Suara.com - Tim Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia mengusulkan pemerintah menggunakan penerimaan dari cukai rokok untuk menutupi defisit anggaran Jaminan Kesehatan Nasional.
Tim Pusat kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan (PKEKK) Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany di Jakarta, Rabu, mengatakan dalam bidang kesehatan, program JKN sebenarnya masih menonjol dan menjadi tumpuan reformasi kesehatan, dan secara kuantitatif, program JKN telah berhasil melindungi lebih dari 155 juta penduduk Indonesia atau sekitar 60 persen penduduk.
Ia mengatakan JKN merupakan suatu sistem jaminan terbesar di dunia yang dikelola oleh satu badan. Oleh karenanya, Indonesia telah menjadi fokus perhatian dunia.
Secara nominal, diprediksi JKN telah mampu memobilisasi dana untuk program kesehatan yang dikelola BPJS Kesehatan mencapai Rp60 triliun. Namun demikian, secara faktual yang terlindungi melalui JKN belum mencapai jumlah peserta yang dilaporkan karena sebagian peserta penerima upah (PPU), khususnya kelas menengah atas, tidak menggunakan JKN karena persepsi layanan yang tidak baik.
Target cakupan PPU yang signifikan di 2015 tidak tercapai karena faktanya komposisi kepesertaan PPU hanya 25 persen saja dari 155 juta peserta JKN. Sedangkan Penerima Bantuan Iuran (PBI) Nasional, masih mendominasi dengan porsi 55 persen peserta JKN dan Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) yang relatif berisiko lebih tinggi mencapai 10 persen.
Karena itu, ia mengatakan mengotong biaya berobat PBPU yang mahal tersebut tentu tidak cukup memadai jika porsi PPU masih rendah. Dan apabila hal itu terus berlanjut, maka JKN di 2016 akan tetap defisit.
Lebih lanjut, ia mengatakan porsi biaya kesehatan yang dikelola oleh BPJS Kesehatan untuk melindungi 60 persen penduduk di 2015 diperkirakan hanya mencapai 20 persen dari total belanja kesehatan penduduk Indonesia. Artinya, tingkat perlindungan hanyalah 20 persen dibagi 60 persen.
Angka tersebut seperti tiga saja dari belanja kesehatan yang secara internasional masih rendah, karena diperkirakan belanja kesehatan per kapita per peserta dalam JKN di 2015 hanya mencapai Rp30.000 hingga Rp35.000. Sementara belanja kesehatan seluruh rakyat Indonesia di 2015 diperkirakan mencapai Rp120.000 hingga Rp130.000.
Belanja tersebut, lanjutnya, jauh lebih rendah dari belanja kesehatan penduduk Thailand dan Malaysia yang diperkirakan mencapai Rp450.000 hingga Rp700.000 per kapita di 2015. Karenanya hangan heran jika kualitas layanan kesehatan di Indonesia masih jelek.
Oleh karena itu, ia mengatakan perlu mobilisasi dana lebih besar lagi, salah satu solusi yang realistis dan mudah adalah dari cukai rokok untuk menutup defisit JKN yang akan terus naik tetapi mutu layanan belum akan naik secara signifikan di tahun 2016. (Antara)
Berita Terkait
-
Tio Pakusadewo Dirawat di RS Pakai BPJS Kelas 3, Dewi Irawan Inisiatif Buka Donasi
-
Jemaah Haji dari Tuban Ini Berbagi: Pentingnya JKN untuk Perjalanan Ibadah yang Tenang
-
BPJS Ketenagakerjaan dan Telkomsel Perkuat Coverage Pekerja Informal melalui Jamsostek Poin"
-
Gubernur Bobby Nasution Targetkan RS Internasional Sumut Beri Layanan Medis Kelas Dunia
-
PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
- 3 HP Murah Samsung Terlaris Global Q1 2026: Mulai Sejutaan, Kamera Sudah OIS
Pilihan
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
Terkini
-
Siap Bahas Revisi UU Pemilu, Komisi II DPR Bakal Safari Minta Masukan Partai Politik
-
AJI dan PBHI Soroti Batalyon Teritorial Pembangunan: Demokrasi Dipersempit, Pers Terancam Dibungkam
-
Istana Jadwalkan Pelantikan Pimpinan BGN Nanik S Deyang Dkk Pekan Depan
-
Prasetyo Hadi Ungkap Alasan Prabowo Pilih Nanik S Deyang Pimpin BGN
-
Roman Politik di Balik Harlah Pancasila, Kenapa Jokowi Tak Diundang?
-
Konflik Lahan Rumpin vs TNI AU Belum Tuntas, Warga Kembali Mengadu di Aksi Kamisan
-
Said Iqbal Dikabarkan Masuk Kabinet Prabowo, Tinggal Tunggu Pelantikan?
-
KPK Bongkar Transaksi Aneh Anak Buah Silmy Karim: Bayar Rumah Mewah Pakai Kepingan Emas
-
Modus Licin Staf Imigrasi, Pakai Rekening OB dan Cleaning Service Buat Tampung Duit Suap Izin WNA
-
Kejagung Diminta Usut Tuntas Korupsi MBG Dadan Cs dan Dugaan Monopoli Dapur