetapi sudah meninggal," kata Melky, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2015).
Melky pun mengaku sangat menyayangkan aksi rekayasa yang dilakukan oleh kubu Ical yang dinilainya sangat murahan. Namun menurutnya pula, hasil rekayasa tersebut akan berbalik menyerang kubu Ical sendiri. Hal itu dia anggap sudah terjadi pada kasus dua tersangka pemalsuan surat mandat Munas Ancol.
"Jadi yang kami bingung adalah, kalau mau rekayasa, rekayasa yang canggih sedikitlah. Kalau begini kan jadi ketahuan kalau ini menjadi bagian dari rekayasanya sendiri," jelas Melky.
Terkait bukti rekayasa tersebut, Melky mengaku sangat yakin, karena pihaknya memegang bukti yang cukup.
"Kalau tersangka yang pertama itu, informasinya kami akan buka, karena itu ada dalam rekaman suara sidang Mahkamah Partai. Untuk bukti, ada. Yang tersangka kedua dari Padeglang itu, ada informasi yang masuk. Nanti kita akan bawa bukti kepegawaian yang kami punya," tutupnya.
Komentar
Berita Terkait
-
Bela Rudy Masud, Waketum Golkar: Beliau Pemimpin Low Profile dan Tidak Anti Dialog
-
Pusaran Korupsi Fadia Arafiq Seret Suami yang Anggota DPR dan Anak, Begini Respons Golkar
-
Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Terjaring OTT KPK, Begini Respons Resmi Golkar
-
Golkar Dukung Langkah Sufmi Dasco Tunda Impor 105 Ribu Mobil Niaga India
-
Golkar Target Menang Pemilu 2029, Kaderisasi Jadi Kunci Transformasi
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
Terkini
-
Diduga Ada Jual Beli, KPRP Usul Jalur Kuota Khusus di Rekrutmen Polri Dihapuskan
-
Tanggapi Reformasi Polri, Sahroni Usul Jabatan Polisi di Lembaga Sipil Dibatasi Maksimal 3 Tahun
-
Bobol 7 Gereja di Jateng, Pencuri Ini Keok Usai Jualan Hasil Curian di Medsos
-
Dukung Rekomendasi Reformasi Polri, Abdullah Tegaskan Polri Tetap di Bawah Presiden
-
Program SMK 4 Tahun dan SMK Go Global Mulai Berjalan, Ini Jurusan yang Jadi Prioritas
-
Sowan ke MUI, KSP Dudung Siap Lapor Aspirasi Ulama ke Presiden Prabowo
-
KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus DJKA ke Eks Menhub Budi Karya Sumadi
-
Sebar Propaganda Lewat Medsos, Densus 88 Tangkap 8 Terduga Teroris Jaringan JAD di Sulteng!
-
PRT Bakal Disertifikasi, Wamen PPPA Veronica Tan Siapkan Skema Pelatihan agar Hak Pekerja Terpenuhi
-
Aplikasi ShopeePay Perkenalkan Kampanye Terbaru Pasti Gratis Kirim Uang ke Bank dan E-Wallet